PUTRI ELSA REFNESIA/17A/PIS

1.   Pengertian Perang Saudara
Perang Saudara di Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 1861 – 1865 di dalam lembaran sejarah Amerika Serikat yang lebih dikenal dengan istilah The Civil War. Istilah ini jika diterjemahkan secara harfiah adalah Perang Warga Negara 1861 – 1865, namun seringkali diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia menjadi Perang Saudara 1861 – 1865 atau Perang Budak 1861 – 1865. The Civil War 1861 – 1865 diartikan sebagai Perang Warga Negara antara bangsa atau warga negara yang tinggal di 11 negara bagian yang berada di wilayah selatan yang memproklamasikan dirinya sebagai negara konfederasi dibawah  pimpinan Presiden Jefferson David berhadapan dengan warga negara yang berdiam di 23 negara bagian yang berada di wilayah utara dengan menyebut dirinya sebagai pihak Union di bawah pimpinan Presiden Abraham Lincoln. The Civil War juga sering disebut dengan Perang Saudara, karena sebenarnya peperangan ini terjadi antara sesama warga negara Amerika yang sebelum perang meletus sama – sama mengakui sebagai bangsa Amerika Serikat.
Peperangan antara bangsa Amerika Serikat yang tinggal di 23 negara bagian di wilayah utara berhadapan dengan bangsa "Amerika Serikat" yang tinggal di 11 negara bagian di wilayah selatan. Lantas mengapa dikatakan sebagai Perang Budak? Hal ini karena secara substansi peperangan initerjadi antara pihak Union (Utara) yang menghadapi penghapusan sistem perbudakan yang dianggap melanggar Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat, berhadapan dengan pihak Konfederasi (Selatan) yang tetapmempertahankan sistem perbudakan sebagai inti tenaga perkebunan yang merupakan basis perekonomian di pihak Konfederasi.

2.     Latar Belakang Perang Saudara
Terdapat dua faktor penting yang saling terjalin satu sama lain. Adapun faktor itu adalah masalah perbudakan dan upaya penghapusan perbudakan di Amerika Serikat. Sejarah perbudakan yang berlangsung di Amerika Serikat sudah terjadi sejak wilayah itu menjadi koloni inggris,berlangsung selama dua setengah abad (1619 – 1865). Di Amerika Serikat sikap orang kulit putih terhadap perbudakan antara orang – orang utara berbeda dengan orang – orang selatan. Wilayah Utara menentang terjadinya perbudakan, sedangkan wilayah Selatan pro terhadap perbudakan. Masalah perbudakan menjadi salah satu faktor penyebab meletusnya Perang Saudara di Amerika Serikat.
Masalah perbudakan menjadi fokus perdebatan politik yang sengit diantara kedua wilayah tersebut. Sikap orang kulit putih di Utara yang antiperbudakan itu menggunakan berbagai alasan, diantaranya bahwa perbudakaan sesama umat manusia jelas bertentangan dengan Declaration of Independence. Segala hak manusia mendapat hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, politik, dan kehidupan ekonomi. Demikian pula hak – hak kemerdekaan berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Perbedaan sikap orang kulit putih terhadap perbudakan di kedua wilayah tersebut pada hakekatnya tidak terlepas dari kepentingan politik dan ekonomi di kedua wilayah tersebut.
Konstitusi Amerika Serikat mengamanatkan kepada seluruh warganya untuk hidup berdemokrasi tanpa memandang ras, status social, kepercayaan maupun bahasa yang digunakan dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Praktik – praktik kehidupan rakyat Amerika Serikat di negara – negara bagian di wilayah Selatan dalam memperlakukan orang – orang Negro telah bertentangan dengan prinsip – prinsip demokrasi. Rakyat wilayah Utara tidak menginginkan orang Negro tetap menjadi budak tanpa pendidikan, sebaliknya ingin memberikan hak – hak sebagai warga negara seperti halnya orang – orang kulit putih.
Penunjang – penunjang gerakan Abolisi Putih di wilayah Utara diantaranya terdiri dari ahli – ahli politik seperti Lloyd Garrison, William Ellery Channing, disampimg itu pula terdapat pengarang terkenal, misalnya James Pauding, James G. Bierny, Samuel May, dan Beriah Green.
Lloyd Garrison dalam menentang perbudakan yang terjadi di wilayah Selatan, mengatakan bahwa dalam programnya menentang perbudakan bersumber pada Declaration of Independence. Perbudakan bertentangan dengan hukum – hukum alam dan berlawanan dengan prinsip moral manusia. Peraturan – peraturan yang dibuat oleh negara – negara bagian di Selatan jelas melindungi dan menjamin perbudakan. Salah satu hasil karya Lloyd Garrison yang berjudul The Liberator diterbitkan pada tahun 1831. Fitzhugh menggunakan sistem "Laissez Faire" dalam ekonomi politik yang sesuai dengan kehendak manusia dan alam.Sistem persaingan bebas seperti yang terjadi di wilayah Utara lebih menitikberatkan pada kepentingan individu dengan sistem perbudakan sebagai suatu bentuk sosialisme yang terbaik sebab sosialisme menekankan pada kepentingan negara untuk menjamin kebutuhan warganya.
James Fenimore Cooper, salah seorang  pengarang terkenal di wilayah Selatan, ikut juga menyumbangkan pendapatnya dalam memperkuat sistem perbudakan. Ia mengemukakan pikirannya bahwa perbudakan tetap dipertahankan sebagai sumber tenaga kerja didaerah perkebunan di wilayah Selatan. Mereka akan dididik ke arah kemajuan, mengingat orang – orang Negro masih rendah derajatnya.
Kegiatan dari gerakan antiperbudakan sebenarnya sudah terjadi pada  pertengahan abad XVIII. Beberapa orang tokohnya antara lain Johns Wolman dan Anthony Benezet masing –masing dari wilayah New Jersey dan Philadelphia.setelah perang kemerdekaan dipelopori oleh kelompok Quaker, gerakan Abolisi dan masyarakat antiperbudakan mulai tersbar luas di wilayah Utara. Sebelum 1800, orang – orang abolisi hitam Prince Hall, Benyamin Banneker, Absolom Jenes dan Richard Allan mulai menyuarakan atiperbudakan dan mendirikan The Free African Society of Philadelphia. Pada masa itu belum terdapat suatu gerakan abolisi yang terorganisasi dengan baik.
Beberapa orang tokoh dari gerakan Abolisi Hitam diantaranya James G. H. Barbadoss, Robert Purvis, James Mc, Grammel dan Frederick Douglass. Gerakan itu sangat aktif didalam mengorganisasikan masyarakat Negrobangsa Amerika Serikat yang antiperbudakan. Pusat dari gerakan Abolisi hitam terdapat didaerah Philadelphia, merupakan organisasi yang bersifat lokal dan regional yang didirikan XIX. Dalam membantu membebaskan para budak, pemimpin – pemimpin dari gerakan tersebut memerlukan dana – dana (uang) yang diperoleh dari anggota – anggotanya.tokoh – tokoh pembicara dari gerakan Abolisi hitam dalam mencari dukungan untuk kepentingan menentang perbudakan dan emansipasi Negro melawat ke negara – negara Inggris, Skotlandia, Prancis, dan Jerman. Mereka dapat dukungan dan sambutan baik dari negara –negara tersebut. Kegiatan lain dari gerakan Abolisi hitam, misalnya yang telah dirintis oleh Samoel Cornish telah menerbitkan surat kabar orang – orang kulit hitam yang pertama, berjudul Freedom's Journal pada tahun 1827.
Pemimpin – pemimpin orang kulit putih maupun orang – orang kulit hitamdi wilayah Utara mendirikan suatu gerakan Abolisi yang terorganisasi baik, terkenal dengan nama The Underground Railroad. Pada awal abad XIX, gerakan ilegal ini terdapat didaerah Indiana, Illinois, Ohio, dan Pennsylvania. Gerakan tersebut lebih aman di dalam melakukan kegiatannya membantu melarikan budak – budak selalu pada waktu malam. Budak – budak didalam usahanya untuk melarikan diri sering mengambil persediaan makanan milik tuannya. Jika dirasakan penting, mereka menyamar. Ada diantaranya budak – budak Mulatto yang menyammar sebagai orang kulit  putih dan kadang sebagai pemilik budak. Pada saat – saat yang kritis, budak – budak menyamar sebagai pengasuh anak – anak dengan cara membawa bayi – bayi kulit putih agar tidak dicurigai. Sering pula terdapat budak laki –laki menyaar sebagai wanita dan sebaliknya.
Adapun tempat – tempat pelarian para budak di antaranya terdapat di daerah – daerah Virginia, Mississippi, dan Tenesse. Para pelarian yang menuju ke wilayah Utara sering melewati pegunungan – pegunungan , sungai – sungai seperti Ohio atau sungai – sungai yang lain. Gubernur Quitman dari negara bagian Mississippi menyatakan bahwa selama periode 1800 – 1850, wilayah Selatan tercatat kehilangan seratus ribu budak yang seharga tidak kurang dari tiga puluh juta dolar.
Reaksi orang – orang Selatan dalam menghadapi gerakan The Underground Railroad, diantaranya mulai dikeluarkan peritah – perintah penangkapan terhadap tokoh – tokoh dan anggota – anggota gerakan tersebut yang telah menyeludup ke wilayah Selatan. Hal ini terbuktibahwa dewan legislatif negara bagian Georgia bersedia memberikan hadiah uang $ 40.000 kepada siapa saja yang dapat menangkap Garrison (John Hope Franklin, 1958). Demikian pula barang siapa dapat menangkap Arthur Tappan disediakan hadiah $ 20.000 oleh daerah New Orleans. Negara bagian Carolina Selatsn memberikan $ 1.500 bagi siapansaja yang dapat menangkp seseorang yang kedapatan menyebarkan buku The Liberator atau Appeal karangan David Walker.
Para pemimpin di Selatan dalam usahanya menentang The Underground Railroad sering melakukan pengejaran terhadap budak – budak yang telah melarikan diri ke wilayah Utara. Ada diantaranya yang menyamar sebagai pembicara antiperbudakan berhasil menyelidiki keadaan masyarakat Indiana dan Ohio. Ia berhasil menemuian tempat persembunyian para  pelarian. Akhirnya pemilik – pemiliknya meminta kembali budak – budak itu. Permintaan dari orang tersebut ditolak oleh keputusan pengadilan setempat atas pertimbangan bahwa ia kedapatan berada dilingkungan masyarakat yang menentang perbudakan dan daerah – daerah tersebut telah membebaskan budak – budak.
Konflik di wilayah Utara dan Selatan selain menyangkut masalah perbudakan juga berhubungan dengan masalah hak – hak negara bagian. Menurut pandanganpara negarawan Utara, bentuk pemerintahaan Utara harap tetap dipertahankan.. Artinya, tidak ada alasan apa pun dari suatu negara bagian Amerika Serikat yang menginterprestasikan bahwab bentuk pemerintahan federal bersifat sukarela. Siapa pun, dari negara manapun yang tidak taat sesuai dengan konstitusi Amerika, bagi wilayah Utara, bentuk pemerintahan federal Amerika merupakan sesuatu yang sudah final, tidak dapat diganggu gugat.
Masalah penafsiran hak negara bagian dalam konteks Amerika telah terjadi sejak lama antara Golongan Federal yang dipimpin oleh Alexander Hamilton dari negara bagian New Jersey, dari Golongan Anti-Federal yang dipimpin oleh Thomas Jefferson dan William Randolp dari Virginia. Bagi Hamilton, Perserikatan atau Union itu merupakan hasil final bagi bentuk pemerintahan Republik Federal Amerika. Sebaliknya, Thomas Jefferson berkeyakinan bahwa Perserikatan itu merupakan hal yang bersifat sukarela antara negara – negara bagian yang berdaulat dan konstitusi merupakan hasil paduan sukarela dari negara – negara bagian tersebut. Pada hakekatnya, akut dan khawatir pihak Selatan terhadap Interferensi Utara dalam masalah perbudakan.namun, pendapat dari tokoh – tokoh Selatan ditentang oleh orang – orang dari pihak Utara. Sosok menteri Keuangan Alexander Hamilton dari kubu Federalis (wilayah Utara) dengan Menteri Luar Negeri Thomas Jefferson dari kubu demokrat (wilayah Selatan).
Pertentangan mengenai hak – hak negara bagian muncul kembali ketika menjelang meletusnya Perang Saudara (1861 – 1865). Bagi Selatan jika kepentingan dari suatu negara bagian terabaikan, tidak terpenuhi, merasa dirugikan, mereka bisa saja keluar dari negara Federal Amerika. Pemerintahan federal harus menghormati adanya suatu undang – undang yang berlaku di negara – negara bagian, meskipin dalam pandangan pemerintah federal hal itu dianggap bertentangan dengan konstitusi. Setiap negara bagian mempunyai hak otonomi untuk mengatur urusan pemerintah sendiri. Pemerintah federal khusus hanya menangani mengenai urusan – urusan politik luar negeri, membuat mata uang, dan  mengatur sistem pertahanan.konflik antara Utara dan Selatan telah lama terjadi sejak Amerika menyatakan kemerdekaannya. Konflik itu tampak pada keinginan Golongan Federal dan Anti – Federal mengenai bentuk pemerintahan.
3.     Peran Presiden Abraham Lincoln
Abraham Lincoln terkenal sebagai sosok yang antiperbudakan. Ia berasal dari Partai Republik, sebagai partai baru setelah mengalami berbagai perubahan, terpilih sebagai anggota badan legislatif di wilayah Illinois. Pada awal tahun 1860, ia pernah berdebat dengan senator Douglass dari negara bagian Virginia yang cenderung menyetujui perbudakan, bahwa perbudakan jelas bertentangan dengan makna konstitusi dan demokrasi. Ia menyerukan pada Pemerintah Federal dan Kongres harus mengalahkan kaum Kolonis dan pembesar – pembesar setempat yang menghendaki pemisahan.
Berkat karier politiknya yang sangat mananjak, ia dicalonkan oleh Partai Republik sebagai calon presiden bersama Douglass. Kubu partai Demokrat mencalonkan Thomas Bell dan Buckinridge. Dalam pemilihan presiden pada akhir 1860, Lincoln terpilih menjadi presiden Amerika. Setelah Lincoln menempati Gedung Putih pada Maret 1861, dengan berani presiden tersebut menyatakan anti terhadap perbudakan dan bersumpah demi mempertahankan Persatuan dalam kerangka Negara Federal Republik Amerika.
Pada masa Lincoln, meletus Perang Saudara, ketika pada 4 Februari 1861 wilayah menyatakan keluar dari negara Federal membentuk Pemerintahan Konfederasi dengan memilih Presiden Jefferson Davis, dan negara bagian Virginia ditetapkan sebagai ibu kota Konfederasi.
Negara – negara bagian di wilayah selatan (negara konfederasi) pada 12 April 1861 menyerang po tentara Amerika Serikat di benteng Fore Sumpter (Virginia). Peristiwa tersebut merupakan sebab langsung meletusnya Perang Saudara di Amerika selama 4 tahun. Peran Lincoln dalam Perang Saudara, selain ia dianggap sebagai tokoh, pelopor pembebasan budak di Amerika, juga banyak disebut sebagai seorang negarawan yang berhasil mempertahankan Negara Federal Amerika. Meskipun ia sendiri tewas dibunuh oleh seorang aktor pengangguran dari simpatisan konfederasi, bernama John Willkes Booth di Ford's Theater di Washington D.C pada 15 April 1865.

4.     Kekuatan yang Mendukung Wilayah Utara dan Selatan
Ketika 11 Negara bagian di selatan (Alabama, Arkansas, Florida, Georgia, Louisiana, Mississipi, Karolina Utara, Karolina Selatan, Tennese, Texas, dan Virginia) menyatakan dirinya sebagai negara – negara konfederasi, berarti tidak mengakui keberadaan Negara Federal. Pernyataan konfederasia pada 4 Februari 1861 itu merupakan penggunaan dan pukulan keras bagi kesatuan Amerika. Namun, wilayah Utara juga memiliki keyakinan bahwa aksi militer yang dilakukan oleh pasukan – pasukan Federal segera akan dengan cepat membuat pihak konfederasi bertekuk lutut.
Baik dalam jumlah penduduk maupun kekuatan persenjataan, pihak Utara melebihi Selatan dengan perbandingan sekitar 3:1. Jumlah negara bagian di Utara yang anti perbudakan tercatat 25 negara bagian dengan jumlah penduduk sekitar 22 juta jiwa. Sementara, pihak Selatandidukung oleh 11 negara bagian dengan jumlah penduduk 9 juta jiwa, 3,5 jiwa diantaranya para budak merekalah yang menghasilkan makanan – makanan dan teksil yang paling banyak bagi Selatan, dan mereka pulalah yang paling banyak mencangkul, menarik gerobak, dan melakukan pembangunan bagi para tentara konfederasi. Suatu hantaman telak kepada perbudakan akan melumpuhkan pertahanan Selatan dan akan menarik ribuan kaum kulit hitam yang sudah dibebaskan ke Utara, mereka dapat bekerja dan berjuang. Tidak hanya untuk kemerdekaan mereka sendiri, tetapi juga untuk kepentingan Union.
Sementara kekuatan industri dan manufaktur pihak Utara adalah 9 kali lebih besar daripada kapasitas yang dimiliki oleh Selatan, yang mengandalkan perekonomian mereka berbasis pada sektor pertanian dan perkebunan. Demekian pula pihak Utara juga memiliki infrastruktur yang mendukung berupa jalan kereta api sepanjang kurang lebih ratusan mil dari Utara sampai wilayah Selatan.
Di wilayah timur, ada ibukota AS, Washington, District of Columbia, dan ibukota Konfederasi di Richmond. Kedua kota itu hanya berjarak 90 mil. Di daerah ini, pemimpin militer Konfederasi ialah Robert E. Lee. Lee adalah jenderal yang genius dan banyak memenangkan pertempuran, termasuk Pertempuran Bull Run Pertana dan Pertempuran Bull Run Kedua dan berhasil menekankan pasukan Uni mundur, hingga berhasil dihambat oleh pasukan Uni dalam Pertempuran Antietam. Akan tetapi, Pertempuran Gettysburglah yang merupakan titik balik perang ini. Pertempuran Gettysburg banyak memakan korban jiwa, baik dari Uni dan Konfederasi, tetapi jumlah pasukan Konfederasi lebiih sedikit jika dibandingkan pasukan Uni. Sehingga jelas kerugian berada di Konfederasi. Sejak perang ini, Konfederasi hampir tidak pernah lagi melancarkan serangan. 
Di wilayah barat, daerah Sungai Mississipi. Di wilayah ini, pasukan Konfederasi banyak mengalami kekalahan. Pasukan Uni yang dipimpin oleh Ulysses Grant (yang kemudian menjadi Presiden AS) banyak memenangkan pertempuran di sini. Pasukan Uni menduduki hampir semua kota di sungai Mississipi, namun konfederasi menjadi dua bagian dan membuka jalan untuk  menyerang jantung pertahanan dari Konfederasi.
Lincoln memutuskan bahwa Ulysses ialah jenderal terbaiknya. Ia mengangkat Ulysses sebagai jenderal di bagian Timur. Grant menyerang Lee kembali dalam Operasi Appomattox. Lee menyadari pasukannya telah kalah banyak. Akhirnya, Jenderal Lee menyerah kepada Jenderal Grant pada 9 April 1865 di Gedung Pengadilan Appomattox, Virginia. Berbagai faktor kemenangan pihak Utara diperoleh dari kekuatan militer dengan jumlah personel yang lebih besar karena mempunyai jumlah penduduk sangat besar. Mereka berhasil mengusai jalur perdagangan laut, memblokade semua pelabuhan yang berada di Selatan, mengepung pantai Selatan, sehingga pihak Selatan mengalami kesulitan untuk mencari bantuan keluar.
Seusai Perang Saudara, Presiden Lincoln mempersiapkan pengembalian bentuk Federasi, membubarkan Konfederasi, serta mengampuni sejumlah tokoh yang terlibat mempertahankan bentuk negara Konfederasi. Enam hari seusai Perang Saudara, pada 15 April 1865, ketika ia di tengah – tengah menikmati pertunjukan seni di Ford's Theater Ford, Washington D.C , ia ditembak oleh John Wilkes Booth hingga tewas.
Pada akhir 1862, Pemerintah Federal berhasil menggunakan prajurit – prajurit kulit hitam yang sebelumnya pada awal 1862 mulai mendaftar untuk menjadi prajurit tentara Union. Hasilnya sangat menggembirakan. Mereka bersama – sama dengan pasukan Union terjun dalam kancah perang besar. Keterlibatan pasukan – pasukan kulit hitam Utara sangat mendorong ke arah proses pembebasan para budak Selata, merampas sumber yang berasal dari Konfederasi dan menggunakan sumber itu untuk kepentingan Union, tidak hanya untuk menggali lubang pertahanan dan menarik gerobak persediaan pangan seperti yang biasa dilakukan orang kulit hitam di Selatan, tetapi juga membiarkan mereka memakai seragam ketentaraan untuk berperang demi Union dan kemerdekaan. Dalam berbagai pertempuran di seluruh wilayah Selatan selama 1864 – 1865, pasukan – pasukan Negro menunjukkan keberanian dan ketetapan hatinya. Mereka memperlihatkan kemampuan perang yang luar biasa. Tiga puluh resimen kulit hitam bertempur di dalam barisan tentara Union yang membantu menghantam serangan nya sehingga pasukan – pasukan Jenderal Lee menyerah. Pasukan Negrolah yang pertama kali memasuki Charleston dan Richmond (ibukota Virginia) ketika kubu Selatan itu jatuh pada akhir perang. Menjelang akhir perang, sekitar 180.000 laki – laki kulit hitam, kebanyakan bekas budak, telah bertempur di Angkatan Laut. Lebih dari 37.000 serdadu kulit hitam gugur di dalam mempertahankan Union dari kemerdekaan. Pasukan kulit hitam berjumlah hampir 10% dari jumlah seluruh angkatan bersenjata Union dan lebih banyak lagi di Angkatan Darat Utara dalam tahuna terakhir yang menentukan itu. Prestasi tentara kulit hitam mendapatkan kehormatan bagi bangsa mereka, membantu memastikan datangnya emansipasi, dan membantu mendorong pihak Utara untuk memperjuangkan persamaan hak. Bantuan Negro terhadap usaha perang pihak Union menciptakan suatu utang budi yang hanya dapat dilunasi dengan memberikan rakyat kulit hitam hak menjadi warga negara secara penuh.

5.    Akibat Perang Saudara
Perang Saudara di Amerika yang berlangsung selama 4 tahun, membawa berbagai akibat yang sangat merugikan bagi pemerintah Amerika Serikat. Peperangan berakibat hilangnya sekitar 620.000 jiwa, hancurnya ekonomi bagian Selatan, demikian pula rusaknya lingkungan alam selama perang terjadi.
Selama perang berlangsung, paling tidak pasukan Federal kehilangan 364.511 prajurit tewas, sedangkan pasukan Konfederasi kehilangan 133.821 prajurit tewas. Hal ini, masih belum terhitung puluhan ribu pasukan yang hilang, berbagai bangunan telah hancur, dan menelan kerugian jutaan dollar Amerika.
Akibat perang, perbudakan dihapuskan selamanya di Amerika dan cita – cita Lincoln tentang suatu negara yang bersatu telah tercapai. Akhir Perang Saudara memunculkan berbagai gagasan untuk memperoleh kehidupan politik, sosial, dan ekonomi, utamanya di wilayah Selatan. Setelah selesai perang, dalam sejarah politik Amerika, negara terebut memasuki suatu era yang dinamakan Masa Rekonstruksi.



DAFTAR PUSTAKA
IG. Krisnadi (2012), Sejarah Amerika Serikat, Yogyakarta :          Penerbit Ombak
John W. Chambers, II, ed. in chief (1999), The Oxford Companion to American Military History, Oxford University Press.
Francis Whitney, ed. Keith W. Olsen (2004), Garis Besar Sejarah Amerika, Deplu AS

Post a Comment

 
Top