Marlogam Purba/SI 3
Teuku Umar dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada tahun 1854. Ayahnya bernama Achmad Mahmud yang berasal dari keturunan Uleebalang Meulaboh. Nenek moyang Umar berasal dari keturunan minangkabau yaitu Datuk Nachudum Sakti. Salah seorang keturunan datuk Nachudum Sakti pernah berjasa terhadap sultan aceh, yang pada waktu itu terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya. Berkat jasa panglima keturunan minangkabau ini Sultan Aceh terhindar dari bahaya. Berkat jasanya tersebut, orang itu kemudian diangkat menjadi uleebalang 6 mukim dengan gelar Teuku Nan Ranceh, yang kemudian mempunyai dua orang putra yaitu Nanta Setia dan Ahmad Mahmud. Sepeninggal Teuku nan
Ranceh, Nanta Setia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai uleebalang 6 mukim. Ia mempunyai seorang anak perempuan bernama Cut Nyak Dien. Ahmad Mahmud kawin dengan adik perempuan raja Meulaboh. Dalam perkawinan itu dia memperoleh dua anak perempuan, dan empat anak laki laki. Dari keempat anak laki lakinya, salah satu bernama Teuku Umar. Jadi Cut nyak Dien dan Umar merupakan saudara sepupu dan dalam tubuh mereka mengalir darah Minangkabau, darah seorang datuk yang merantau ke Aceh memasyurkan namanya.
Teuku Umar tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah seprti pemimpin pemimpin lainnya, tetpi dia dapat menjadi seorang pemimpin yang cakap, disipin dan mempunyai kemauan yang keras. Pengetahuannya diperoleh dari pengalaman hidup yang diperoleh dari pengembaraannya dari daerah satu kedaerah lain dan berguru kepada orang orang yang dianggapnya cakap. Disamping memiliki bakat memimpin, dan mempunyai otak yang cerdas, pengetahuan yang ia miliki diperoleh dari petualangannya. Untuk mencapai cita cita membebaskan Aceh dari cengkraman bangsa asing (Belanda), Aceh harus mempunyai tentara yang kuat dan terlatih. Berkat ketekunan dan kewibawaan serta kecakapannya, akhirnya Umar berhasil membentuk pasukan. Orang orang yang berani dan tangkas dilatih oleh umar dan direkrut menjadi pasukan siap tempur.
Setelah Teuku Ibrahim Lamnga gugur dalm perang melawan Belanda pada tahun 1878, istrinya (Cut nyak Dien) menjadi janda. Selama Cut nyak Dien menjanda, selalu mendapat perhatian khusus dari Teuku Umar. Yang menarik baginya bukanlah kecantikannya tetapi sifat keprajuritan yang ada dalam diri Cut nyak Dien. Ia mempunyai sifat keprajuritan, disiplin dan keras  hati, serta mencintai kemerdekaan aceh. Wanita seperti Cut nyak Dien sangat tepat menjadi istri seorang pejuang. Dari sifat sifat yang menarik hatinya itulah diam diam Teuku Umar jatu hati kepada Cut nya Dien, seperti kata pepatah " gayung bersambut", akhirnya cinta Umar dibalas dengan perasaan yang sama oleh Cut nyak Dien.
Pada pada tahun 1878 Teuku Umar dan Cut nyak Dien melangsungkan upacara perkawinan di Montasik. Dengan demikian Umar telah menikah untuk yang ketiga kalinya. Ketiga istrinya adalah sama sama wanita bangsawan dan sama sama keturunan Uleebalang. Dari perkawinan Teuku Umar dan Cut nyak Dien lahirlah anak perempuaan yang diberi nama Cut Gambang. Anak ini lahir jauh dari kampung halamannya karena ia harus lahir di tempat pengungsian. Ketika itu Umar sedang memimpin perang melawan Belanda. Ditempat pengungsian Umar berjanji pada anaknya bahwa pada suatu saat nanti ia akan mengantarkan anak dan istrinya kembali kerumahnya di Montasik, karenaa hak milik yang di kuasai Belanda ini harus direbut kembali. Dengan suara kecil ia berbisik pada anaknya, bahwa seandainya kau kembali kedaerah 6 mukim, engkau akan menjadi Hulu baling 6 mukim. Dengan tersenyum dan suara kecil Teuku Umar melanjutkan pula berkata kepada istrinya, bahwa engkau akan menuntut pula sebagai panglima sagie 6 mukim apabila panglima sagie yang sekarang meninggal dunia. [1]
Peranan Teuku Umar Pada Permulaan Perang
            Pada tahun 1871 Inggris dan Belanda bertemu dalam Traktat sumatera. Dalam traktat tersebut disebutkan bahwa belanda bebas bergerak dan mengadakan perluasan wilayah di Aceh. Rakyat aceh marah mengetahui perjanjian tersebut. Kemarahan tersebut sebenarnya sudah lama terasa setelah melihat gelagat dan gerak gerik belanda di sumatera yang merugikan aceh telah terbaca sejak tahun 1857. Pada tahun itu belanda telah menduduki Siak yang merupakan daerah taklukan aceh. Setelah lahir traktat sumatera tahun 1871, rakyat aceh semakin meluap luap marahnya.
            Pada tanggal 5 april 1873, belanda dengan kekuatan 3000 tentara menyerang kerajaan Aceh Darussalam dan berhasil menduduki mesjid Raya Baiturrahman. Namun dapat direbut kembali oleh pejuang aceh setelah panglima tentara belanda Mayor Jendral JHR. Kohler ditembak mati oleh pejuang aceh tanggal 14 april 1873. Dengan tewasnya JHR. Kohler, penyerbuan tidak diteruskan. Seluruh pasukan belanda yang ada di Aceh akhirnya ditarik kembali.
Pada bulan November tahun 1873 dikirimlah ekspedisi kedua yang dipimpin oleh Van Swieten dengan tentara sebanyak 13.000 orang. Serbuan kali ini berhasil menduduki Mesjid Baiturrahman. Sebelum istana raja diserbu oleh pasukan Belanda, Sultan dan seluruh penghuninya telah diungsikan. Dalam pengungsiannya, sultan terserang penyakit Kolera dan akhirnya meninggal. Para pengikutnya memindahkan tempat pengungsiannya sampai jauh kepedalaman Aceh Besar. Dalam perangnya melawan gerilya aceh, belanda menggunakan startegi menunggu dan menjalankan sistem pasifikasi. Hal ini terjadi terjadi juga dengan raja raja daerah pantai yang menyatakan tunduk pada pemerintah kolonial belanda.
Padawaktu perang berkobar, prajurit-prajurit Aceh sangat bersemangat, walaupun persenjataanya sangat sederhana dibandingkan dengan prajurit Belanda, namun mereka dapat mendatangkan korban yang besar di pihak lawan. Kesemua itu dapat terjadi karena antara lain disebabkan tentara Aceh mahir bertempur secara gerilya dan hidup di hutan belantara yang sudah mereka kuasai medannya. Berdasarkan pengalaman selama pertempuran itu Belanda kemudian menyadari bahwa untuk dapat mengalahkan tentara Aceh, maka harus memiliki kemahiran bertempur dihutan belantara dan mendatangkan bala bantuan dari Batavia lengkap dengan persenjataan serta perlengkapan perang lainnya.
Setelah pasukannya diperkuat dan balabantuan dari Batavia didatangkan, Belanda dapat menimbulkan korban yang lebih besar di pihak Aceh. Mulai saat itulah Aceh mengalami kekalahan besar, terlebih ketika Teuku Ibrahim lamnga gugur terbunuh oleh tentara Belanda pada tanggal 29 Juni 1878 di daerah Gunung Param. Jenasahnya dimakamkan di Montasik Aceh Besar. Seluruh tentara Aceh berkabung akibat kematian Teuku Ibrahim Lamnga itu. [2]
Teuku Umar Memimpin Perlawanan Dengan Berbagai Siasat
Pada tahun 1883 di Aceh terjadi suatu peristiwa yang sangat menggemparkan, yaitu berita mengenai Teuku Umar menyerahan diri dan memihak kepada Belanda. Rakyat Aceh marah dan banyak yang mengutuk sebagai pengkhianat diantara mereka ada pula yang menghendaki agar Teuku Umar dibunuh oleh rakyat sendiri. Sementara itu, Belanda sangat gembira menerima penyerahan diri Teuku Umar. Dengan menyerahnya Teuku Umar, Belanda berharap dapat dengan mudah menaklukkan seluruh rakyat Aceh. Setelah menyerahkan diri, maka Umar mendapat kepercayaan dari Belanda. Ia diserahi tugas yang penting-penting untuk melaksanakan keinginan Belanda menumpas perlawanan rakyat Aceh. Pada mulanya tugas yang diberikan kepada Teuku Umar adalah melatih tentara Belanda bertempur di hutan belantara dan mengajarkan teknik perang gerilya.
Teuku Umar melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, tetapi di dalam hatinya ia memegang teguh siasat perang yang telah ditetapkan bersama dengan para pemimpin pejuang Aceh beberapa waktu sebelumnya. Selesai melatih perang gerilya di hutan belantara, Teuku Umar ditugaskan memimpin penumpasan perlawanan rakyat Aceh. Dalam pertempuran itu memang banyak korban jatuh di kedua belah pihak, tetapi tentara Belanda banyak yang mati dan senjatanya banyak yang berhasil dirampas tentara Aceh. Tentara Aceh hanya sebentar saja mampu melawan serangan tentara Belanda dan kemudian mereka mundur meninggalkan benteng pertahanannya. Apalagi tentara Aceh hanya berpura-pura saja berperang melawan tentara Umar. Demikian juga sebaliknya Umar juga berpura-pura menyerang Aceh. Karena tidak tahu siasat Umar, Belanda gembira menyaksikan mundurnya tentara Aceh itu. Belanda menganggap dengan bantuan Umar, mereka dapat mematahkan seluruh perlawanan Aceh. Untuk itu, Umar mendapat hadiah besar berupa uang dan materi lainnya yang berguna untuk menambah modal perang tentara Aceh yang dikirim secara rahasia. Ketika sebuah kapal Inggris yang bernama "Nicero" terdampar dan dirampas oleh raja Teunom, kapten dan awak kapalnya disandera. Raja Teunom menuntut kepada pemilik kapal, bahwa sandera akan dibebaskan jika pemilik kapal sanggup menebusnya dengan uang tunai sebesar 10.000 dolar. Oleh Pemerintah Kolonial Belanda Teuku Umar ditugaskan untuk membebaskan kapal tersebut. Pembebasan kapal milik Inggris ini harus dilakukan pihak Belanda karena perampasan kapal tersebut telah mengakibatkan ketegangan hubungan antara Inggris dengan Belanda.
Pada waktu menerima tugas tersebut Teuku Umar menyatakan bahwa merebut Kapal "Nicero" dari raja Teunom merupakan pekerjaan yang berat sebab tentara Raja Teunom sangat kuat, wajarlah kalau Inggris sendiri tidak dapat merebut kembali kapal tersebut. Namun ia sendiri dengan pasukan Belanda yang dipimpinnya sanggup merebut kembali kapal itu asal ia diberi perbekalan dan persenjataan yang banyak sehingga dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Setelah memperoleh perbekalan perang yang cukup banyak, berangkatlah Teuku Umar dengan kapal "Bengkulen" ke Aceh Barat membawa 32 orang tentara Belanda dan beberapa orang panglimanya. Beberapa waktu setelah upacara pemberangkatan tersebut, kalangan Belanda dikejutkan oleh sebuah berita yang menyatakan bahwa semua tentara Belanda yang ditugaskan untuk merebut kembali kapal "Nicero" telah dibunuh di tengah laut oleh Teuku Umar bersama anak buahnya. Seluruh senjata dan amunisi beserta perlengkapan perang lainnya dirampas.
Pada bulan Februari 1899 Jenderal Van Heutsz berada di Meulaboh dengan tanpa pengawalan yang ketat sebagaimana biasanya. Keadaan ini diketahui oleh Teuku Umar dari mata-matanya yang bertugas di sana. Untuk menangkap dan mencegat Jenderal Belanda tersebut, Teuku Umar bersama sejumlah pasukannya datang ke Meulaboh. Tetapi malang bagi Umar karena sebelum rencananya berhasil dilaksanakan, gerak-gerik Umar justru telah diketahui oleh Belanda Setelah mendengar laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, Jenderal Van Heutsz segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat diperbatasan kota Meulaboh untuk mencegat Teuku Umar. Pada malam menjelang tanggal 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya telah berada di pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika mengetahui pasukan Van Heutsz telah mencegatnya. Posisi pasukannya sudah tidak menguntungkan dan tidak mungkin lagi untuk mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur.
Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya. Seorang tangan kanannya yang sangat setia bernama Pang Laot begitu melihat Teuku Umar rebah terkena tembakan peluru Belanda segera melarikan jenazah Teuku Umar agar tidak jatuh ke tangan musuh. Kemudian jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya ini, Cut Nyak Dhien sangat bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir. Justru dengan gugurnya suaminya tersebut Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Untuk itu ia kemudian mengambil alih pimpinan perlawanan yang tadinya dipegang oleh suaminya. [3]
DAFTAR PUSTAKA
[1] Samlawi, Fakih dan Maftuh, Bunyamin. 1998. Konsep Dasar IPS
[2] Syah, Nurdin. 199Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional, (Jakarta: Erlangga, 2006).
[3] Wikipedia.org.5. Sejarah Pergerakan Kebangsaan. Bandung: Rosda.
[4] Soetrisno Eddy, 100 Pahlawan Nasional 1 dan Sejarah Perjuangan. Jakarta: Ladang Copy and WIN :

Post a Comment

 
Top