Pahma Herawati/S/A

            peristiwa malari merupakan kejadian pertama yang menunjukkan ketidaksetiaan jenderal-jenderal di lingkungan kepresidenan selama masa pemerintahan Soeharto. Perang Intelijen dan permainan kotor yang dimainkan oleh dua jenderal berpengaruh, hampir saja meruntuhkan takhta Soeharto. Sedemikian sakit hatinya Soeharto atas terjadinya peristiwa ini, ia bahkan tidak menyinggungnya dalam autobiografi  Soeharto, pikiran, Ucapan, dan Tindakan saya yang diterbitkan di tahun 1989. Tercatat hanya satu kali ia mengungkit
Peristiwa Malari. Itupun hanya sekilas menyebutkan bahwa peristiwa ini merupakan kelanjutan dari aksi-aksi demonstrasi anti-korupsi mahasiswa diawal tahun 70-an. Penghianatan telah melunturkan kepercayan Soeharto. Ia menjadi lebih sensitif terhadap kritik-kritik yang dialamatkan kepada keluarga dan kroninya.[1]
            Diluar konflik militer, Peristiwa Malari dapat dikatakan sebagai tonggak kebangkitan nasionalisme ekonomi di indonesia. Serangan para mahasiswa terhadap modal asing beralih ke sasaran-sasaran dalam negeri, khususnya pebisnis Cina lokal yang menjadi mitra bagi investor Jepang beserta rekan-rekan politik mereka. Peristiwa ini juga telah mengubah pandangan rezim Soeharto bahwa pertumbuhan ekonomi semata sudah merupakan jaminan kuat bagi kesinambungan stabilitas politik.[2]
            Pada 14 januari 1974 pukul 19.45, presiden Soeharto  bersiap untuk menjemput tamunya, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka yang rencananya akan mengunjungi jakarta selama empat hari (14-17 januari 1974). Betapa terkejutnya Soeharto saat mendapati laporan bahwa para mahasiswa telah bersiap menggerakkan demonstrasi dibeberapa tempat.
            Sekelompok mahasiswa berkumpul di ujung lapangan udara Halim Perdanakusuma, tempat PM Tanaka mendarat. Mereka membawa aneka atribut, termasuk poster-poster yang menyerukan kebencian terhadap jepang dan menolak modal asing, terutama yang didominasi pihak Jepang.
            Mencoba menerobos masuk untuk menemui PM Tanaka, para mahasiswa ini dihadang oleh aparat keamanan yang memang diperintahkan untuk mencegah para demonstran masuk ke pangkalan udara. Gagal melaksanakan rencananya, para mahasiswa kemudian keluar dan bergabung dengan rekan-rekan mereka yang melakukan pemblokiran jalan-jalan keluar lapangan udara Halim PerdanaKusuma.[3]
            1. Jakarta diselubungi Asap
Keesokan harinya, selasa 15 januari 1974, kekacauan makin memuncak. Ribuan mahasiswa yang dikomandoi Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) berkumpul ditengah kota. Mereka berbaris di jalan-jalan sembari membagi-bagikan selebaran yang berisikan tuntutan mereka kepada pemerintah. Aktivitas mahasiswa terlihat meningkat dibeberapa kampus. Mereka kemudian berunjuk rasa dari kampus Universitas Indonesia dijalan Salemba menuju Universitas Trisakti di daerah Grogol, Jakarta.
            Demonstrasi akhirnya tidak terkontrol lagi dan pecah menjadi kerusuhan massa. Sore harinya, kelompok massa yang kebanyakan berasal dari golongan pemuda dan anak-anak perkampungan jakarta turut turun ke jalan dan mulai melakukan aksi anarkis. Mereka menyerang semua yang berbau Jepang. Mobil-mobil buatan jepang di bakar. Gedung-gedung yang ada hubungannya dengan jepang, seperti bangunan milik Astra Motor, dihancurkan. Pabrik minuman asal luar negeri, Coca Cola, juga menemui nasib yang sama. Bahkan keesokan harinya, massa mulai merampok dan menjarah pusat pertokoan di Pasar Senen. Suasana Kota Jakarta menjadi mencekam dan diselubungi asap.
            Diwaktu yang sama, Soemitro sedang mengikuti rapat Dewan Wanjakti bersama jenderal M. Panggabean. Ditengah rapat, laksamana Soedomo, wakil Pangkopkamtib, memberikan pesan melalui surat kepada Soemitro bahwa sedang terjadi kekacauan di Jakarta. Namun Soemitro tidak langsung bertindak. Ia tetap mengikuti rapat sembari memantau perkembangan keadaan yang dikabarkan Soedomo kepadanya.
            Ketika kepanikan semakin nyata di wajah wakilnya, barulah Soemitro memutuskan untuk keluar dari ruangan rapat. Namun niatnya ini ditahan oleh Panggabean, setelah selesai rapat, Soemitro baru menemui Soedomo untuk berkoordinasi masalah keamanan. Jenderal Soemitro lalu meminta agar soedomo menjaga keamanan jakarta dan mencegah agar demonstran tidak melintasi Monas atau masuk ke istana Negara, tempat presiden Soeharto menerima PM Tanaka. Ia lalu memutuskan untuk turun ke jalan menuju jalan Thamrin tempat dimana kabarnya Kedutaan Besar Jepang diserbu oleh para demonstran.
            Lambatnya Jenderal Soemitro selaku Pangkopkamtib bereaksi ini menimbulkan pertanyaan di benak berbagai pihak. Kecurigaan pun mengarah kepadanya.
            Demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi terang menjadi aib bagi soeharto di hadapan tamunya, PM Tanaka. Dengan menahan rasa malu, Soeharto menjelaskan kepada PM Tanaka bahwa masih tersisa perasaan anti-jepang di hati rakyat Indonesia. Untuk itu ia mengajukan dua masalah penting kepada pihak jepang. Masalah pertama adalah berkaitan dengan pelimpahan skill dan pengetahuan (dari jepang) kepada bangsa indonesia dan yang kedua, ia meminta keberadaan partisipasi modal bangsa Indonesia dalam investasi-investasi Jepang di Indonesia.
            Usai agenda Perdana Menteri Jepang itu di indonesia, presiden Soeharto dengan menggunakan helikopter yang berangkat dari istana, mengantarkan tamunya ke pangkalan udara. Keadaan jakarta dirasa belum aman untuk dilalui dengan kendaraan darat. Tak ayal Malapetaka 15 januari 1974, dikhawatirkan oleh Soeharto, telah menciderai hubungan baik yang telah terbangun antara Indonesia dengan Jepang sebagai salah satu investor asing terbesar saat itu.
            2. Tujuan Malari
            Menurut informasi yang disebarluaskan pemerintah, Peristiwa Malari adalah bukti adanya pihak-pihak yang ingin menggulingkan kekuasaan pemerintah yang sah. Oknum-oknum PSI bergabung dengan oknum Masyumi, yang dibantu oleh oknum-oknum sosialis lainnya ( maksudnya PNI-Asu), mendekati kader-kader muda untuk menyebarkan isu-isu dan kegiatan politik yang menyudutkan pemerintah. Media massa, oknum sipil serta oknum militer juga dituduh telah terlibat dengan gerakan PSI-Masyumi ini. Dikatakan bahwa mereka ingin menggerakkan massa untuk mencapai kedua tujuan mereka. Tujuan yang pertama atau tujuan taksis adalah menjatuhkan Aspri Presiden, komkamtib, dan Dwi fungsi ABRI. Sementara tujuan kedua atau tujuan strategi mereka ingin menggulingkan kepala negara, mengganti Pancasila dan mengubah UUD 45. Tujuan akhir PSI adalah ingin mendirikan pemerintahan demokrasi liberal. Sedangkan Masyumi dikatakan ingin mendirikan Negara Islam.
            3. Tanggapan Tanaka tentang demonstrasi mahasiswa
            Keterkejutan tidak hanya menjadi milik Soeharto. Meskipun beberapa hari sebelumnya telah mendengar kabar dari para stafnya tentang protes-protes yang gencar dilancarkan oleh para mahasiswa Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan Jepang, tak urung sambutan tak ramah mahasiswa Indonesia membuat kaget perdana Menteri Kakuei Tanaka.
            Dengan wajah yang diusahakan terlihat tenang, PM Tanaka menjelaskan bahwa pemerintah jepang tidak bermaksud untuk mendominasi negara lain. Konkretnya, jepang akan membentuk sebuah lembaga yang akan mengatur dan membimbing pengusaha-pengusaha jepang yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.
            4. Keterlibatan oposisi jepang
Kerusuhan yang terjadi bertepatan dengan datangnya perdana menteri jepang ke indonesia menimbulkan kecurigaan. Mungkinkah ada keterlibatan para oposisi di jepang dalam peristiwa 15 januari 1974 di Indonesia?
            Kabar yang beredar mengatakan bahwa rangkaian demonstrasi menghujat jepang di Asia Tenggara sesungguhnya adalah hasil rekayasa dari pihak oposisi di jepang. Tujuannya tak lain menjatuhkan Perdana Menteri Tanaka dan partainya yang sedang berkuasa. Oleh karena itu, rangkaian demonstrasi ini diatur agar waktunya bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Tanaka ke Asia Tenggara. Dana-dana dalam jumlah yang cukup besar masuk dari jepang ke negara-negara yang dikunjungi Tanaka. Maka terjadilah aksi kerusuhan anti-jepang, dimana produk-produk buatan jepang dirusak dan dibakar.
            Secara tersirat keterlibatan oposan jepang dimuat dalam buku peristiwa 15 januari 1974 versi pemerintah, dikatakan bahwa peristiwa Malari muncul, salah-satunya, disebabkan oleh " adanya kekuatan asing yang tidak suka kepada kemajuan-kemajuan yang terdapat di Indonesia dan kekuatan asing ini selain merupakan sumber konsep, juga sebagai sumber dana yang tidak kecil " Meski demikian, belum ada penelitian khusus yang dapat membuktikan teori ini.[4]
5. Setelah peristiwa 15 januari 1974
            Berang dengan sikap mahasiswa yang menunjukkan kecenderungan lepas tangan atas terjadinya Malari, Soemitro memerintahkan pada Soedomo agar menangkap hariman siregar dan DMUI. " mereka sudah bukan anak-anak lagi. Harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," tegas Soemitro. Sekurang-kurangnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, dan 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak, 144 bangunan terbakar dan 160 kg emas dirampok dari toko-toko perhiasan. Sebuah catatan kelam yang nyaris saja meruntuhkan kekuasaan Soeharto.
6.  Di balik peristiwa malari
            Dalam peristiwa Malari Jendral Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut[5]. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat disitu. Belakangan ini barulah ada pernyataan dari jendral Soemitro (almarhum) dalam buku Heru Cahyono, pangkopkamtib jendral soemitro dan peristiwa malari bahwa ada kemungkinan kalau justru malahan Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa malari.
Sebaliknya, "dokumen Ramadi" mengungkap rencana soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus, "ada seorang jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan presiden sekitar bulan april hingga juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh". Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam "dokumen" itu tentu mengacu jenderal soemitro. Keterangan soemitro dan ali moertopo masing-masing berbeda, bahkan bertentangan. Mana yang benar, soemitro atau ali moertopo. Sampai sekarang belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa Malari. Sejarah yang begitu gelap, banyak pendapat tentang dalang peristiwa ini namun tidak memiliki bukti yang otentik.
a. Kesaksian Hariman Siregar (penggerak Demonstasi Mahasiswa Bekas Anggota Golkar)
Pada pengadilannya, tanpa bisa dicegah, Hariman Siregar telah dianggap menjadi motor utama penggerak mahasiswa yang berujung pada huru-hara massa. Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan.[6]
Hariman Siregar lahir pada tahun 1950. Sejak 1959 ia pindah ke jakarta dan diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1968. Pada 30 juni 1973, ia terpilih menjadi Ketua DMUI. Sebelumnya, tak ada yang menyangka kalau Hariman Siregar akan terpilih menjadi ketua DMUI mengingat dominasi orang-orang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat itu.
Pada waktu pemilihannya sebagai ketua DMUI. Hariman Siregar masih tercatat sebagai anggota Golkar. Baru setelah terpilih menjadi ketua, ia memilih mengundurkan diri dari Golkar. Ia merasa perlu mencari kebijakan yang independen, lepas dari pengaruh Golkar[7]. Hal ini diutarakannya pada pelantikan sebagai ketua DM-UI pada bulan September 1973. Meski ia mengakui mendukung kebijakan-kebijakan pemimpin-pemimpin Golkar namun dia menyadari sepenuhnya dipilih oleh para mahasiswa dan bukan oleh Golkar.
Ditiduh menjadi Antek PSI adalah tuduhan terberat yang mengarah pada Hariman adalah soal kedekatannya dengan PSI. Isu ini telah berkembang sejak ia terpilih menjadi ketua DMUI. Dinding-dinding kampus dipenuhi dengan tulisan yang menuding Hariman Siregar, bersama Sjahrir (Sekjen GDUI), telah menjadi "Antek PSI". Menurut mereka yang anti terhadap Hariman, hubungan antara Hariman dengan PSI ini dibuktikan dengan kedekatannya dengan GDUI yang dihuni oleh orang-orang PSI. Pada akhirnya, hal ini membuat Hariman Siregar dipersalahkan dalam perannya pada Peristiwa 15 Januari 1974. Ia pun dihukum enam tahun penjara, dipotong masa tahanan. Lebih ringan dari tuntutan jaksa, dua belas tahun penjara. Buktyi-bukti yang kurang kuat, memaksa pengadilan berakhir tanpa mengetahui secara jelas siapa dalang Malari sebenarnya.
Kesaksian tentang Malari "Bukan itu tujuan kami!" Komentar Hariman Siregar ketika Wapangkopkamtib laksamana Soedomo menanyakan keterlibatan mahasiswa pada kerusuhan yang terjadi pada tanggal 15 januari 1974. Kata-kata inilah yang kemudian membuat Pangkopkamtib naik pintam karena menganggap Hariman ingin melepaskan tanggung jawab. Perintah penangkapan pun dikeluarkan oleh Soemitro. Hal ini tak ayal membuat Hariman Siregar menjadi ketua DMUI terpendek sepanjang sejarah, yaitu hanya enam bulan saja.
Mengenai aksinya dipertengahan bulan januari 1974, Hariman berkisah,"Pemerintah tidak memperhatikan rakyat, membiarkan harga melonjak dan memanfaatkan kekuasaan hanya untuk kroni terdekat mereka. Karena itu pemerintah harus dikoreksi. Bagi hariman, aksi-aksinya itu murni sebagai aksi mahasiswa yang kecewa terhadap pemerintah dan bukan karena ditunggangi olehn pihak lain. " sebagai mahasiswa waktu itu, saya tergerak untuk melakukan aksi ketika pemerintah yang mengaku dilahirkan mahasiswa kok mulai menyimpang,"ujar Hariman lagi.

b. Soeharto mempermasalahkan dokumen Ramadi
Beberapa saat setelah jabatannya sebagai pangkopkamtib dicopot akibat peristiwa malari, soemitro yang waktu itu masih menjabat wakil panglima malari, soemitro yang waktu itu masih menjabat wakil panglima Angkatan Bersenjata (wapangab) dipanggil menghadap Soeharto[7]. Dalam pertemuan itu, Soeharto mempermasalahkan Dokumen Ramadi. Dikatakan dalam dokumen itu bahwa revolusi sosial akan meletus antara tanggal 4 april 1974 dan 6 juni 1974. Soeharto pasti jatuh dan digantikan oleh jenderal "S". Isu-isu yang beredar di luar juga mengatakan bahwa Soemitro ingin menjadi presiden dengan mencari dukungan dari kampus-kampus. Itulah sebabnya sebagai Pangkopkamtib, Soemitro dinilai bertindak terlalu lunak pada mahasiswa. Latar belakang keluarganya yang berasal dari PNI juga ikut disebut-sebut.
Karena desas-desus yang tak sedap ini, Soemitro lalu di minta oleh Soeharto untuk pergi ke luar negeri menjadi Duta Besar di Washington. Tapi tawaran Soeharto ditolak Soemitro. Ia merasa lebih terhormat jika ia mengundurkan diri. Jabatan Wapangab pun diserahkan kembali pada Sang Presiden.[8]
Dokumen Ramadi jelas telah mengakhiri karir Soemitro. Ironisnya, Soemitro mengaku tidak pernah mengenal Ramadi. " Dengar namanya pun... belum pernah!" Ucap Soemitro heran. Ia juga merasa belum pernah sekalipun melihat Dokumen Ramadi.
Ramadi adalah bekas kolonel bidang hukum militer yang lahir di pontianak, 12 Maret 1912. Namanya menjadi terkenal karena ditemukannya sebuah dokumen yang mengatakan bahwa Soemitro bermaksud menggantikan Soeharto. Nama Ramadi tertulis di dalam dokumen itu. Beberapa saat setelah terjadi Peristiwa Malari, Ramadi ditangkap dan dimasukkan kepenjara.
Berdasarkan laporan, Ramadi diketahui saat itu sedang menjabat sebagai Komisaris PT Ravitek. Ia jug merupakan salah satu anggota MPR dari golkar sejak tahun 1971. Kabarnya, gabungan usaha perbaikan pendidikan islam (GUPPI) berada dibawah pimpinan Ramadi. Dari pemeriksaannya, Ramadi mengatakan bahwa Soemitro telah memberi angin kepada mahasiswa untuk terus melancarkan demonstrasi. Bersama seseorang yang bernama Jayusman, Ramadi mengaku ingin membantu soemitro merombak pemerintahan dan membersihkan menteri-menteri, termasuk Ali Moertopo dan Sudjono Humardani.
Memang sikap lunak Soemitro terhadap aksi mahasiswa, keterlambatannya mencegah huru-hara di tanggal 15 januari 1974, dan kabar hubungannya dengan Ramadi memunculkan sebuah tanda tanya besar. Benarkah Soemitro dengan bantuan kelompok Ramadi berambisi menjadi presiden? Dari pemeriksaan Ramadi inilah banyak dikorek informasi yang menyudutkan  Soemitro. Dikatakan, Ramadi pernah berkata pada K.H. Sjarifuddin Mohammad Amin (ketua umum GUPPI), " ini hari yang bakal menangis si gendut ( maksudnya Soemitro-pen.)!". Kematian Ramadi, 61 tahun, yang tiba-tiba di RSPAD Gatot Soebroto semakin menambah misteri kasus Malari, mungkinkah Ramadi sengaja disingkirkan?
            c. Menurut Soemitro Ali yang ingin menjadi presiden
            Tak terima dengan segala kabar yang memojokkannya, Soemitro lalu membela diri. Melalui dua bukunya, Soemitro: dari pangdam Mulawarman sampai pangkopkamtib dan pangkopkamtib jenderal soemitro dan peristiwa 15 januari 1974, ia menceritakan kesaksiannya di seputar kejadian malari. Hal ini mungkin dilakukannya untuk menandingi buku peristiwa 15 januari 1974 karangan Marzuki Arifin yang sangat memojokkannya.
            Mengenai Peristiwa Malari, Soemitro merasa yakin bahwa peristiwa ini merupakan salah satu ekses yang ditimbulkan oleh ambisi Ali Moertopo yang ingin menggapai ambisinya menjadi presiden dengan cara dan melalui saluran intelijen, terang Soemitro.

Kesimpulan

Peristiwa Malapetaka 15 januari 1974 (malari) telah lama berlalu, namun teka-teki apa yang sesungguhnya terjadi dan siapa yang berada di balik huru-hara yang hampir menghanguskan kota jakarta masih belum terpecahkan. Hariman siregar (ketua Dewan Mahasiswa UI) dan beberapa orang yang dituduh menjadi antek PSI-Masyumi, memang telah dijebloskan ke penjara. Tetapi dalang sebenarnya tetap menjadi misteri.
            Nama Ali Moertopo (Opsus/Aspri) dan Soemitro (Pangkopkamtib) disebut-sebut menjadi pemicu ledakan yang nyaris mengguncang kursi kekuasaan Soeharto. Keduanya dikatakan saling berebut pengaruh untuk menggantikan Soeharto.

Kutipan
[1] Yogaswara, Dalang peristiwa 15 januari 1974 (Malari), yogyakarta: PT. Buku Kita, 2009
[2] Crouch, Harold, Militer dan Politik di Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1986
[3] Adam, Asvi warman, Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia, Yogyakarta: Penerbit Ombak,  2004
[4] Arifin, Marzuki, peristiwa 15 januari 1974, jakarta: Publishing House Indonesia Inc.,1974
[5] Ramadhan K. H.,Pers bertanya Bang Ali menjawab, jakarta: Pustaka Jaya, 1995
[6] Van Dijk, C., Pengadilan Hariman siregar, Jakarta: Teplok Press, 2000
[8] Cahyono, Heru, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 januari 1974, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998
[9]Ramadhan K.H., Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994

Post a Comment

 
Top