Andre Kurniawan/PIS

A.    Latar Belakang Munculnya Politik Apartheid
Apartheid berasal dari bahasa Belanda yang artinya pemisahan. Pemisahan disini berarti pemisahan orang-orang Belanda (kulit putih) dengan penduduk asli Afrika (kulit hitam). Apartheid kemudian berkembang menjadi suatu kebijakan politik dan menjadi politik resmi pemerintahan Afrika Selatan yang terdiri dari program-program dan peraturan-peraturan yang bertujuan untuk melestarikan pemisahan rasial.

Secara struktural, Apartheid adalah kebijaksanaan mempertahankan dominasi minoritas kulit putih atas mayoritas bukan kulit putih melalui pengaturan masyarakat di bidang sosial budaya, politik militer dan ekonomi Kebijakan ini berlaku tahun 1948. Pada saat itu Afrika Selatan dibaggi menjadi 4 golongan ras utama, yaitu :
a.       Kulit putih
b.      Kulit hitam
c.       Kulit berwarna
d.      Asia
Masalah Apartheid berawal dari pendudukan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa di Afrika. Bangsa Eropa yang pertama kali datang ke Afrika adalah bangsa Belanda. Bangsa Belanda datang ke Afrika Selatan dipimpin oleh Jan Anthony van Riebeeck. Kedatangan bangsa Belanda ini menimbulkan masalah dalam kehidupan masyarakat Afrika Selatan. Masyarakat Afrika Selatan menjadi dibawah pendudukan bangsa Eropa (bangsa Belanda atau bangsa kulit putih), sehingga masalah kulit ini yang menjadi titik pangkal munculnya masalah Apartheid.
Bangsa Belanda kemudian menetap di Afrika Selatan. Mereka sering disebut dengan bangsa Boer. Kedatangan bangsa Belanda ini kemudian diikuti oleh bangsa Inggris yang berhasil melakukan penguasaan dari Afrika Utara (Mesir), Afrika Selatan (Cape Town). Kedatangan Inggris ini menyebabkan "perang Boer"antara Inggris dan Belanda. Inggris berhasil mengalahkan Belanda sehingga wilayah Afrika Selatan menjadi daerah kekuasaan Inggris. Akhirnya Inggris menjadi penguasa Afrika Selatan. Dengan kemenangan Inggris maka banyak orang Inggris yang kemudian datang ke Afrika Selatan. Pada tahun 1910 dibentuk Uni Afrika Selatan yang merupakan gabungan dari kedua Republik kaum Boer, yaitu Transvaal dan Orange Kree Style dengan Cape Colony dan Natal. Uni Afrika Selatan adalah dominion Inggris.
B.     Perkembangan Politik Apartheid
Pada 1948, Partai Nasional terpilih untuk menguasai Afrika Selatan. Hal ini memperkuat implementasi pemisahan rasial dibawah kekuasaan kolonial Inggris dan Belanda, dan pemerintahan Afrika Selatan selanjutnya sejak terbentuknya perserikatan (Union). Pemerintahan nasionalis mengatur jalannya undang-undang pemisahan, menggolongkan orang-orang kedalam tiga ras, mengembangkan hak-hak dan batasan-batasan untuk masing-masing golongan, seperti hukum pass dan batasan pemukiman. Minoritas kulit putih menguasai mayoritas kulit hitam yang jauh lebih besar. Sistem pemisahan ini kemudian dikenal secara kolektif sebagai Apartheid.
Pemencilan ini dimaksudkan kulit putih untuk mengontrol kekayaan yang mempercepat industrialisasi dari 1950-an, 1960-an, 1970-an. Selama minoritas kulit putih menikmati standar paling tinggi di seluruh Afrika, seringkali dibandingkan dengan negara-negara barat dunia pertama, mayoritas kulit hitam tetap dirugikan dalam setiap tingkat, meliputi pendapatan, pendidikan, rumah, dan tingkat harapan hidup. Pada 31 Mei 1961, mengikuti referendum orang kulit putih, negara ini menjadi sebuah republik dan meninggalkan Persemakmuran (Britania). Ratu Elizabeth II tidak lagi menjadi kepala negara dan Gubernur Jenderal terakhir menjadi Presiden Negara.
Apartheid menjadi kontroversial, mendorong kearah meluasnya sanksi internasional, divestasi dan kerusuhan serta penindasan dalam Afrika Selatan. Suatu periode panjang penindasan oleh pemerintah dan kadang-kadang dengan kekerasan, pemogokan, demonstrasi, protes, dan sabotase dengan menggunakan bom atau cara lain, oleh berbagai gerakan anti-apartheid yang diikuti terutama oleh Kongres Nasional Afrika (ANC).
Sementara itu, pihak pembangkang kulit hitam pula melalui perubahan yang besar. Pada tahun 1943, suatu kumpulan belia yang lebih agresif dan komited melancarkan sayap baru yang dipanggil "ANC Youth League", yang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh politik hebat seperti Nelson Mandela, Oliver Tambo, dan Walter Sisulu.
Pada tahun 1961, kerajaan NP dibawah pimpinan Perdana Menteri HF Verwoerd mengisytiharkan Afrika Selatan sebagai sebuah Republik selepas memenangi pemungutan suara rakyat kulit putih. Selepas itu kerajaan melancarkan segregasi secara besar-besaran dengan mengharamkan perkawinan berlainan bangsa dan mengkehendaki setiap rakyatnya mendaftar diri berdasarkan bangsa atau warna kulit.
Segregasi perumahan kemudian dikuatkuasakan dimana komunitas berkulit hitam dipaksa berpindah kepada kawasan yang ditetapkan untuk kaum kulit hitam. Kerajaan Afrika Selatan juga merangka kebijakan untuk pembangunan berasingan, dan membagi-bagikan penduduk Afrika kepada "negeri-negeri" tiruan dengan homeland nya yang tersendiri dengan janji setiap negeri akan diberikan kemerdekaan. Hampir 3,5 juta penduduk kulit hitam menjadi mangsa pemindahan ini dan ia menyebabkan meningkatnya kawasan setinggan di Afrika Selatan. Rakyat kulit hitam dijadikan rakyat kelas dua dengan adanya "pass laws" dan kawalan influx yang dilaksanakan dengan ketat. Ini membangkitkan kemarahan dari pihak ANC dan pada 1949 mereka melancarkan Program Tindakan yang menolak dominasi kaum kulit putih dan menggalakkan tindakan protes, mogok, dan demonstrasi.
C.    Dampak Politik Apartheid
Orang kulit hitam yang semula tidak mengerti bahwa kebijakan pemerintahannya, lambat laun mengerti bahwa tujuan sebenarnya adalah diskriminasi rasial (perbedaan warna kulit). Oleh karena itu mereka bangkit mengadakan perlawanan, tetapi pemerintahan Pieter Botha dengan kejam menumpas setiap perlawanan yang terjadi. Banyak tokoh-tokoh kulit hitam yang dijebloskan kedalam penjara, seperti tokoh karismatik yaitu Nelson Mandela yang terpaksa mendekam dalam penjara selama 27 tahun. Politik Apartheid ini dirancang oleh Hendrik Verwoed. Apartheid menurut bahasa resmi Afrika Selatan adalah Aparte Ontwikkeling artinya perkembangan yang terpisah.
Memperhatikan makna dari arti Apartheid itu kedengarannya baik yaitu tiap golongan masyarakat, baik golongan kulit putih maupun golongan kulit hitam harus sama-sama berkembang. Tapi perkembangan itu didasarkan pada tingkatan sosial dalam masyarakat yang pada prakteknya menjurus pada pemisahan warna kulit dan terjadinya penistaan dari kaum penguasa kulit putih terhadap rakyat kulit hitam.
Verwoed menyusun rencana pembentukan homeland, yang disebut juga Batustan. Homeland dilaksanakan dengan diadakannya pembagian kembali Afrika Selatan berdasarkan wilayah kesukuan. Tiap orang kulit hitam Afrika Selatan diharuskan menjadi warga negara salah satu homeland atas dasar tempat lahirnya. Untuk memantapkan proyek homeland maka dikeluarkan bantuan biaya untuk perangsang termasuk perangsang untuk pemasukan modal dari luar untuk homeland. Kemajuan-kemajuan kecil pun akhirnya tampak dari proyek tersebut.
D.    Berakhirnya Politik Apartheid
Adanya pemisahan suku di Afrika Selatan ini mendapat tanggapan dari dunia Internasional. Dan di Afrika Selatan itu sendiri juga telah banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan untuk menghapus politik Apartheid tersebut. Gerakan yang terkenal dilakukan oleh rakyat kulit hitam di Afrika Selatan adalah gerakan yang dipelopori oleh African National Congrees (ANC) dibawah pimpinan Nelson Mandela.
Pada pemerintahan Frederick Willem de Klerk, Nelson memimpin aksi rakyat Afrika Selatan untuk tinggal dirumah, aksi tersebut mendapat tanggapan oleh pemerintah dengan menjebloskan Nelson ke penjara, tapi kemudian ia dibebaskan. Pembebasan ini membawa dampak positif terhadap perjuangan rakyat Afrika Selatan. Maka untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Mei 1990 pemerintahan Afrika selatan mengadakan perundingan dengan ANC untuk membuat UU non Rasial. Pada tanggal 3 Juni 1990 de Klerk menghapus UU Darurat Negara yang berlaku hampir disetiap bagian Afrika Selatan.
Perjuangan Nelson Mandela memakan waktu yang sangat lama. Nelson Mandela terus berjuang untuk mencapai kebebasan negeri baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Upaya-upaya Nelson Mandela mulai menampakkan hasil yang menggembirakan ketika F.W. de Klerk memberikan angin segar kebebasan bagi warga kulit hitam.
Kemudian pada tanggal 21 Februari 1991, Presiden de Klerk mengumumkan penghapusan semua ketentuan dan eksistensi sistem politik Apartheid di hadapan parlemen Afrika Selatan. Pengumuman itu pun diikuti penghapusan 3 UU yang memperkuat kekuasaan Apartheid. Penghapusan UU tersebut diikuti dengan janji pemerintahan de Klerk untuk menyelenggarakan pemilu tanpa pembatasan rasial. Pada pemilu Multirasial tahun 1994, partai yang dipimpin oleh Nelson Mandela yaitu ANC berhasil menjadi pemenang.
Pada tanggal 9 Mei 1994, Nelson Mandela dipilih oleh Majelis Nasional sebagai Presiden Afrika Selatan , yaitu Presiden pertama orang kulit hitam. Pada tanggal 10 Mei 1994 Nelson Mandela dilantik sebagai presiden dalam upacara megah di Union Building, Pretonia. Peristiwa ini merupakan perjuangan rakyat Afrika Selatan. Sejak terhapusnya Apartheid, Afrika Selatan mulai membangun negerinya agar sederajat dengan negara lain di dunia.
DAFTAR PUSTAKA :
Soeratman Dasti, 2012. Sejarah Afrika, Penerbit Ombak : Yogyakarta


Post a Comment

 
Top