M. Ridwan/SIV/B

Sebelum Belanda melancarkan agresinya yang pertama tanggal 21 Juli 1947, di Palembang terlebih dahulu sudah terjadi pertempuran besar yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam tanggal 1 sampai 5 Januari 1947. pertempuran ini adalah pertempuran tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara.

Ditinjau dari aspek ekonomi, jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong. selain itu, dapat juga menguasai perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor, apalagi Palembang yang sangat didominasi oleh air sehingga sangat baik bagi perdagangan. bahkan oleh Belanda sendiri sebelum Perang Dunia II, pernah mempromosikan sebagai "Venetie van het verre oasten" atau "Venesia dari Timur Jauh". Dari segi politik, Belanda ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka masih bisa menguasai Sumatera dan Jawa. Sedangkan ditinjau dari segi militer, sebenarnya Pasukan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan lainnya di sumatera. sehingga dengan menduduki Palembang akan menjadi pukulan moral yang besar bagi pasukan di daerah sumatera lainnya. selain itu bagi Belanda menduduki Palembang sangat penting, Palembang dapat dijadikan batu loncatan untuk menuju Pulau Jawa.
Peristiwa perlawanan rakyat Palembang diawali dengan pendaratan pasukan Sekutu (Inggris), NICA, dan Tentara Divisi ke 26 di kota Palembang pada 12 Oktober 1945 dibawah pimpinan Letkol Charmichel dengan diserahi tugas untuk :
a.       Menerima penyerahan satuan-satuan Jepang dan menjalankan syarat-syarat penyerahan.
b.      Membebaskan dan mengamankan Interniran dan tawanan perang sekutu.
c.       Mempertahankan keamanan didaerah kekuasaan sekutu agar siap untuk diserahkan kembali kepada pemerintahan sipil.
d.      Mengumpulkan keterangan-keterangan dan mengadili penjahat perang [1]
Pada waktu itu Pemerintah Republik Indonesia tidak merasa curiga akan kedatangan Sekutu yang mengikutsertakan NICA sehingga menerima mereka dan menetapkan bahwa pasukan sekutu hanya diperbolehkan menempati daerah Talang Semut (daerah pemukiman eropa di Palembang). Merasa diterima di Palembang, Sekutu tidak menuruti kesepakatan awal dengan Pemerintah Republik, malahan pasukan Sekutu memperluas daerah ketempat-tempat lain. Suasana semakin memanas ketika sekutu secara tidak sah melakukan tindakan penggeledahan terhadap rumah-rumah penduduk untuk mencari senjata. sementara itu Sekutu terus menambah kekuatannya sehingga dalam bulan Maret 1946 pasukan mereka sudah berjumlah kira-kira 2 batalyon. disamping itu, Sekutu juga melindungi masuknya pasukan Belanda.
Pada tanggal 24 Oktober 1946 tentara sekutu harus meninggalkan kota Palembang dan kekuasaan atas wilayah ini diserahkan sepenuhnya kepada Belanda. Dengan sepeninggalan pasukan Sekutu warisan jabatan jatuh kepada Kolonel Mollingger, Komandan Brigade "Y" tentara Belanda. Dengan demikian sejak tanggal 24 Oktober 1946 Kolonel Molingger secara resmi giliran berwenang dan memegang komando territorial Belanda untuk Sumatera Selatan.[2]
Kehadiran Belanda di Palembang tidak banyak berbeda dengan inggris, mereka memang benar-benar menunjukkan keangkuhan, semua wilayah yang vital mereka duduki, kebencian rakyat Palembang memuncak setelah Belanda merubah fungsi rumah sakit Charitas, yang dahulunya dikelola oleh golongan sipil Indonesia. Kemudian berdasarkan pertimbangan kemanusiaan dan segi praktisnya, pengolahan rumah sakit diserahkan kepada sekutu, sebab korban-korban sekutu juga banyak yang berjatuhan. Sayangnya maksud baik dari pemerintah Republik Indonesia disalahgunakan oleh sekutu dan Belanda. Mereka merubah fungsi tradisional rumah sakit tersebut menjadi benteng pertahanan yang kuat dan strategis. Belanda beruntung rumah sakit Charitas letaknya diatas bukit, dengan kondisi seperti memudahkan Belanda mengawasi pergerakan rakyat Palembang yang akan membahayakan mereka. Selain itu pendudukan rumah sakit Charitas sangat tepat, memudahkan hubungan Belanda dalam menuju Talang Betutu dan Talang Semut. Masalah ini salah satu penyebab perang, mulai saat itu para pejuang Republik Indonesia mulai mengenal langsung kelicikan Belanda, karena kejujuran dan itikad baik mereka menyerahkan pengelolaan rumah sakit Charitas kepada sekutu disalahgunakan oleh Belanda.[3]
Beberapa hari menjelang akhir tahun 1946 Panglima Komandemen Sumatera Mayor Jenderal Suhardjo Harjowardoyo berkunjung ke Palembang dan mengadakan pertemuan dengan pimpinan sipil dan militer RI. Pidatonya yang diucapkan didepan RRI Palembang dan ditujukan kepada pasukan TRI di Palembang, Padang dan Medan yang berisikan agar pasukan TRI di Palembang selalu siap dan waspada menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Akibat pidato Mayor Jenderal Suhardjo Hardjowardoyo tersebut. Pemerintah Belanda menuduh bahwa pasukan RI sudah disiapkan untuk menyerbu pasukan Belanda. Kemudian Belanda sering melakukan provokasi-provokasi dan ejekan-ejekan kepada TRI dan pejuang hal ini membuat suasana semakin hangat dan tegang sehingga sering terjadi insiden dan bentrokan-bentrokan yang tidak dapat dihindari. dalam insiden tembak menembak tersebut beberapa korban berjatuhan terutama dikalangan rakyat yang tidak berdosa diantaranya lima orang wanita dan beberapa orang anak-anak yang berada dalam perahu di Sungai Musi.
Karena seringnya terjadi bentrokan dan insiden, maka Kolonol Mollingger. Komandan pasukan Belanda. dari markas besarnya di Talang Semut langsung angkat telpon menghubungi pimpinan pemerintah Republik Indonesia di Palembang, meminta agar pertempuran dihentikan. dan agaknya para pemimpin Republik mengabulkannya. Keadaan ini dimanifestasikan dengan turunnya kemedan laga para pemimpin, gubernur muda Dr. M. Isa dan Panglima Divisi II Kolonel Bambang Utoyo. Kedua pemimpin yang menjadi panutan para pejuang ini menyerukan Cease Fire.[4]
Suasana panas akibat pertempuran hari Sabtu, Minggu, dan Senin 28,29, dan 30 Desember tetap menggelegak. Sungguh pun Cease Fire sudah diserukan untuk dipenuhi, namun sebagian pasukan pejuang Republik Indonesia masih tidak kunjung beranjak dari pos-pos pertahanan masing-masing.
Gerakan provokasi Belanda mulai muncul kembali sesuai perhitungan pihak pejuang Republik Indonesia. Pada pagi hari itu kira-kira pukul 05.30 Wib, sebuah Jeep yang penuh dengan serdadu Belanda keluar dari sarangnya di 15 Ilir. dengan ugal-ugalan dan dengan kecepaan tinggi melewati garis demarkasi yang sudah ditetapkan. Gerakan provokasi Belanda di daerah 15 Ilir ini merupakan pancingan perang yang secara serentak dilakukan pula di Bagus Kuning/Plaju, beberapa sektor Talang Semut dan Benteng. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap Cease Fire yang telah disepakati. Akhirnya pecahlah pertempuran yang sengit antara kedua belah pihak yang berlangsung selama lima hari.
Dalam menghadapi  Belanda, pasukan Republik Indonesia dibagi dalam 3 Front yaitu :
1.      Front Seberang Ili Timur
Front Seberang Ilir Timur meliputi kawasan mulai dari Tengkuruk sampai RS Charitas - Lorong Pagar Alam - Jalan Talang Betutu - 16 Ilir - Kepandean - Sungai Jeruju - Boom Baru - Kenten. Pertempuran pertama terjadi pada hari Rabu 1 Januari 1947. Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang ada di sekitar RS Charitas. RS Charitas berada di tempat yang strategis karena berada di atas bukit sehingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda. Basis strategi pertahan di Front Seberang Ilir Timur terutama berlokasi di depan Masjid Agung, simpang tiga Candi Walang, Pasar Lingkis (sekarang Pasar Cinde), Lorong Candi Angsoko dan di Jalan Ophir (sekarang Lapangan Hatta). Dibawah pimpinan Mayor Dani Effendi, Pasukan TRI melancarkan serangan ke Rumah Sakit Charitas dan daerah di Talang Betutu. Tujuan serangan ini adalah untuk memblokir bantuan Belanda yang datang dari arah Lapangan Udara Talang Betutu menuju arah Palembang dan menghalangi hubungan antara pusat pertahanan Belanda di RS Charitas dengan Benteng. Pada sore harinya, pihak Belanda telah mengerahkan pasukan tank dan panser untuk menerobos pertahanan dan barikade Pasukan TRI di sepanjang Jalan Tengkuruk. Mereka kemudian berhasil menduduki Kantor Pos dan Kantor Telepon melalui perlawanan yang seru dari Pasukan TRI. Dengan berhasilnya Belanda menduduki Kantor Telepon, maka hubungan melalui alat komunikasi menjadi terputus secara total. Setelah itu, belanda memperluas gerakannya hingga menduduki Kantor Residen dan Kantor Walikota. Pasukan TRI yang berada di daerah tersebut mengundurkan diri ke Jalan Kebon Duku dan Jalan Kepandean sedangkan di RS Charitas, kekuatan Belanda semakin terdesak karena serangan dari Pasukan TRI. Pada pertempuran hari kedua, konsentrasi pasukan terutama diarahkan terhadap pasukan dan pertahan Belanda di RS Charitas. Namun, Belanda berhasil menerobos lini Talang Betutu setelah terlebih dahulu berhadapan dengan Lettu Wahid Uddin bersama Kapten Anima Achyat. Belanda telah memperkuat tempat-tempat yang telah mereka kuasai, terutama di depan Masjid Agung. Secara spontanitas, rakyat dan pemuda di dalam kota dan luar kota turut serta bertempur melawan Belanda. Melihat kemajuan-kemajuan dipihak kita, Belanda pun segera mengadakan pengintaian, bahkan melakukan tembakan dari udara terhadap kereta api yang membawa bahan makanan, bantuan dari Baturaja, Lubuk Linggau, dan Lahat. Oleh karena lokasi Markas Besar Staf Komando Divisi II tidak lagi aman, maka dipindahkan dari Sungai Jeruju ke daerah Kenten, tepatnya di Jalan Duku. Hal ini disebabkan karena Belanda terus-menerus melakukan pengintaian dan pengeboman terhadap markas-markas Pasukan TRI/Lasykar. Keberhasilan pengeboman jarak jauh yang dilakukan Belanda tidak terlepas dari peranan para pengintai atau mata-mata. Pertempuran hari ketiga berlangsung pada hari Jum'at, tanggal 3 Januari 1947. Saat itu, Kolonel Mollinger memerintahkan angkatan perangnya (Darat, Laut, dan Udara) untuk menghancurkan semua garis pertahanan Pasukan TRI/Laskar. Ini menunjukan terjadinya konsep perang tiga matra yang dilakukan Belanda di Palembang. Berdasarkan perintah tersebut, maka konvoi kendaraan berlapis baja keluar dari Benteng menuju RS Charitas menerobos Jalan Tengkuruk, melepaskan tembakan di sekitar Masjid Agung dan Markas BPRI. Gerakan penerobosan Belanda ke Charitas itu dihambat oleh pasukan kita yang berada di Pasar Cinde dengan ranjau-ranjau, namun gagal karena ranjau-ranjau tersebut gagal meledak. Akibatnya Pasar Lingkis (Cinde) dapat dikuasai oleh musuh. Tapi, sore harinya pasar itu dapat dikuasai kembali oleh pasukan kita (Resimen XVII). Senjata dan amunisi yang dimiliki pasukan RI jumlahnya terbatas, dan sebagian besar senjata yang digunakan oleh pasukan kita banyak yang telah tua (out of date) sebagai hasil rampasan dari serdadu Jepang. Sampai hari ketiga, keadaaan Palembang sebenarnya sudah parah. Hampir seperlima kota telah hancur terkena serangan bom dan peluru mortir Belanda. Pada pertempuran hari keempat (4 Januari 1947), Belanda menfokuskan pertahanan di Plaju. Sehingga pasukan Mayor Dani Effendi berhasil memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai Charitas dan sekitarnya. Akibatnya pasukan Belanda mulai terdesak. Pasukan TRI berhasil mendekati gudang amunisi di RS Charitas dan menembak serdadu Belanda yang berusaha mendekati gudang tersebut. Pada pertempuran hari kelima (5 Januari 1947), pihak Belanda dapat menguasai beberapa tempat dengan bantuan kapal-kapal perang yang hilir mudik di Sungai Musi dan pesawat terbang yang menjatuhkan bom-bom ke arah posisi Pasukan TRI. Namun demikian pasukan Belanda mengalami hal yang sama dengan Pasukan TRI yaitu letih, kurang tidur dan merasa stress, sedangkan Pasukan TRI telah banyak menderita kerugian baik dari materi ataupun yang gugur dan luka-luka.
2.      Front Seberang Ilir Barat
Front Seberang Ilir Barat meliputi kawasan mulai dari 36 Ilir yaitu meliputi Tangga Buntung - Talang - Bukit Besar - Talang Semut - Talang Kerangga - Emma Laan - Sungai Tawar - Sekanak - Benteng. Pada pertempuran pertama (1 Januari 1947), pasukan-pasukan disekitar belakang Benteng mulai terdesak lalu mengundurkaan diri ke sekitar Jalan Kelurahan Madu dan Jalan Kebon Duku. TRI/Lasykar yang berlokasi di Bukit terpaksa mengubah taktik yaitu memencarkan diri masuk ke kampung-kampung di sekitar Bukit Siguntang dan sekitarnya. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah pasukan Belanda yang akan menerobos ke 35 Ilir. Karena apabila pasukan Belanda yang akan beroperasi di 36 Ilir, Suro, 29 Ilir dan Sekanak akan terkepung. Usaha pasukan TRI dibawah pimpinan Mayor Surbi Bustam dilakukan untuk menyerang Gedung BPM Handelszaken. Serangan ini dibantu oleh Kapten Makmun Murod, Letnan Satu Asnawi Mangkualam dan Kapten Riyacudu. Belanda dengan menggunakan kendaraan berlapis baja dan persenjataan modern berhasil menguasai Kantor Pos, Kantor Telegraf, Kantor Residen, Kantor Walikota dan di sekitar Jalan Guru-guru di 19 Ilir.. Pada pertempuran hari kedua, Belanda menembakan mortirnya dengan membabibuta ke arah Sekanak sampai ke Tangga Buntung. Tujuan utama adalah menembaki markas batalyon dan pos-pos pertahanan TRI dan rakyat yang terdapat antara Sekanak sampai Tangga Buntung. Gencarnya tembakan yang dilakukan Belanda dari benteng pertahanan dan dan pesawat udara pada 2 Januari 1947 menyebabkan Staf Komando Batalyon 32/XV oleh Mayor Zurbi Bustam bersama Kapten Makmun Murod dipindahkan ke Talang. Keterbatasan senjata tidak membuat pasukan kita menyerah. "molotov" adalah bensin yang dimasukan ke dalam botol dicampur dengan karet untuk kemudian diberi sumbu memjadi alat yang sangat efisien. Kapten Alamsyah memerintahkan Sersan Mayor M. Amin Suhud untuk mencuri persediaan bensin Belanda yang akan digunakan untuk membuat bom molotov. Sersan Mayor M. Amin Suhud mendapatkan bensin. Kesulitan bahan makanan dialami oleh Front Seberang Ilir Barat karena blokade yang dilakukan oleh Belanda. Begitu pula peran anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan PPI (Pemuda Puteri Indonesia) yang mengurus korban pertempuran dan mengurus bahan makanan. Pada hari ketiga, pertempuran tiga matra yang dilakukan oleh Belanda semakin aktif, setelah dikeluarkan perintah oleh Kolonel Mollinger untuk menghancurkan garis pertahanan RI di Emma Laan (Jalan Kartini) dan Sekolah MULO Talang Semut. Pasukan TRI yang dibawah pimpinan Letda Ali Usman berhasil menghancuran sekitar 3 regu Pasukan Belanda yaitu Pasukan Gajah Merah. Pada pertempuran hari keempat, Sabtu tanggal 4 Januari 1947, Pasukan TRI/Lasykar terdesak sehingga mundur ke arah Kebon Gede, Talang dan Tangga Buntung. Sebagai resiko perjuangan dari bangsa yang baru merdeka, maka setiap gerakan pasukan musuh berakibat pada pemindahan dislokasi pasukan. Walaupun situasi pertempuran selalu dilaporkan kepada komando pertempuran. Namun laporan tersebut mengalami keterlambatan akibat sulitnya hubungan komunikasi. Pada hari kelima pertempuran di Front Seberang Ilir Barat terus berlangsung, walaupun Pasukan TRI/Lasykar dan rakyat mulai menampakkan keletihan dan pengiriman makanan dari dapur umum mulai tidak teratur lagi akibat blokade Belanda. Sebenarnya blokade ini juga berdampak pada pihak Belanda juga karena bahan makanan dari luar kota sulit masuk ke Kota Palembang.
3.      Front Seberang Ulu
Front Seberang Ulu meliputi kawasan mulai dari 1 Ulu Kertapati sampai Bagus Kuning, selanjutnya meliputi kawasan Plaju - Kayu Agung - Sungai Gerong. Pada awal pertempuran tanggal 1 Januari 1947, tembakan mortir dari pasukan Belanda yang dberada di Bagus Kuning, Plaju dan Sungai Gerongterus ditujukan ke markas batalyon yang dipimpin Kapten Raden Mas. Namun demikian, kapal perang Belanda yang berada di Boom Plaju atau Sungai Gerong belum dapat bergerak leluasa, karena dihambat oleh pasukan ALRI di Boom Baru. Motorboat milik Belanda melaju dari arah Plaju menuju Boom Yetty yang diduga membawa bahan persenjataan pasukan Belanda, Pasukan TRI berusaha menyerang namun tidak berhasil. Kompi I yang berkedudukan di Jalan Bakaran Plaju, dipimpin Lettu Abdullah di Jalan Kayu Agung dan Sungai Bakung diberi tugas untuk menghadapi Belanda. Begitu juga Kompi II yang dipimpin Letda Sumaji bertugas menghadapi Belanda di Bagus Kuning dan Sriguna, sedangkan Kompi II dibawah pimpinan Letda Z. Anwar Lizano bertugas menghadapi Belanda di pinggir Sungai Musi yang letaknya sejajar dengan Boom Yetty sampai Pasar 16 Ilir. Pertempuran kedua tanggal 2 Januari 1947. Pasukannya dibantu dari Lasykar Pesindo, Napindo dan Hizbullah. penyerbuan tersebut membuahkan hasil. Pasukan TRI/Lasykar dapat menguasai gudang-gudang persenjataan musuh, sedangkan pasukan Belanda mengundurkan diri ke kapal-kapal perang mereka. Bendera Belanda si tiga warna yang terpancang di depan asrama telah diturunkan, kemudian dirobek warna birunya dan dinaikkan kembali dengan keadaan si Dwiwarna, Sang Saka Merah Putih. Namun kemenangan ini tidak berlangsung lama pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan-tembakan mortir ke arah kedudukan Pasukan TRI/Lasykar. Pertempuran hari ketiga, Setelah Komandan Mollinger mengeluarkan perintah kepada seluruh unsur kekuatan darat, laut dan udara. Belanda untuk meningkatkan gempuran dan berusaha menerobos setiap garis pertahanan TRI dan badan-badan perjuangan rakyat. Pewasat-pesawat terbang dan kapal-kapal perang Belanda semakin menggiatkan aksinya, terutama di daerah-daerah yang menjadi tempat bertahan pasukan-pasukan TRI yang berada di Seberang Ulu dan Ilir. Kapal perang jenis korvet menembakan mesin kesepanjang Sungai Musi terutama di pos-pos pertahanan RI, terutama yang berlokasi di sekitar 7 Ulu. Akibatnya Pasukan TRI dan Lasykar terpaksa membalas dengan menggunakan senjata bekas persenjataan Jepang, yaitu meriam pantai milik kompi III Batalyon 34 di 7 Ulu di tepi Sungai Musi. Dengan menggunakan senjata seperti itu, pasukan Hizbullah dibawah pimpinan Letkol (Lasykar) M. Ali Thoyib berhasil menembak sebuah motorboat Belanda yang sedang mengangkat amunisi milik Belanda dari Plaju menuju ke Benteng. Pertempuran keempat,tanggal 4 Januari 1947 di Front Seberang Ulu pasukan Belanda semakin memperhebat tekannya terhadap pasukan RI sehingga pasukan TRI yang berada di Bagus Kuning mengundurkan diri ke 16 Ulu. Kapal-kapal perang Belanda melakukan patroli mulai dari perairan Sungai Gerong di bagian Hilir sampai ke perairan Kertapati, Keramasan di bagian Hulu. Pada hari kelima, tanggal 5 Januari 1947, pasukan kita dalam keadaan lelah, sekalipun hal itu tidak mengendorkan semangat perjuangan.[5]
 Upaya Perundingan dan Pengakhiran Pertempuran Sejak tanggal 4 Januari 1947 di Kota Palembang telah menerima kedatangan Kapten A.M. Thalib, utusan Panglima Divisi II Bambang Utoyo, yang mengabarkan tentang keinginan Mollinger untuk berunding. Ternyata Gubernur Muda telah menerima berita dari Jakarta lewat telegram yang diterima oleh pemancar darurat dibawah pimpinan Herry Salim, bahwa akan datang ke Palembang secepatnya Dokter Adnan Kapau Gani sebagai utusan pemerintah pusat untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan pihak Belanda. Perundingan ini dilakukan oleh pihak RI dikarenakan ada kepentingan strategis dengan alasan yaitu :
a.       Mencegah bertambah korban lebih banyak.
b.      Perlu mengadakan konsolidasi kekuatan kembali.
c.       Dari segi politis akan memberikan gambaran kepada dunia internasional bahwa RI cinta perdamaian, sekaligus menegaskan bahwa pemerintahan pusat dipatuhi oleh daerah-daerahnya.
Setelah itu, ditetapkan tiga orang delegasi yang melakukan perundingan. Mereka adalah Dr. M. Isa Gubernur Muda yang mewakili Pemerintahan Sipil, Mayor M. Rasyad Nawawi (Kepala Staf Divisi Garuda II) yang mewakili  pasukan-pasukan dari Komand Pertempuran, dan Komisaris Besar Polisi, Marsudo, yang mewakili Kepolisian.
Perundingan penghentian tembak menembak dilaksanaan di Staf Kwartier Divisi. Adapun hasil dari perundingan tersebut yaitu :
a.       Pasukan bersenjata, TRI, laskar-laskar rakyat dan badan-badan perjuangan yang bersenjata maupun yang tidak bersenjata diharuskan mundur sejauh 20 KM dari pusat kota Palembang yaitu dari titik 0 KM.
b.      Pemerintah Sipil Republik Indonesia dibawah Gubernur Muda Sumatera Selatan Dr. M. Isa, lengkap dengan aparat kepolisian dan pasukan Angkatan Laut Republik Indonesia dibawah pimpinan Kapten ALRI Saroinsong yang berkedudukan di Boom Baru, akan tetap berada didalam kota Palembang.
c.       Cease Fire atau penghentian tembak menembak mulai berlaku pada tanggal 6 Januari 1947 pukul 00.00 waktu setempat dengan diiringi gerakan pengunduran pasukan mulai pukul 06.00 pagi tanggal tersebut.[6]
Sesuai dengan hasil persetujuan yang telah dicapai pada tanggal 6 Januari 1947 pasukan kita mulai melaksanakan keputusan perundingan keluar meninggalkan kota. Pasukan dikumpulkan dilapangan golf Kenten dan kemudian diangkut dengan kapal menuju ke Kertapati. dari stasiun Kertapati pasukan diangkut dengan Kereta Api menuju ke stasiun Payakubung di Kilometer 37. Selanjutnya pasukan dipencar ketempat yang telah ditentukan oleh pimpinan TRI yaitu Tanjung Sejaro, Pemulutan, Kayu Agung, Sirah Pulau Padang, Batun, dan Prabumulih. Sejak itu pasukan-pasukan Republik Indonesia menempati dislokasi baru diluar kota. ditempat-tempat yang baru pasukan TRI selanjutnya mengkonsolidasikan diri untuk meneruskan perjuangan yang masih belum selesai.
Notes :
[1] Djohan Hanafiah, 1988:28
[2] Abi Hasan Said, 1992:1
[3] Warnak Tohir, 1983:19
[4] Abi Hasan Said, 2000:177
[5] Warnak Tohir, 1983:29
[6] Abi Hasan Said, 1992:217

Daftar Pustaka
a.       Said, Abi Hasan.(1992). Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah. Jakarta. Yayasan Krama Yudha.
b.      Hanafiah, Djohan. (1988). 82 Tahun Pemerintahan Kota Palembang. Jakarta. C.V Haji Masagung
c.       Tohir, Warnak.(1983). Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang.

Post a Comment

 
Top