I.                  Urgensi Bimbingan dan Konseling

Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan tejemahan dari “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiyah istilah “guidance” dari akar kata “guide” berarti: mengarahkan  (to direct), memandu (to pilot), mengelola (to manage) dan menyetir (to steer).  Secara termilogis “guidance” biasanya disamaartikan dengan “guiding” , kemudian memiliki konotasi makna “showing a way” (menunjukkan jalan), “leading” (memimpin), “conducting” (menuntun), “giving instructions” (memberikan petunjuk), “regulating” (mengatur), “governing”(mengarahkan) dan “giving advice” (memberikan nasehat).

Banyak pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, di antaranya sebagai berikut:
Menurut  Donal  G.  Mortensen  dan  Alan M.  Schmuller (1976)  bahwa  bimbingan adalah  suatu upaya  pembimbing  untuk  membantu  mengoptimalkan individu.

Djumhur  dan  Moh.  Surya (1975) mengatakan  bahwa  bimbingan  adalah  suatu proses pemberian  bantuan  yang  terus  menerus dan  sistematis  kepada  individu  dalam memecahkan  masalah  yang  dihadapinya,  agar tercapai  kemampuan  untuk  dapat  memahami dirinya,  kemampuan  untuk  menerima  dirinya, kemampuan  untuk  mengarahkan  dirinya,  dan kemampuan  untuk  merealisasikan  dirinya  sesuai dengan  potensi  atau  kemampuannya  dalam  mencapai penyesuaian  diri  dengan  lingkungan,  baik keluarga,  sekolah  dan  masyarakat.

Shertzer  dan  Stone (1971)  mengartikan bimbingan  sebagai  proses  pemberian  bantuan kepada  individu  agar  mampu  memahami  diri dan  lingkungan.
Sunaryo  Kartadinata (1998)  mengatakan  bahwa bimbingan  adalah  proses  membantu  individu  untuk mencapai  perkembangan  optimal.

Rochman  Natawidjaja (1978) berpendapat  bahwa  bimbingan  adalah  Suatu proses  pemberian  bantuan  kepada  individu yang  dilakukan  secara  berkesinambungan,  supaya individu  tersebut  dapat  memahami  dirinya, sehingga  ia  sanggup  mengarahkan  dirinya  dan dapat  bertindak  secara  wajar,  sesuai  dengan tuntutan  dan  keadaan  lingkungan  sekolah, keluarga,  masyarakat,  dan  kehidupan  pada  umumnya.



II.                  Fungsi Bimbingan dan Konseling Pelayanan

Bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi dan asas yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah:

1. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

2. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseling.
Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.

3. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out dan pergaulan bebas (free sex).

4. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.

5. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapa digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.

6. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di lua lembaga pendidikan.

7. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseling.

8. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

9. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untu membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

10. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

11. Fungsi Pemeliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseling.


III.           Asas Bimbingan dan Konseling

Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut :

1.      Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang konseli yang menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar terjamin.

2.      Asas Kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli mengikuti/ menjalani pelayanan/ kegiatan yang diperlukan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.

3.      Asas Keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya
.
Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.

4.      Asas Kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/ kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukkan baginya.

5.      Asas Kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan da konseling, yakni: konseli sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahka serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendakanya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseling.

6.      Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannnya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.

7.      Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan yang sama hendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan teus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan dari waktu ke waktu.

8.      Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan  bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk itu kerja sama antara guru pembimbing danpihak-pihak yang berperan dalam penyelanggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/ kegiatanbimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

9.      Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingandan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatanbimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengannilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan norma agama, hukum, dan peraturan, adat dan istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksud itu. Lebih jauh, pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseling
memahami,menghayati, dan mengamalkan niai dan norma tersebut.

10.  Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselanggarakan atas dasar kaidah-kaidah professional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaknya tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.Keprofesionalan guru pembimbing harus tewujud baik dalam penyelanggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

11.  Asas alih tangan kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidakmampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dantuntas atas suatu permasalahan konseli mengalihtangankan permasalahan itukepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbig dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain; dan demikian pula gurupembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.

12.  Asas Tut Wuri Handayani, Asas ini menunjukan pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara pembimbing dan yang dibimbing. Lebih-lebih di lingkungan sekolah, asas ini makin dirasakan manfaatnya, dan bahkan perlu dilengkapi dengan “ing ngarsa sung tulada, ing madyamangun karsa”. Asas ini menuntut agar layanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan adanya pada waktu siswa mengalami masalah dan menghadappembimbing saja, namun di luar    hubungan kerja kepembimbigan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan manfaatnya. 

IV.             Pengertian dan Perbedaan Antara Konseling Dengan Psikoterapi

A.    Pengertian Konseling
1.    Menurut Schertzer dan Stone (1980)
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.

2.    Menurut Jones (1951)
Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam pemecahan untuk lkien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.

3.    Prayitno dan Erman Amti (2004:105)
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

4.    Menurut A.C. English dalam Shertzer & Stone (1974)
Konseling merupakan proses dalam mana konselor membantu konseli (klien) membuat interprestasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengan pilihan, rencana, atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuatnya.
5.    Menurut APGA (American Personel Guidance Association) dalam Prayitno (1987 : 25)
Konseling adalah hubungan antara seorang individu yang memerlukan bantuan untuk mengatasi kecemasannya yang masih bersifat normal atau konflik atau masalah pengambilan keputusan.
Menurut Galdding, konseling berlangsung dalam jangka waktu yang relative singkat,bersifat antar pribadi, sesuai dengan teori-teori yang ada, dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya serta sesuai dengan etika dan aturan-aturan yang ada yang berpusat pada pemberian bantuan kepada orang-orang yang pada dasarnya mengalami gangguan psikologis agar orang-orang yang menyimpang dan mengalami masalah situsional dapat kembali normal.

B.  Psikoterapi
Psikoterapi adalah usaha penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan perilaku. Psikoterapi (Psychotherapy) berasal dari dua kata, yaitu "Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan "Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan. Oleh karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental, atau terapi pikiran.

Psikoterapi adalah proses difokuskan untuk membantu Anda menyembuhkan dan konstruktif belajar lebih banyak bagaimana cara untuk menangani masalah atau isu-isu dalam kehidupan Anda. Hal ini juga dapat menjadi proses yang mendukung ketika akan melalui periode yang sulit atau stres meningkat, seperti memulai karier baru atau akan mengalami perceraian (hariyanto, 2010).

C.  Perbedaan Antara Konseling Dengan Psikoterapi
Apabila kita tinjau dari definisi kedua permbahasan tersebut konseling Menurut Schertzer dan Stone (1980) Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.

Sedangkan psikoterapi menurut Wolberg (1967 dalam Phares dan Trull 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.

Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepat dan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya.

Sedangkan psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya emosional dan juga lebih dapat diandalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian ke arah yang positif.
Perbedaan konseling dan psikoterapi didefinisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut.



PENUTUP
Kesimpulan
Bimbingan adalah sebuah proses yang panjang dan bersifat kontinuitas untuk dapat mengarahkan peserta didik agar berkembang secara optimal. Sedangkan Konseling adalah hubungan tatap muka atau interaksi langsung yang bersifat rahasia dengan tujuan membimbing peserta didik agar berkembang secara optimal. Bantuan yang diberikan guru pembimbing ditujukan agar peserta didik mandiri dan berkembang secara optimal, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya, Dan nilai-nilai/norma-norma yang berlaku. Kemandirian siswa diantaranya ditunjukkan melalui kemampuannya memahami dirinya sendiri, seperti memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, memahami bakat dan minatnya serta memahami ciri-ciri kepribadiannya.
Dalam konteks pendidikan, seluruh peserta didik, mulai dari jenjang yang paling rendah hingga pendidikan tertinggi, perlu mendapat bimbingan dan konseling. Bagi yang cerdas diarahkan sebagai upaya akselerasi. Untuk yang berkemampuan rata-rata dimaksudkan sebagai upaya pengembangan. Sedangkan bagi peserta didik yang kemampuan akademiknya tergolong di bawah rata-rata, bimbingan diberikan sebagai perbaikan (kuratif). Dalam pelaksanaannya, bimbingan dan konseling menerapkan beberapa jenis layanan, yaitu: bimbingan pribadi, bimbingan belajar, bimbingan sosial, dan bimbingan karier yang dapat berlangsung baik dalam setting keluarga, sekolah, industri maupun dalam masyarakat. Dari bimbingan tersebut diharapkan peserta didik dapat lebih mengeksplorasi dan mengaktualisasikan potensi dirinya dengan maksimal.
Pada pelaksanaannya, untuk mewujudkan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang efektif dan optimal, sehingga mewujudkan  tercapainya standar kemampuan akademis dan tugas-tugas perkembangan peserta didik, perlu adanya kerja sama yang harmonis antara para pengelola/manajemen pendidikan, pengajaran, dan bimbingan, sebab ketiganya merupakan bidang-bidang utama dalam pencapaian tujuan pendidikan.






Post a Comment

 
Top