fauziah hafni / PBM 

            Penduduk Provinsi Riau pada umumnya merupakan suku melayu dan masyarakat di wilayah ini sebagian besar beagama islam. Sehingga adat istiadat masih di junjung tinggi sampai saat ini sampai sekarang, salah satunya adalah lagu soleram yang merupakan peninggalan leluhur terdahulu.
            Bagi orang melayu, agama islam adalah panutannnya. Seluruh nilai budaya dan norma-norma sosial masyarakat wajib merunjuk pada ajaran islam dan dilarang keras benelikai, apalagi menyalahinnya. Karenannya, semua nilai budaya yang di anggap belum serasi dan belum sesuai dengan ajaran islam harus "diluruskan" terlebih dahulu. Nilai yang tidak dapat di luruskan segera dibuang. Acuan ini dapat menyebabkan islam tidak dapat di pisahkan dari budaya, adat istiadat, maupun norma-norma sosial lainnya dalam kehidupan orang melayu. Hal ini pula yang menjadi salah satu penyebab, mengapa orang di luar islam yang menganut agama islam tersebut " masuk melayu" dan sebaliknya. Bila orang melayu keluar dari agama islam, tangggallah hak dan kewajiban-nya sebagai orang melayu. Orang keluar dari islam tidak lagi di angggap sebagai orang melayu. Didalam ungkapan adat dikatakan,
 " siapa meninggalkan syarak, maka iya meningggalkan melayu,siapa memakai syarak, maka gugurlah melayunya".

            Kental dan sebatinya orang melayu dengan agama islam tercermin pula dari ungkapan adatnya, yang mengatakan antara lain :
Adat bersendiri syarak, syarak hersendi kitabbullah
adat ialah syarak semata
adat semata Quran dan sunnah
adat sebenar adat ialah kitabullah dan sunnah Nabi
syarak mengata, adat memakai
ya kata syarak, benar kata adat
adat tumbuh dari syarak, syarak tumbuh dari kata kitabullah
berdiri adat karena syarak ( Effendy, Tenas. 2005)
            Popularitas musik saat ini sudah mengubah pandangan para penikmatnya. Di mana pun berada, musik selalu menemukan ladang eksistensinya. Boleh jadi, musiklah bagian dari seni yang menjadi garda paling depan. Tak dipungkiri, setiap pasang telinga menikmati musik sembari duduk-duduk ataupun di waktu senggang.
            Pendengar musik tidak sekalian merangkap menjadi pengamat musik. Maka, tidak heran arus yang membawa eksistensinya semakin tanpa arah dan tujuan. Lahir beberapa lagu yang lirik-liriknya yang membuat galau sehinggga.  Musik jadi terkesan galau dan 'cengeng'. Hal ini dikarenakan lirik-lirik lagu yang tidak mengutamakan pesan moral kepada para pendengar dan penikmat musik.
            Padahal, jika bangsa ini bangga dengan kekayaan budayanya, terutama musik maka hal-hal yang akan menjadi identitas bangsa dapat di pertahankan. Lagu-lagu daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri begitu indah mahakarya nenek moyang Indonesia. Mereka, orang-orang terdahulu mewariskan nasihat bijak melalui lantunan musik nan syahdu.
            Soleram, lagu khas tanah Riau yang pernah menjadi pedebatan antara bangsa Indonesia dengan bangsa tetangga, Malaysia. Lagu yang menjadi pengantar tidur anak-anak diklaim sebagai lagu milik bangsa mereka. Betapa Soleram merupakan lagu yang mengandung nilai-nilai luhur dan indah sehingga bangsa lain pun ingin merebut dari Ibunya.
Soleram so...leram soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya

Satu dua tiga dan empat

Kalau tuan dapat kawan baru
kawan lama dilupakan jangan
Kalau tuan dapat kawan baru
kawan lama dilupakan jangan

Jalan-jalan ke pasar baru

jangan lupa belilah roti
Ini lagu jaman tempo dulu tuan
Mungkin sekarang dikenang kembali
Ini lagu jaman tempo dulu tuan
Mungkin sekarang dikenang kembali

Soleram soleram soleram anak yang manis

Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya
Anak manis janganlah dicium sayang
Kalau dicium merahlah pipinya.
Adapun makna yang terkandung di bait lagu soleram adalah
Soleram-soleram, Soleram anak yang manis.
Anak manis janganlah dicium sayang.
Kalau dicium merahlah pipinya
Begitu penggalan lirik lagu Soleram yang mengamanatkan kepada anak-anak yang hendak tidur. Amanat untuk menjaga kehormatannya. Amanat untuk menjaga harga dirinya. Amanat untuk mempertahankan malu sebagai budayanya. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (An-Nur: 30)
Ayat di atas merupakan antisipasi agar muda-mudi tidak terjerumus ke dalam paham-paham keduniaan yang menghalalkan segala perbuatan tercela dan merusak pikiran generasi muda.
Satu dua tiga dan empat.
Lima enam tujuh delapan.
Kalau tuan dapat kawan baru, sayang.
Kawan lama dilupakan jangan..
Selain membudayakan malu, Soleram juga memiliki lirik yang mendidik untuk senantiasa menyambung tali persaudaraan dan menghindari perpecahan. Agama Islam mengamini petuah tersebut di dalam beberapa hadits: "Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dikenang bekasnya (perjuangan atau jasanya), maka hendaklah ia menghubungkan silaturahmi." (H. R. Muslim)
"Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi." (HR Imam Bazar, Imam Hakim)
Jalan-jalan ke pasar baru.
Jangan lupa belilah roti.
Ini lagu jaman tempo dulu tuan.
Mungkin sekarang dikenang kembali..
            Lagu Soleram ditutup dengan pesan agar melestarikan budaya yang mencerminkan identitas bangsanya. Maka, Soleramlah lagu yang memendam pesan-pesan moral itu. Pesan yang dahulu senantiasa menyertai tidur-tidur para anak leluhur bangsa yang berkarakter.


DAFTAR PUSTAKA
Deni, Septian. 2016. Diakses pada tangggal 15 Juni 2016.  http://www.penciptalagu.com/soleram/
Effendy, Tenas. 2005. Nilai-nilai dalam Tunjuk Aajar dan Petuah Amanah Melayu. Pelalawan: lembaga adat melayu pelalawan.
Hamidy, UU. 2012. Jagad Melayu Dalam Lintasan Budaya di Riau. Pekanbaru: Bilik Kreatif Press.

Post a Comment

 
Top