MUHAMMAD FIKRI MUZAKI  /  SEJARAH  RIAU  /  B

Kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia sudah mengundang decak kagum orang-orang dari belahan dunia lain untuk melihat langsung sumber rempah-rempahitu. Jauh sebelum bangsa barat (Portugis dan negara Eropa lainya) mendatangi Indonesia, bangsa-bangsa asing seperti Cina, Arab, Persia, Gujarat sudah lama lagi menjalin kekerabatan yang arif dengan pribumi nusantara. Kekerabatan ini dibangun atas kerjasama perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Hal ini tentu membuka mata dunia
bahwanya negara nun di timur jauh memiliki sumber daya alam yang sangat disukai dan dibutuhkan oleh mereka. Sehingga Indonesia dikenal sebagai penghasil rempah-rempahnya dunia, walau ketika itu Indonesia belum menjadi nama sebuah negara, melainkan hanya terdiri dari kerjaan-kerajaan yang berkuasa pada saat itu.
Masuknya bangsa Eropa ke Indonesia, tidak terlepas dari jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453. Yang menyebabkan sulitnya orang-orang Eropa ketika itu berdagang disana. Kesulitan ini juga ditambah dengan mahalnya harga jual rempah-rempah yang ketika itu dikuasai oleh pedangang-pedagang Arab. Hal inilah yang mendorong orang-orang Eropa menemukan sendiri sumber dimana rempah-rempah itu di hasilkan. Penjelajahan mereka banyak ditulis diberbagai buku. Mulai tingkat sekolah, perguruan tinggi hingga buku umum lainya.
Setelah masuknya bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara, mereka menyadari potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Dengan rempah-rempah yang berlimpah, tentu bisa memberikan keuntungan yang besar apabila komoditas itu di jual di daratan Eropa. Setelah sekian lama berdagang di Nusantara, timbul hasrat ingin menguasai semua perdagangan itu. Pertama dengan monopoli dan poltik kejam yang dilancarkan orang-orang Eropa itu. Ketidak senangan yang dirasakan oleh masyarakat pribumi, mengakibatkan banyak nya perlawanan-perlawanan kepada kolonial. Dalam catatan sejarah tertulis hampir disetiap provinsi sekarang ini melawan orang-orang Eropa itu.
Dalam artikel kali ini kita akan membahas bagaimana perlawanan rakyat Riau terhadap kolonial Belanda.Perlawanan ini menjelaskan secara singkat perlawanan Raja Haji Fisabillah terhadap Belanda
Nama sebenar Raja Haji ialah Raja Haji Bin Opu Daeng Chelak. Raja Haji merupakan salah seorang daripada raja-raja Bugis lima bersaudara. Raja Haji lahir di Kota Lama, Ulu Sungai, Riaupada tahun 1139 Hijrah atau 1725 masehi - meninggal di ketapang 18 Juni 1784. Raja Haji dikatakan sebagai salah seorang dari Raja-raja Bugis lima bersaudara karena ayahnya berasal dari keturunan raja-raja di tanah Bugis yaitu di negeri Luwuk. Sedangkan Ibunya berasal dari keturunan raja-raja Melayu. Raja Haji telah terlibat dengan satu persetiaan bersaksikan Al-Quran di mana dia dan raja-raja Bugis yang lain telah mengakui bersaudara dengan pihak Raja Sulaiman untuk saling tolong menolong menerusi persetian yang dikenali sebagai Persetian Marhum Sungai Baru.[1]
Selain persetiaan tersebut, Raja Haji juga menjadi salah satu raja-raja Bugis yang menikah (memperkuat kekuasaan ketika itu) dengan putri raja-raja Melayu Johor-Riau. Dalam upacara tersebut, Raja Haji menikah dengan Tengku Mandak yaitu saudara kepada Raja Sulaiman.[2]
Raja Haji dilantik menjadi Yang Dipertuan Muda Riau yang keempat pada tahun 1778 menggantikan Daing Kemboja Yang Dipertuan Muda kerajaan Johor-Riau karena mangkat pada tahun 1777 di Pulau Riau.[3]
Pada tahun 1756-1758, Raja Haji bersama sepupunya Daeng Kemboja telah memimpin Perang Linggi menentang Belanda. Dalam setiap peperangan yang mereka pimpin, Raja Haji berhasil menyatukan orang-orang Melayu menentang penjajah yaitu Belanda. Raja Haji meyakinkan semangat jihad dalam kalangan masyarakat Melayu beragama Islam. Selain itu, Raja Haji telah berjaya menyatukan Sultan Ibrahim dengan Penghulu Rembau dalam misi menentang Belanda. Dalam penentangan orang Melayu menentang Belanda, Raja Haji merupakan tokoh utama yang banyak menaikkan semangat memperjuangkan tanah air dari campur tangan penjajah.
 Raja Haji merupakan orang yang amat berpengaruh semasa penentangannya. Kebolehannya menyebabkan kebanyakan pemerintah-pemerintah lain iri untuk menjadi seperti Baginda. Setelah kunjunganya ke Jambi, Raja Haji kemudiaan menikah dengan Ratu Mas. Selain itu Baginda juga telah membantu Sultan Inderagiri dalam menentang Minangkabau. Sebagai ganjarannya Baginda dikahwinkan dengan anak pemerintah tersebut iaitu Raja Halimah. Baginda juga telah menyerang Kedah bagi pihak Sultan Selangor selain juga pernah berperang bagi negeri Pontianak.[2]
            Baginda pernah berkunjung ke Pahang untuk bertemu dengan Bendahara Abdul Majid untuk melantiknya sebagai Yang Dipertuan Muda kerana Pahang pada masa itu adalah di bawah penjajahan Johor kerana kesinambungan di bawah penjajahan Melaka. Dengan pihak Belanda, Raja Haji telah menjalinkan hubungan baik sehinggalah tahun 1782. Baginda menandatangani perjanjian bahawa Raja Haji akan mendapat separuh dari pendapatan pihak Belanda. Pihak Belanda telah merampas candu dari sebuah kapal British iaitu Betsy yang dipandu oleh Kapten Robert Geddes. Hasil pendapatan itu, telah dikongsi bersama Kapten Perancis yaitu Mathurin Barbaron. Kapten Perancis tersebut telah berkata bahawa beliau sebenarnya telah mendapat kebenaran dari Raja Haji akan tetapi Raja Haji telah berkata bahawa Baginda tidak memberi apa-apa kebenaran.
Mendapat kabar tentang hal ini, Baginda meminta pertolongan daripada Selangor dan Rembau untuk mengadakan pemberontakan di Selat Melaka. Keadaan menjadi huru-hara sehingga Belanda telah berencana untuk menakluk Riau yaitu Koloni pihak Bugis. Enam buah kapal dari Batavia didatangkan ke Selat Melaka untuk membantu Belanda dalam mengatasi pemberontakan Raja Haji.Pada tanggal 6 Januari 1784, penaklukan secara langsung terhadap Riau oleh kapal milik Lemker yaitu Malakka's Welvaren hancur akibat tembak-menembak. Kemudian sebanyak 1594 tiba di Melaka untuk menambah kekuatan  Belanda dalam melakukan serangan.
         Antara sebab penentangan orang melayu di Melaka disebabkan oleh situasi politik di Eropah. Sebelum tahun 1782, terjadi perselisihan antara Johor dengan Belanda, tetapi tidak menjadi pertempuran yang hebat. Disisi lain, situasi politik di Eropa merujuk kepada permusuhan Belanda dengan Inggris dalam beberapa tahun di Tanah Melayu.[3]
 Pergolakan politik di Eropa menarik Belanda ke dalam perebutan kekuasaan di Tanah Melayu. Peristiwa di Eropa mempengaruhi tindakan politik Belanda di Tanah Melayu, contoh pada tahun 1780. Kerajaan Inggris telah mengumumkan perang ke atas Republik Belanda untuk menghalangnya dari memasuki Liga Neutral Bersenjata yang dipelopori oleh Rusia.
[4] Para pekerja dan pegawai Belanda di Asia turut melihat perkembangan ini dari jauh. Berita peperangan ini melanjutkan permusuhan atau persaingan antara Belanda dan Inggris di Asia dari segi atau aspek perdagangan dan penyerbarluaskan kekuasaan. Keadaan permusuhan ini bertambah parah semasa Perang Inggris-Belanda keempat yaitu pada 1780 samapi 1784. Sehingga memperparah permusuhan berkelanjutan di Tanah Melayu.
            Penyabab kedua penentangan orang Melayu ialah masalah pembagian harta rampasan perdagangan. Seperti yang diketahui, Raja Haji telah membuat perjanjian dengan orang Belanda yaitu setiap harta rampasan yang diperolehi oleh orang Belanda dan Raja Haji di perairan berdekatan dengan Johor-Riau haruslah dibahagi dua di antara Kompeni Belanda dengan Raja Haji.[5]
Setelah lebih kurang lima tahun Raja Haji menjadi Yang Dipertuan Muda Riau, pada tahun 1782 sebuah kapal dagang Inggeris bernama Betsy telah berlabuh di kepulauan Riau di Pulau Bayan dengan membawa muatan candu dinakhodai oleh Kapten Robbert Geddest.Residen Belanda yang mengetahui hal ini di Riau, yaitu Gerrid Pangal memberitahu Gubernur Belanda di Malaka supaya mengerahkan kapal kompeni Inggeris ini ditahan.[6]
 Hal ini tentu memperuncing permusuhan antara Inggris dan Belanda di Tanah Melayu. Gubernur Belanda di Melaka, Pieter Gerurdus de Bruijn telah membuat kesepatakatan dengan nakhoda Perancis bernama Mathurin Barbaran yang kebetulan itu sedang berlabuh di Pelabuhan Melaka. Nakhoda Perancis ini kemudian pergi ke Riau dan menyerang kapal orang Inggris dan merampas candu yang ada dalam kapal itu dan membawanya ke Batavia.[7]
Candu dan segala muatannya telah dijual serta uang yang diperoleh dari hasil penjualan candu ini dibagi dua antara kompeni Belanda dengan Nakhoda Perancis. Kabar ini pun akhirnya didengar oleh Raja Haji. Beliau menuntut agar Gubernur Belanda di Malaka supaya bahgian dari penjualan candu itu diserahkan kepadanya. Tindakan Raja Haji ini atas dasar karena rampasan itu dilakukan di Perairan Riau.[8]
 Raja Haji merupakan Yamtuan Muda Riau yang keempat ketika itu mendapati bahawa Belanda telah "memungkiri janji". Didialam kitab Tuhfat al-Nafis, diceritakan sebagai berikut :
        " Sebermula adalah kaul yang pertama yang dapat di dalam sejarah Selangor sebab lahirnya aku periksa. Iaitu adalah Yang Dipertuan Muda Raja Haji itu ada perjanjian konon dengan Kompeni Belanda, musuh Belanda musuh Raja Haji. Ada pun jika ada pekerjaan tangkap menangkap, rampas merampas, musuhnya itu ada bahagian di dalam itu antara keduanya.[9]
            Kabarnya di antara Raja Haji dengan Belanda terdapat satu perjanjian persahabatan yang tidak akan mengganggu antara satu sama lain dalam bidang apapun. Disegi politik, kedua belah pihak telah berjanji untuk melindungi antara satu sama lain dan siapa menjadi musuh Belanda maka secara tidak langsung akan menjadi musuh Bugis atau Riau. Dari segi ekonomi pula, keuntungan seharusnya dibagi bersama dan kerugian ditanggung bersama.
            Raja Haji telah pergi ke Muar untuk mendesak tuntutan haknya yang di janjikan oleh Belanda. Gubernur Belanda di Melaka telah mengirimkan seorang pegawai Belanda dan seorang Kapten Melayu pergi ke Muar untuk berunding dengan Raja Haji.[10]
            Dalam perundingan itu, Raja Haji telah menerangkan kepada pegawai-pegawai Belanda tentang kegiatan rampasan itu dan haknya bahgiannya sebagaimana sepatutnya diperoleh oleh beliau, hasil dari penjualan harta rampasan itu berdasarkan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam perjanjiannya dengan Belanda. Setiap rampasan oleh pihak Belanda di Perairan Riau-Johor hendaklah dibahagi bersama. Tetapi pegawai-pegawai pihak Belanda telah atau tetap mengatakan bahawa Raja Haji tidak ada hak untuk mendapatkan bahagiannya daripada harta rampasan tersebut.
 Raja Haji marah dengan layanan dan sikap memungkiri janji yang dilakukan oleh pihak Belanda. Adat melayu berpegang pada janji. Raja Haji telah merasa dipermalukan dengan sikap Belanda. Beliau telah bertindak dengan mengembalikan surat perjanjian yang dibuatnya berdasarkan pernyataan " apalah gunanya perjanjian yang syaratnya setengah dipakai dan setengahnya tidak itu" lalu Raja Haji pulang ke Riau sebaik sahaja memulangkan surat perjanjian itu.[11]
 Sejak itu, Raja Haji muali mengganggu perniagaan Belanda di Selat Melaka. Hal ini telah menimbulkan kemarahan Gubernur Belanda di Melaka.
      " Syahdan apabila Gabenor Melaka tidak menerima seperti maksud Raja Haji itu, maka Yang Di pertuan Raja Haji itu pun memulangkan surat-surat perjanjian itu. Kemudian ia pun berangkat balik ke Riau. Syahdan adapun Gabenor Melaka apabila Raja Haji memulangkan surat perjanjian itu maka marahlah ia, maka musyawarahlah dengan Raja Laut yang bernama Piter Jakub Pemberam, kata suatu kaul orang-orang besar Holanda, namanya Tuan Abo, maka di dalam tengah-tengah bicara itu banyaklah fitnah-fitnah disampaikan orang-orang yang khianat mengatakan Yang Dipertuan Raja Haji hendak memukul negeri Melaka serta telah siap segala kelengkapannya. Maka berkatalah Gabenor Melaka itu kepada Jakub Pemberam itu, " Raja Haji mahu memukul Negeri Melaka iaitu kita pergi pukul dahulu.[12]
            Inilah yang latarbelakang mengapa terjadinya pertempuaran Raja Haji Fisabillah dengan Belanda. Seperti kebiasaan Belanda yang suka ingkar janji.

NOTE :

[1] Haji Buyong Adil, Sejarah Johor, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1971, Hlm. 114 -115.
[2] Ibid, Hlm. 115.
[3] Haji Buyong Adil, Perjuangan Orang Melayu menentang Penjajahan Abad 15-19, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Pelajaran Malaysia, 1983, Hlm. 103.
[4] R.O Windstedt, A History of Johore (1365-1941), Malaysian
[5] Barbara Watson Andaya, dan Leonard Y. Andaya, Sejarah Malaysia, Kuala Lumpur, Macmillan Publishers (M) Sdn. Bhd, 1983, Hlm. 120.
[6]Virginia Matheson, Tuhfat Al-Nafis, Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, Kuala Lumpur, Fajar Bakti Sdn. Bhd, 1982, Hlm. 202
 [7] Haji Buyong Adil, Perjuangan Orang Melayu menentang Penjajahan Abad 15-19, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Pelajaran Malaysia, 1983, Hlm. 104.
[8]Haji Buyong Adil, Perjuangan Orang Melayu menentang Penjajahan Abad 15-19, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Pelajaran Malaysia, 1983, Hlm. 96.          
[9] Ibid, Hlm. 103.
[10] Ibid, Hlm. 104.
[11] Virginia Matheson, Tuhfat Al-Nafis, Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, Kuala Lumpur, Fajar Bakti Sdn. Bhd, 1982, Hlm. 201.
[12] Haji Buyong Adil, Perjuangan Orang Melayu menentang Penjajahan Abad 15-19, Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Pelajaran Malaysia, 1983, Hlm 104.

DAFTAR PUSTAKA

1983, Andaya, Barbara W. E Andaya, Leonard Y, Sejarah Malaysia. Kuala Lumpur: Macmillan Publisher ( M ) Sdn.Bhd.
1983, Haji Buyong Adil, Perjuangan Orang Melayu menentang Penjajahan Abad 15-19. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka dan Kementerian Pelajaran Malaysia.
1971, Haji Buyong Adil, Sejarah Johor. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
1982, Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji, Editor Virginia Matheson, Tuhfat Al-Nafis. Kuala Lumpur: Fajar Bakti Sdn. Bhd.

Post a Comment

 
Top