1.1 Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan tejemahan dari “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiyah istilah “guidance” dari akar kata “guide” berarti: mengarahkan  (to direct), memandu (to pilot), mengelola (to manage) dan menyetir (to steer).  Secara termilogis “guidance” biasanya disamaartikan dengan “guiding” , kemudian memiliki konotasi makna “showing a way” (menunjukkan jalan), “leading” (memimpin), “conducting” (menuntun), “giving instructions” (memberikan petunjuk), “regulating” (mengatur), “governing”(mengarahkan) dan “giving advice” (memberikan nasehat).
Banyak pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, di antaranya sebagai berikut:
Menurut  Donal  G.  Mortensen  dan  Alan M.  Schmuller (1976)  bahwa  bimbingan adalah  suatu upaya  pembimbing  untuk  membantu  mengoptimalkan individu.
Djumhur  dan  Moh.  Surya (1975) mengatakan  bahwa  bimbingan  adalah  suatu proses pemberian  bantuan  yang  terus  menerus dan  sistematis  kepada  individu  dalam memecahkan  masalah  yang  dihadapinya,  agar tercapai  kemampuan  untuk  dapat  memahami dirinya,  kemampuan  untuk  menerima  dirinya, kemampuan  untuk  mengarahkan  dirinya,  dan kemampuan  untuk  merealisasikan  dirinya  sesuai dengan  potensi  atau  kemampuannya  dalam  mencapai penyesuaian  diri  dengan  lingkungan,  baik keluarga,  sekolah  dan  masyarakat.
Shertzer  dan  Stone (1971)  mengartikan bimbingan  sebagai  proses  pemberian  bantuan kepada  individu  agar  mampu  memahami  diri dan  lingkungan.
Sunaryo  Kartadinata (1998)  mengatakan  bahwa bimbingan  adalah  proses  membantu  individu  untuk mencapai  perkembangan  optimal.
Rochman  Natawidjaja (1978) berpendapat  bahwa  bimbingan  adalah  Suatu proses  pemberian  bantuan  kepada  individu yang  dilakukan  secara  berkesinambungan,  supaya individu  tersebut  dapat  memahami  dirinya, sehingga  ia  sanggup  mengarahkan  dirinya  dan dapat  bertindak  secara  wajar,  sesuai  dengan tuntutan  dan  keadaan  lingkungan  sekolah, keluarga,  masyarakat,  dan  kehidupan  pada  umumnya.



Dari banyak pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah suatu proses memberikan bantuan kepada individu secara terus menerus dan sistematis untuk mengarahkan individu agar dapat mencapai perkembangan yang optimal.
Dan dari berbagai definisi bimbingan dapat diangkat makna sebagai berikut:
1.      Bimbingan merupakan suatu proses,
yaitu berkesinambungan, bukan kegiatan yang instan, seketika atau kebetulan. Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan.
2.      Bimbingan merupakan “helping”, yang identik dengan “aiding”, “assisting”, atau “availing”, yang berarti bantuan atau pertolongan. Makna bantuan dalam bimbingan menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah individu atau peserta didik sendiri peran guru disini hanya sebagai fasilitator. Istilah bantuan dalam bimbingan dapat juga dimaknai sebagai upaya untuk :
a.       Menciptakan lingkungan (fisik, psikis, sosial dan spiritual) yang kondusif bagi perkembangan siswa.
b.      Memberikan dorongan dan semangat.
c.       Mengembangkan keberanian bertindak dan bertanggung jawab.
d.      Mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki dan mengubah perilakunya sendiri.
Dalam bimbingan, tidak ada teknik pemberian bantuan yang berlaku umum bagi setiap individu. Teknik bantuan seyogianya disesuaikan dengan pengalaman, kebutuhan, dan masalah individu. Untuk membimbinng individu diperlukan pemahaman yang komperhensif tentang karakteristik, kebutuhan atau masalah individu.
3.      Tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal, yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar. Perkembangan optimal merupakan suatu kondisi dinamik, dimana individu:
a.       Mampu mengenal dan memahami diri
b.      Berani menerima kenyataan diri secara objektif
c.       Mengarahkan diri sesuai kemampuan, kesempatan dan sistem nilai
d.      Melakukan pilihan dan mengambil keputusan atau tanggung jawab sendiri.

Di atas telah dikemukakan makna bimbingan. Istilah bimbingan sering dirangkai dengan konseling. Berikut ini definisi konseling menurut para ahli:
Menurut  Cavanagh (1974)  bahwa  koseling  adalah hubungan  antara  seorang  penolong  yang terlatih  dan  seseorang  yang  mencari pertolongan,  dimana  keterampilan  sipenolong  dan situasi  yang  diciptakan  olehnya  menolong orang  untuk belajar berhubungan  dengan  dirinya sendiri  dan  orang  lain  dengan terobosan-terobosan  yang  semakin  bertumbuh.
Mc.  Daniel (1956)  mengartikan  konseling merupakan  suatu  pertemuan  langsung  dengan individu  yang  ditujukan  pada  pemberian  bantuan kepadanya  untuk  dapat  menyesuaikan  dirinya secara  lebih  efektif  dengan  dirinya  sendiri dan  lingkungan.
Berdnard  dan  Fullmer (1969)  berpendapat  bahwa konseling  yaitu  meliputi  pemahaman  dan hubungan  individu  untuk  mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,  motivasi,  dan  potensi-potensi yang  unik  dari  individu  dan  membantu individu  yang  bersangkutan  untuk  mengapresiasikan ketiga  hal  tersebut.
Robinson (M. Surya dan Rochman N.,1986:25) mengartikan konseling adalah “semua bentuk hubungan dua orang, dimana yang seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu menyesuaikan diri secara efektif terhadap dirinya sendiri  dan lingkungannya.”
ASCA (American School Counselor Association) mengemukakan bahwa “Konseling adalah hubungan tatap muka yan bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya.”
Lebih jauh, Pietrofesa dan kawan-kawan (1980:75) menunjukan sejumlah ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut:
a.       Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan oleh seorang
konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya itu.
b.      Dalam hubungan yang bersifat profesional itu, klien mempelajari keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah serta tingkah lau atau sikap-sikap baru.
c.       Hubungan profesional itu dibentuk berdasarkan kesukarelaan antara klien dan konselor.
Adanya perbedaan definisi konseling tersebut, disamping timbul karena perkembangan ilmu konseling itu sendiri, juga disebabkan oleh perbedaan pandangan para ahli yang merumuskan konseling dan teori yang dianutnya. Dalam bidang konseling terdapat berbagai aliran dan teori, yang dapat dikelompokan ke dalam beberapa kategori. Moh. Djawad Dahlan (1986) mengklasifikasikan konseling berdasarkan fungsinya menjadi tiga kelompok, yaitu suportif, reedukatif, dan rekonstruktif. Konseling juga dibedakan berdasarkan metodenya, yaitu metode direktif dan nondirektif.
Osipow, Walsh dan Tosi (1980) mengelompokkan konseling berdasarkan penekanan masalah yang dipecahkanny, yaitu: penyesuaian pribadi, pendidikan, dan karir. Shertzer dan Stone (1980) mengelompokkan konseling didasarkan pada ranah perilaku yang merupakan kepeduliannya, yaitu yang berorientasi pada ranah kognitif dan ranah afektif. Patterson (1966) secara lebih rinci mengelompokkan pendekatan konseling menjadi lima kelompok, yaitu: pendekatan rasional, teori belajar, psikoanalitik, perseptual-fenomenologis dan eksistensial.
Dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan hubungan tatap muka atau pertemuan secara langsung antara konselor dan klien yang bersifat rahasia dengan tujuan membimbing klien agar berkembang secara optimal dan solusinya ditentukan sendiri oleh klien.
Ciri-ciri pokok konseling yaitu sebagai berikut :
1. Konseling dilakukan oleh seorang konselor yang mempunyai kemampuan secara profesional dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan keputusan-keputusan pribadi, sosial, karier, dan pendidikan serta memahami proses-proses psikis maupun dinamika perilaku pada diri klien.
2. Konseling melibatkan interaksi dan komunikasi antara dua orang yaitu konselor dan klien baik secara langsung (bahasa verbal) maupun secara tidak langsung (non verbal).
3. Tujuan dari hubungan konseling ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada diri klien sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh klien. Konselor berupaya memfasilitasi dan memberikan dukungan, bersama klien membuat alternatif-alternatif pemecahan masalah demi perubahan kearah lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam konseling.
4. Konseling merupakan proses yang dinamis, dimana individu (klien dibantu untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya dalam mengatasi masalah-masalah yang sedang dihadapi.
5. Konseling merupakan suatu proses belajar terutama bagi klien untuk mengembangkan perilaku baru dan membuat pilihan, keputusan sendiri (autonomous) kearah perubahan yang dikehendakinya.
6. Adanya suatu hubungan yang saling menghargai dan menghormati sehingga timbul saling kepercayaan, dengan kata lain konselor menjamin kerahasiaan klien.
Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu. Makna bantuan disini yaitu sebagai upaya untuk mebantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya. Tugas konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan klien.
Hubungan dalam konseling bersifat interpersonal. Terjadi dalam bentuk wawancara secara tatap muka antara konselor dan klien. Hubungan itu, melainkan melibatkan semua unsur kepribadian yang meliputi: pikiran, perasaan, pengalaman, nilai-nilai, kebutuhan, harapan, dan lain-lain. Dalam proses kedua belah pihak hendaknya menunjukkan kepribadian yang asli. Hal ini dimungkinkan karena konseling itu dilakukan secara pribadi dan hendaknya dalam suasana rahasia.
Keefektifan konseling sebagian besar ditentukan oleh kualitas hubungan antara konselor dengan kliennya. Dilihat dari segi konselor, kualitas hubungan itu bergantung pada  dalam menerapkan teknik-teknik konseling dan kualitas pribadinya.
Dari seluruh pengertian konseling yang ada, Shertzer dan Stone (1980:82-88) menyimpulkan bahwa yang menjadi tujuan konseling adalah “mengadakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan.”
Khusus di sekolah, Boy dan Pine (Depdikbud, 1983:14) menyatakan bahwa tujuan konseling adalah membantu siswa yang lebih matang dan lebih mengaktualisasikan dirinya, membantu siswa maju dengan cara yang positif, membantu dalam sosialisasi siswa dengan memanfaatkan sumber-sumber dan potensinya sendiri. Persepsi dan wawasan siswa berubah, dan akibat dari wawasan baru yang diperoleh, maka timbullah pada diri siswa reorientasi positif terhadap kepribadian dan kehidupannya. Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif. Jika hal ini tercapai, maka individu mencapai integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif dengan yang lainnya. Ia belajar menerima tanggung jawab, berdiri sendiri, dan memperoleh integrasi perilaku.
Mencapai keefektifan pribadi. Sehubungan dengan ini Blocher mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pribadi yang efektif adalah pribadi yang sanggup memperhitungkan diri, waktu dan tenaganya serta bersedia memikul resiko-resiko ekonomis, psikologis dan fisik. Ia tampak memiliki kemampuan untuk mengenal, mendefinisikan dan memecahkan masalah-masalah. Ia tampak konsisten terhadap dan dalam situasi peranannya yang khas. Ia tampak sanggup berpikir secara berbeda dan orisinil, yaitu dengan cara-cara yang kreatif. Ia juga sanggup mengontrol dorongan-dorongan dan memberikan respons-respons yang wajar terhadap frustrasi, permusuhan, dan ambiguitas.
Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya. Jelas disini bahwa pekerjaan konselor bukan menentukan keputusan yang harus diambil oleh klien atau memilih alternatif dari tindakannya. Keputusan-keputusannya ada pada diri klien sendiri, dan ia harus tahu mengapa dan bagaimana ia melakukannya. Oleh sebab itu klien harus belajar mengestimasi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi dalam pengorbanan pribadi, waktu, tenaga, uang, resiko dan sebagainya. Individu belajar memperhatikan nilai-nilai dan ikut mempertimbangkan yang dianutnya secara sadar dalam pengambilan keputusan.
2.2 Posisi Pengembangan Diri
Dalam Bimbingan dan Konseling Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa:
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konsel untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap konseli sesuai kondisi sekolah. Keguatan pengembangan diri difasilitasi oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk ekstrakulikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan social, belajar, dan pengembangan karier konseli.
Ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal, sehingga dapat dihindari kerancuan konteks tugas dan ekspeksi kinerja konselor.
1.                  Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran, mengandung arti bahwa bentuk, rancangan, dan metode pengembangan diri tidakdilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti pembelajaran mata pelajaran.
2.                  Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kulikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan Pembina khusus sesuai dengan keahliannya.
Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Pengembanagn diri hanya merupakan sebagian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan.
2.3  Fungsi Bimbingan dan Konseling Pelayanan
Bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi dan asas yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah:
1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.
2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseling.
Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
3. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out dan pergaulan bebas (free sex)
4. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.
5. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapa digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.
6. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di lua lembaga pendidikan.
7. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseling.
8. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
9. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untu membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.
10. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
11. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.
2.4 Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling
Terdapat beberapa prinsip dasar  yang dipandang sebagai fundasi atay landasan bagi pelayanan bimbingan.
prinsip-prinsip itu adalah :
1. Bimbingan dan konseling diperuntukan bagi semua konseli. prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah, baik pria maupun wanita, baik anak-anak,remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif), dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan.
2.Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.
3. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki presepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekankan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangfan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang.
4. Bimbingan dan konseling merupakan usaha bersama. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala sekolah atau madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Mereka bekerja sebagai team work.
5. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasehat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk mempertimbangkannya, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat.
6. Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting kehidupan. Pemberikan pelayanan tidak hanya berlangsung di sekolah atau madrasah, tetapi juga dilingkungan keluarga,perusahaan, atau industri, lembaga pemerintahan atau swasta, dan masyarakat pada umumnya.















PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bimbingan adalah sebuah proses yang panjang dan bersifat kontinuitas untuk dapat mengarahkan peserta didik agar berkembang secara optimal. Sedangkan Konseling adalah hubungan tatap muka atau interaksi langsung yang bersifat rahasia dengan tujuan membimbing peserta didik agar berkembang secara optimal. Bantuan yang diberikan guru pembimbing ditujukan agar peserta didik mandiri dan berkembang secara optimal, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya, Dan nilai-nilai/norma-norma yang berlaku. Kemandirian siswa diantaranya ditunjukkan melalui kemampuannya memahami dirinya sendiri, seperti memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, memahami bakat dan minatnya serta memahami ciri-ciri kepribadiannya.
Dalam konteks pendidikan, seluruh peserta didik, mulai dari jenjang yang paling rendah hingga pendidikan tertinggi, perlu mendapat bimbingan dan konseling. Bagi yang cerdas diarahkan sebagai upaya akselerasi. Untuk yang berkemampuan rata-rata dimaksudkan sebagai upaya pengembangan. Sedangkan bagi peserta didik yang kemampuan akademiknya tergolong di bawah rata-rata, bimbingan diberikan sebagai perbaikan (kuratif). Dalam pelaksanaannya, bimbingan dan konseling menerapkan beberapa jenis layanan, yaitu: bimbingan pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan karier yang dapat berlangsung baik dalam setting keluarga, sekolah, industri maupun dalam masyarakat. Dari bimbingan tersebut diharapkan peserta didik dapat lebih mengeksplorasi dan mengaktualisasikan potensi dirinya dengan maksimal.
Pada pelaksanaannya, untuk mewujudkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang efektif dan optimal, sehingga mewujudkan  tercapainya standar kemampuan akademis dan tugas-tugas perkembangan peserta didik, perlu adanya kerja sama yang harmonis antara para pengelola/manajemen pendidikan, pengajaran, dan bimbingan, sebab ketiganya merupakan bidang-bidang utama dalam pencapaian tujuan pendidikan.






Post a Comment

 
Top