TIOPAN PURBA/SAT/015/B

            Pemerintahan Islam pertama di Brunei dimulai saat dipimpin oleh Raja Puni Mahamosha (Muhammad Shah) pada tahun 1363 M. Ketika kerajaan Brunei Tua merdeka, Raja Awang Alak Betatar menjalin kerja sama dengan seorang putri Kesultanan Johor. Melalui perkawainan tersebut Raja Awang Alak Betatar akhirnya memeluk Islam dan mendapatkan gelar dari Sultan Johor, yaitu Sultan Muhammad Shah. Saat itulah pertama kalinya Islam diterapkan sebagai agama negara.
            Sultan Muhammad Shah memerintah Brunei sampai tahun 1402 M. Dalam catatan sejarah disebutkan Sultan Muhammad Shah hanya memiliki satu orang putri bernama Putri Ratna Dewi. Tetapi dalam catatan sejarah Cina, Muhammad Shah memiliki satu orang putra bernama Sultan Abdul Majid Hasan yang ditulis Ma-na-je-ka-na. Sayangnya Sultan Abdul Majid Hasan tidak termasuk dalam silsilah Raja-Raja Brunei karena beliau mangkat pada tahun 1408 M saat perjalanan kunjungan ke Nanking, dan dimakamkan di Cina dengan tulisan pada makamnya berbunyi "Makam Raja Pu-ni".

            Penyebaran Islam dimulai pada abad ke-13 dan mengalami perkembangan pesat saat Syarif Ali diangkat menjadi Sultan Brunei ke-3 tahun 1425. Dengan silsilah kerajaan tercatat pada Batu Tarsilah yang dimulai dari Awang Alak Betatar, raja pertama yang memeluk Islam tahun 1368 sampai Sultan Muhammad Tajudin 1795-1804 dan 1804-1807.
            Melalui silsilah Sultan Brunei ke-3 juga dapat dirunut bahwwa Sultan Sharif Ali merupakan keturunan Sayidina Hasan, cucu Rasulullah SAW. Masa pemerintahan Sultan Sharif Ali dikenal juga sebagai masa penguatan fondasi Islam di Kesultanan Brunei sejak masa pemerintahan Sultan Muhammad Shah. Sultan Sharif Ali menyusun pemerintahan berdasarkan agama Islam, mendirikan masjid, meluruskan arah kiblat, dan membuat aturan yang melarang rakyat Brunei untuk tidak mengkonsumsi daging babi. Jika dilanggar akan dikenakan hukuman mati. Karena itulah Islam mengalami perkembangan pesat dan saat itu Brunei juga dapat disebut sebagai pusat perkembangan Islam di wilayah Laut Cina Selatan.
Sejarah Pemerintahan
            Kerajaan Brunei Kuno bertempat di Muara Sungai Brunei, meliputi wilayah yang cukup luas Sabah, Brunei dan Sarawak. Setelah melepaskan diri dari pengaruh Majapahit, Brunei menjadi negara merdeka dan pusat perdagangan di wilayah Laut Cina Selatan dengan menjalin hubungan perdagangan dengan Cina.
            Kata 'Darussalam' dalam bahasa Arab yang berarti 'tempat yang damai' ditambahkan sebagai nama negara oleh Syarif Ali untuk menegaskan Islam sebagai agama negara serta membantu penyebaran Islam ke seluruh wilayah.
Awal abad 15, Kerajaan Malaka dibawah pemerintahan Pameswara menyebarkan pengaruhnya dan mengambil alih perdagangan Brunei, yang menyebabkan berkembangnya penyebaran agama Islam. Masa kegemilangan Brunei dimulai saat kejatuhan Malaka dari Portugis tahun 1511 dengan pengambil alihan kekuasaan oleh Sultan. Selama masa pemerintahan Sultan Bolkiah tahun 1473-1521, Brunei memperluas pengaruhnya sampai ke Utara hingga Luzon dan Sulu, ke Selatan dan Barat Kalimantan
            Antonio Pigafetta menjadi orang Eropa pertama yang mengunjungi Brunei. Pigafetta menggambarkan Brunei sebagai kota yang sangat menakjubkan dimana setiap tamu yang bertemu Sultan akan diantar menggunakan Gajah dengan tempat duduk berlapis sutra. Negara kecil ini termasuk negara kaya dengan setiap penduduk menggunakan pakaian yang terbuat dari kain sutra bersulam emas, dihiasi mutiara dan memakai cincin dari batu mulia. Ekspedisi dan penggambaran Pigafetta tersebut menjadi titik tolak hubungan Brunei dengan Eropa terutama dari Portugis dan Spanyol.
            Kolonialisme Kerajaan Brunei dimulai tahun 1578 pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kahar. Masa itu terjadi perselisihan dan perebutan kekuasaan antara Sultan Saiful Rizal dengan dua pangeran Brunei yang dikenal dengan 'Perang Kastila'. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Spanyol untuk merebut dan menguasai Brunei dengan mengirimkan surat kepada Sultan agar memberi keleluasaan dan perlindungan bagi para misionaris Spanyol yang menyebarkan agama Kristiani.
            Selain meminta jaminan keselamatan bagi misionaris mereka, pihak Spanyol juga menuliskan penghinaan terhadap Islam yang membuat Sultan marah, sehingga terjadi pertempuran antara Brunei dan Spanyol pada bulan April 1578. Dengan semangat juang dan nasionalisme yang tinggi, rakyat dan pemerintah Brunei berhasil memukul musuhnya pada tahun 1578 M. Sebagai pelampiasan kekalahan perang, pasukan Spanyol dibawah kepemimpinan Dr. Fransisco de Sande memerintahkan untuk membakar Masjid Jami' Brunei.
Sistem Pemerintahan
            Brunei Darussalam memiliki sistem pemerintahan monarki absolut dengan kepala pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah yang menjabat sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, perdana mentri dan mentri pertahanan dengan dibantu oleh Dewan Penasihat Kesultanan dan beberapa Menteri. Karena kekuasaan mutlak Sultan sebagai pemimpin negara, Brunei menjadi salah satu negara paling stabil dari segi politik di wilayah Asia. Pertahanan keamanan Brunei berdasarkan perjanjian kerjasama dengan Inggris dengan penempatan pasukan Gurkha yang ada di Seria. Jumlah pertahanan keamanannya lebih kecil dibandingkan dengan kekayaan dalam negri dan kekuatan negara tetangga. Secara teori, Brunei berada di bawah pemerintahan militer sejak pemberontakan oposisi tahun 1960-an.
            Hubungan diplomatik Brunei dengan luar negri terutama dengan negara-negara ASEAN. Brunei juga menjadi salah satu anggota PBB. Kesultanan Brunei secara aktif terlibat dalam persengketaan memperebutkan wilayah  perbatasan dan pulau-pulau kecil dengan Malaysia, terutama daerah yang mengandung minyak bumi dan gas alam, dua sumber kekayaan alam yang menopang perekonomian negara. Brunei menuntut wilayah di Sarawak seperti Limbang, juga pulau kecil antara Brunei dan Labuan termasuk Pulau Kuraman. Bagaimanapun, pulau-pulau tersebut diakui secara internasional sebagai bagian wilayah Malaysia. Penduduknya sebagian besar tinggal di bagian Barat dengan jumlah sekitar 10.000 orang tinggal di daerah Temburong. Dengan kurang lebih jumlah penduduk total 470.000 orang, lebih kurang 80.000 orang tinggal di ibukota Bandar Sri Begawan.
Sosial Budaya
            Pada masa pra-islam, penduduk Brunei menganut agama Hindu-Buddha. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Brunei menjadi pelopor dan penggerak perkembangan Islam bagi wilayah sekitarnya termasuk sebelah timur kepulauan Melayu hingga Pulau Luzon, Cebu, Otan, dan sebagainya. Di masa lalu, penduduk Brunei memiliki adat istiadat kesopanan yang tinggi. Dalam catatan First Voyage Around the World karya Pigafetta yang dirujuk oleh Al-Sufri (1997), orang Brunei memiliki kebudayaan dan peradaban yang luhur. Selain itu orang Brunei juga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi yang mereka sebut 'semangat kebrueian'. Nasionalisme yang kental inilah yang membuat tentara Spanyol dipaksa mundur saat ingin menguasai Brunei.
            Saat ini Brunei menggunakan asas syariat Islam dalam hukum perundang-undangannya yang disebut hukum Syarak. Mencakup undang-undang jenayah Islam, muammalah, undang-undang keluarga, serta undang-undang keterangan acara. Pengaruh kuat dari Sultan Sharif Ali yang ingin menjadikan penduduk Brunei sebagai muslim sejati berimplikasi pada prilaku penduduknya yang senantiasa menjaga perilakunya sesuai dengan syariat Islam.
            Cara pengamalan Islam di Brunei didasarkan pada mazhab Syafii dalam bidang fikih dan ahlusunnah waljamaah di bidang akidah. Semenjak tahun 1984 saat diproklamirkan sebagai negara merdeka, Brunei menerapkan 'Melayu Islam Beraja' yang menjadi pedoman hidup bermasyarakat.
Brunei Saat Ini
            Brunei memiliki indeks pembangunan manusia kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Tumpuan ekonomi berupa minyak bumi dan gas yang menjadi sumber kekayaan negara dan membuat Brunei menjadi negara terkaya ke 5 dan sudah diklasifikasikan sebagai negara maju. Dua pertiga penduduk Brunei adalah Melayu, dengan agama resmi Islam. Brunei juga mengikuti hukum Islam Syariah. Penduduk Brunei memperoleh pendidikan gratis, perawatan kesehatan, subsidi makanan dan perumahan. Dan mereka juga tidak membayar pajak penghasilan pribadi.
            Budaya Brunei hampir sama dengan budaya Melayu dengan pengaruh kuat dari islam, tetapi lebih konservatif karena menerapkan sistem Islam Syariat, tidak seperti Malaysia dan Indonesia. Penjualan dan konsumsi alkohol diharamkan, dengan orang luar atau Non-Muslim masih diijinkan membawa maksimal 12 botol bir saat mereka masuk ke Brunei. Parlemen Brunei juga mulai menerapkan fatwa haram untuk rokok pada tahun 2011 dengan tujuan mengurangi konsumsi rokok. Dua pertiga penduduk Brunei adalah etnis Melayu. Sementara etnis minoritas yang paling penting dan menguasai ekonomi negara adalah Tionghoa (Han). Terdapat juga komunitas ekspatriat dengan sejumlah besar warga negara Inggris dan Australia. Bahasa yang digunakan secara resmi adalah Bahasa Melayu, dengan Bahasa Tionghoa dan Bahasa Inggris yang 95% dikuasai oleh setiap penduduknya.
            Negara kecil yang kaya ini memiliki perekonomian campuran antara kewirausahaan dalam negri dan asing, pengawasan kerajaan, serta tradisi budaya perdagangan lama. Pengeluaran minyak mentah dan gas alam terdiri dari setengah PDB. Tingginya tingkat pendapatan membuat pengeluaran perkapita menjadi jauh lebih kecil, dan keraajaan membekali semua biaya pengobatan dan memberikan subsidi pangan, perumahan dan pendidikan bagi setiap penduduk. Pemimpin Brunei merasa bimbang akan perkembangan ekonomi mereka dengan ekonomi dunia tidak seimbang dan akan mempengaruhi perkembangan sosial dalam negri, sekalipun Brunei memainkan peranan penting dalam perekonomian dunia saat menjadi ketua APEC pada tahun 2000.
            Rancangan masa depan Brunei dipusatkan untuk menghadapi persoalan ketrampilan buruh, pengurangan pengangguran, perkuatan sektor pariwisata dan perbankan, dan perluasan bidang ekonomi yang akan mempengaruhi semua faktor kehidupan masyarakat. Bahkan saat ini sistem penerbangan negara sedang mencoba menjadikan Brunei sebagai salah satu tujuan perjalanan internasional antara Eropa dan Australia / Selandia Baru. Selain itu Brunei juga menargetkan sebagai salah satu layanan penerbangan utama ke wilayah-wilayah Asia.
            Sultan Haslsanah Bolkiah, yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan memiliki koleksi 500 mobil mewah dan istana dengan lebih dari 1500 kamar dengan total aset lebih dari 25 miliar dollar. Sultan juga membangun sebuah mesjid termegah dan terbesar di Brunei yang disebut "Mesjid Jami' Asr-Hassanil Bolkiah". Dibangun tahun 1988, mesjid ini mampu menampung 3.000 umat Islam. Selain dilengkapi ruang perpustakaan, pertemuan dan lounge yang indah, arsitektur dan interior mesjid ini menjadi kebanggaan Brunei dan kesultanan karena mampu menyaingi arsitektur dan interior Masjidil Haram di Makkah.


DAFTAR PUSTAKA




Post a Comment

 
Top