Rizki Aiditya /SI.V/B

BURHANUDIN MOHAMMAD DIAH merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara, anak dari pasangan Burhanuddin dan Siti Sa'idah. Ayahnya seorang yang terpandang di Aceh pada zamannya karena kekayaannya. Meski demikian, kehidupan mapan keluarga tersebut tidak sempat dinikmati Diah karena saat Diah baru berusia seminggu, ia sudah ditinggal mati ayahnya. Di samping itu, di akhir hidupnya, sang ayah pun hidup boros sehingga tidak meninggalkan harta yang banyak bagi anak-anaknya. Kekayaan
yang sempat dinikmati keluarganya pun hanya tinggal cerita bagi Diah.Ibunya yang tinggal sendirian membesarkan BM Diah dan saudara-saudaranya, memilih berjualan emas, intan, dan pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun kebersamaan Diah dengan ibunya pun hanya sementara, karena delapan tahun sepeninggal ayahnya, ibu Siti Sa'idah juga meninggal. Diah kecil pun kemudian diasuh kakak perempuannya, Siti Hafsyah.Meski kedua orangtuanya telah tiada, BM Diah tetap serius bersekolah. Diah pertama sekali sekolah di HIS ( Hollandsch-Inlandsche School).
Namun karena ia tidak mau belajar di bawah asuhan guru-guru Belanda, ia kemudian melanjut ke Taman Siswa di Medan,Sumatera Utara.Saat BM Diah sudah berusia 17 tahun, ia meninggalkan Medan menuju Jakarta.Di Jakarta, ia belajar di Ksatrian Institut yang dipimpin oleh Dr. EE Douwes Dekker.Di sekolah inilah, ia memilih jurusan jurnalistik dan banyak belajar tentang dunia kewartawanan dari pribadi Douwes Dekker sehingga kelak membentuknya menjadi wartawan handal.Saat bersekolah di Ksatrian Institut, Diah sesungguhnya tidak mampu membayar biaya sekolah. Namun karena semangat dan tekadnya yang keras untuk belajar, Douwes Dekker mengizinkannya terus belajar. Bahkan, ia pun dipercaya menjadi sekretaris di sekolah tersebut.Setelah tamat belajar dan memiliki pengetahuan di bidang jurnalistik, Diah kembali ke Medan dan bekerja sebagai redaktur harian Sinar Deli. Namun di sana ia hanya bekerja selama satu setengah tahun. Setelah itu, ia sering berpindah-pindah. Pertama, dari Medan ia kembali ke Jakarta dan bekerja di harian Sin Po sebagai tenaga honorer.
 Kemudian pindah ke Warta Harian. Karena koran tersebut dibubarkan karena alasan membahayakan keamanan, Diah pun lantas mendirikan usahanya sendiri bernama Pertjatoeran Doenia yang terbit bulanan.Saat penjajahan Jepang, Diah pernah bekerja di Radio Hosokyoku sebagai penyiar siaran bahasa Inggris. Di saat yang bersamaan, ia juga bekerja di Asia Raja.Namun karena hal itu ketahuan Jepang, ia pun dijebloskan ke dalam penjara selama empat hari. Saat bekerja di Radio Hosokyoku, BM Diah bertemu dengan Herawati, seorang penyiar lulusan jurnalistik dan sosiologi di Amerika Serikat yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.
Pasangan itu menikah pada 18 Agustus 1942 dan memberikan mereka dua anak
perempuan dan satu laki-laki. Pada April 1945, Diah bersama istrinya mendirikan koran berbahasa Inggris Indonesian Observer.Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan
Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang "Djawa Shimbun" yang menerbitkan Harian Asia Raja berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.
Pada waktu perumusan teks proklamasi di rumah kediaman Maeda, dihadiri dari golongan pemuda, diantaranya BM Diah. Setelah perumusan teks proklamasi disetujui hadirin kemudian diketik oleh Sayuti Melik akan tetapi konsep teks proklamasi itu dibiarkan begitu saja, oleh karena itu segera diambil dan dicetak oleh BM. Diah untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaan tersebut dilakukan para pemuda yang bekerja di kalangan pers di bawah pimpinannya.
Setelah Indonesia merdeka BM. Diah diangkat sebagai anggota KNIP Malang (1945-1952). Pada tanggal 1 Oktober 1945 ia menerbitkan surat kabar Merdeka. Kegiatannya dalam jurnalistik pun terus berlanjut, tahun 1945 memimpin redaksi surat kabar Merdeka dan surat Kabar Indonesia Observer. Tahun 1947 ia meliput keadaan Jerman Barat dan Berlin yang baru kalah perang. Tahun 1949 (Juli-November) sering mengadakan wawancara dengan pemimpin-pemimpin dunia mengenai politik diantaranya; Presiden Najib dari Mesir, Perdana Menteri dari Nehru dari India, Perdana Menteri Chou En Lai dari Cina, Perdana Menteri Margereth Thacher dari Inggris dan lain-lain.
Dalam kepemimpinannya, ia tetap konsisten menjadikan Harian Merdeka sebagai salah satu surat kabar perjuangan yang khusus berbicara mengenai politik. Sehingga pada awal tahun 1950-an, muncul istilah Personal Journalism, sebuah corak jurnalistik yang berkembang setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda.Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, Diah bersama sejumlah rekannya, seperti Joesoef Isak dan
Rosihan Anwar juga turut memanggul senjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Percetakan Jepang "Djawa Shimbun" yang menerbitkan Harian Asia Raja berhasil mereka kuasai tanpa perlawanan dari tentara Jepang.Sebagai seorang nasionalis yang pro-Soekarno dan menentang militerisme, ia pernah bertolak pandangan dengan pihak militer setelah Peristiwa 17 Oktober 1952. Akibatnya ia sering berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran petugas militer.
Bahkan ketika pemerintah Orde Baru yang lebih dikuasai militer memutuskan untuk mengubah sebutan Tionghoa menjadi China dan Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat China,Koran Harian Merdeka bersama Harian Indonesia Raya tetap berani mempertahankan istilah Tionghoa dan Tiongkok.Selain menjadi wartawan, BM Diah pernah menjabat sebagai seorang birokrat. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1959, BM Diah diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Cekoslowakia, Hongaria, dan untuk Kerajaan Inggris Raya, 1962.Kemudian pada Era Orde Baru, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan pada Kabinet Ampera, tahun 1966 oleh Presiden Soeharto. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah menjadi anggota DPR dan DPA.Di luar pemerintahan, ia pernah menjabat sebagai Ketua PWI pada tahun 1971, kemudian menjadi PresidenDirektur PT Masa Merdeka, dan Wakil Pemimpin PT Hotel Prapatan-Jakarta. Selanjutnya pada tahun 1952-1955 diangkat menjadi anggota DPRS. Kegiatan beliau dalam pemerintahan terus berlangsung secara berturut-turut, yaitu tahun 1957-1959 sebagai anggota Dewan Nasional, Dewan Penasehat Presiden Soekarno.Tahun 1959-1962 diangkat sebagai Duta Besar RI di Chekoslovakia dan Hongaria. Tahun 1960-1962 sebagai Gubernur Atomic Energy Agency (IAEA) mewakili Indonesia di Wina. Tahun 1962-1964 sebagai Duta Besar RI di Kerajaan Muangthai, Bangkok dan tahun 1966-1968 diangkat sebagai Menten Penerangan RI.
Di masa tuanya, ia kemudian mendirikan Hottel Hyatt Aryaduta.Berkat jasa-jasanya yang teguh memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara, BM Diah menerima Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Soeharto pada 10 Mei 1978. Selanjutnya, menerima piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan '45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 pada 17 Agustus 1995.
Setelah berjuang melawan penyakit stroke sejak lama, BM Diah wafat pada usia 79 tahun, tepatnya 10 Juni 1996 pukul 03.00 dini hari. Almarhum mulai dirawat di RS Siloam Gleneagles Tangerang 25 April 1996, kemudian dipindahkan ke RS Jakarta pada 31 Mei 1996 sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Menimbang jasa-jasanya yang cukup besar kepada negara, ia dimakamkan di Taman Makam pahlawan Kalibata. Ia meninggalkan dua orang istri, Herawati dan Julia binti Abdul Manaf, yang dinikahinya diam-diam ketika ia bertugas di Bangkok, Thailand. Dari Herawati, ia memperoleh dua orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki, sementara dari istri keduanya ia memperoleh dua orang anak: laki-laki dan perempuan.Selama disemayamkan di rumah duka, hampir semua pejabat tinggi negara di masa itu, mulai Presiden Soeharto dan Wapres serta Ny Try Soetrisno hingga sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan VI melayat. Demikian juga dengan tokoh-tokoh seperjuangan almarhum membanjiri rumah duka di kawasan elite Jakarta Selatan itu. Di antara teman-teman almarhum yang tampak hadir antara lain Dr Roeslan Abdulgani, Soebadio Sastrosatomo, Mochtar Lubis, Ny Supeni, para mantan pejabat senior Departemen Penerangan, mantan Menko Polkam Soerono, Kharis Suhud, Yakob Oetama, Soebronto Laras, dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Tampak pula Menteri Penerangan Harmoko, mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, Pangdam Jaya Mayjen Sutiyoso, M.H. Isnaini, S.K. Murti, Dahlan Iskan, serta sejumlah wartawan senior dari berbagai media massa.

DAFTAR PUSTAKA
Adi Sudirman.2014.SEJARAH INDONESIA LENGKAP. Dari Era Klasik hingga Terkini Hlm.302-312
Marwati Djoened Poespenegoro Nugroho Notosusanto,SEJARAH NASIONAL INDONESIA, PN Balai Pustaka, Jakarta 1984.


Post a Comment

 
Top