Febby Indri R/ SI 3

Sejak 1795, Negeri Belanda berada di bawah kekuasaan Perancis. Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya Louis, sebagai penguasa Negeri Belanda.  Faktor-Faktor Pendorong Bangsa Eropa dalam Penjelajahan Samudera Adanya keinginan mencari kekayaan (gold), kekayaan yang dicari adalah rempah-rempah, Adanya keinginan menyebarkan agama (gospel), Adanya keinginan mencari kejayaan (glory), Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang dilakukan bangsa Eropa dalam mengatasi
kesulitan tersebut adalah mereka berusaha mencari jalan langsung menuju ke daerah penghasil rempah-rempah. Caranya, dengan melakukan penjelajahan samudera.
Situasi politik Eropa sangat berpengaruh terhadap situasi penjajahan di Indonesia. Pada tahun 1792-1802, di Eropa terjadi perang revolusioner Perancis yang melibatkan Austria, Rusia, Inggris, Belanda, dan Spanyol. Pada tahun 1795, Belanda dapat dikalahkan oleh Perancis di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Pada saat itu, Indonesia masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Dengan demikian, secara tidak langsung Indonesia berada di bawah pimpinan Perancis. Pada waktu itu, Perancis sedang bersaing dengan Inggris. Persaingan tersebut bukan saja terjadi di daratan Eropa, melainkan juga di daerah koloni, seperti Afrika, Amerika, dan Asia, termasuk Indonesia.
Perancis mulai masuk ke Indonesia ketika Belanda masih menjajah Indonesiadan VOC yang saat itu didirikan dan kemudian di bubarkan secara resmi pada tanggal 1 januari. Belanda yang pada saat itu wilayah jajahan Perancis, sehingga segala bentuk kekuasaan pemerintahan dan kebijakan-kebijakan diatur dan ditinjau langsung oleh Prancis. Belanda dikuasai oleh Prancis karena ketika itu di Negara Belanda terjadi kekacauan yang disebabkan oleh Napoleon Bonaparte yang telah berhasil menyingkirkan Raja Willem van Oranje. Kerajaan Belanda sejak saat itu dipimpin oleh Raja Louis Napoleon.
Pada Masa Napoleon Bonaparte berkuasa di Prancis pada tahun 1800. Konstelasi perdagangan dunia telah membantuk blokade kontinental terhadap Kerajaan Inggris. Blokade kontinental sengaja di lakukan beberapa kerajaan Prancis untuk menghentikan peredaran dan sirkulasi ekspor terhadap kerajaan Inggris. Namun raja Belanda pada saat itu Raja Louis tanpa sengaja telah membuka bandar bandar nya secara netral. Sehingga proses blokade kontinental tidak serta merta berhasil. Raja Louis yang merupakan adik dari Raja Napoleon Bonaparte, akhir nya di turunkan oleh kakaknya. Dan Sang kakak segera mungkin melakukan penggabungan kekaisaran ke dua kerajaan tersebut. [1]
Berlangsung secara bersamaan dengan hal ini beberapa kepulauan milik Prancis telah jatuh pada armada armada laut Inggris, seperti kepulauan Mauritius, Sri Lanka. Dan Sebagian Hindia Timur (wilayah Nusantara), Raja Napoleon Bonaparte tidak menyerah begitu saja, dan segera memilih orang yang di anggap sebagai Perwira yang mumpuni untuk segera memobilisasi pasukan di Pulau Jawa.
Herman Willem Daendels yang telah membantu bebarapa penyerangan dalam perang yang berkecamuk di rusia, segera di panggil. dan Herman Willem Daendels adalah seorang perwira belanda yang sampai sekarang namanya hanya dipakai untuk penyebutan jalan di kota kota tertentu saja, dan kota kelahiranya saja, beliau tidak di terima di kerajaan belanda. Pada tahun 1808 Louis Napoleon mengirimkan Marsekal Willem Daendels keBatavia sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia. Tugas utama Daendels adalah melakukan reorganisasi pemerintah serta mempertahankan wilayah Hindia dari kemungkinan datangnya serangan Inggris.  Bendera perancis segera di kibarkan di beberapa loji dagang milik VOC, Hal ini mengawali sejarah kolonialisme Prancis di tanah Jawa yang hanya berlangsung selama tujuh bulan saja.[2]
Ketika itu pemerintahan Indonesia dipusatkan seluruhnya di Jawa. Salah satut untutan Prancis terhadap raja-raja Jawa ketika itu adalah tuntutan agar parapenguasa di Surakarta dan Yogyakarta memperlakukan utusan-utusan dari Pemerintah Hindia Belanda sebagai wakil Pemerintah Eropa sehingga mereka harus diperlakukan sederajat dengan raja-raja itu sendiri. Sultan Hamengkubuwono II dari Yogyakarta menolak tuntutan tersebut.
 Pada bulan Desember 1810, Daendels membawa 3.200 serdadu ke Yogyakarta danmemaksa Sultan Hamengkubuwono II turun dari tahta kemudian menunjuk putramahkotanya, Sultan Hamengkubuwono III sebagai penggantinya. Selain itu Daendels mendapat 500.000 gulden sebagai rampasan dari Yogyakarta.
Untuk menjalankan tugas utamanya untuk menjaga pertahanan di pulau Jawa,dia membangun jalan di sepanjang pantai Utara Jawa yang dimulai dari Anyer sampai Panarukan, yang dikenal sebagai jalan pos besar. Pembangunan jalan ini adalah proyek monumental Daendels, namun harus dibayar mahal dengan banyak pelanggaran hak-hak asasi manusia karena dikerjakan secara paksa tanpa imbalan atau kerja rodi. Ribuan penduduk Indonesia meninggal dalam kerja paksa ini. Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 – 1810 yang pada awalnya  bertujuan untuk mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga Panarukan atau sebagai jalan pos, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya dibangunnya juga karena manfaat militernya, yaitu untuk mengusahakan tentara-tentaranya bergerak dengan cepat dan semenjak saat itu, jaringan transportasi darat dipulau Jawa mengalami perkembangan yang sangat pesat.[3]
Dalam pembangunan proyek ini, Daendels mewajibkan setiap penguasa pribumi untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Sadisnya, priyayi atau penguasa pribumi yang gagal mengerjakan proyek tersebut, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Tak hanya itu, kepala mereka lalu digantung di pohon-pohon kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan, dia kejam, sadis dan tak kenal ampun. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan, korban meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meninggal tanpa dikuburkan secara layak.
Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, dia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.
Tak Hanya hal itu Daendels telah memecat beberapa dewan Hindia yang di duga melakukan korupsi. Dan memisahkan Jawa menjadi 6 Dewan Hindia. Daendels juga melunturkan kehormatan lokal pada Raja raja Jawa pada saat itu, Daendels membuat peraturan tentang perlakuan raja-raja Jawa kepada para Minister di kratonnya. Jika di zaman VOC para residen Belanda diperlakukan sama seperti para penguasa daerah yang menghadap raja-raja Jawa, dengan duduk di lantai dan mempersembahkan sirih sebagai tanda hormat kepada raja Jawa, Minister tidak layak lagi diperlakukan seperti itu. Minister berhak duduk sejajar dengan raja, memakai payung seperti raja, tidak perlu membuka topi atau mempersembahkan sirih kepada raja, dan harus disambut oleh raja dengan berdiri dari tahtanya ketika Minister datang di kraton. Ketika bertemu di tengah jalan dengan raja, Minister tidak perlu turun dari kereta tetapi cukup membuka jendela kereta dan boleh berpapasan dengan kereta raja. Menghapuskan upacara adat dan lebih menonjolkan budaya tanam paksa Culturr Stelsel, dan Coffe Stellsel.[4]
Karena tindakan otoriter yang di lakukan oleh Deandels sebelum terjadi serangan inggris, deansdels ditarik kembali ke eropa. Pemanggilan pulang ini dipertimbangkan oleh Napoleon sendiri. Dalam rangka penyerbuan ke Rusia, Napoleon memerlukan seorang jenderal yang handal dan pilihannya jatuh kepada Daendels. Dalam korps tentara kebanggaan Perancis (Grande Armee), ada kesatuan Legiun Asing (Legion Estranger) yang terdiri atas kesatuan bantuan dari raja-raja sekutu Perancis. Di antaranya adalah pasukan dari Duke of Wurtemberg yang terdiri atas tiga divisi (kira-kira 30 ribu tentara). Tentara Wurtemberg ini sangat terkenal sebagai pasukan yang berani, pandai bertempur tetapi sulit dikontrol karena latar belakang mereka sebagai tentara bayaran pada masa sebelum penaklukan oleh Perancis. Napoleon mempercayakan kesatuan ini kepada Daendels dan dianugerahi pangkat Kolonel Jenderal.
Beberapa perwira dari Inggris bahkan mempunya pendapat berbeda beda dalam mendeskripsikan Daendels. Gubernur Lord Minto dari Inggris, menganggap Daendels adalah monster yang terlahir dari kelamnya relovusi Prancis, tidak mengenal peri kemanusiaan dan merupakan sangat tiran. Sedangakan Gubernur Thomas S Raflles berpendapat, Daendels adalah perwira yang disiplin dan pandai menata manajemen. Sedangkan raja raja Jawa sering menyebut Daendels adalah, Mas Guntur, Tangan Guntur.
Langkah-langkah kebijaksanaan Daendels untuk mempertahankan P. Jawa
Dalam bidang sosial ekonomi :
1)  Contingenten yaitu kewajiban rakyat menyerahkan hasil bumi sebagai pajak kepada pemerintah
2)  Verplichte Leverantie yaitu kewajiban rakyat menjual hasil panen hanya kepada pemerintah Belanda dengan harga yang telah ditentukan.
3)   Prianger Stelsel yaitu kewajiban penduduk Priangan untuk menanam kopi
4)  Kerja rodi yaitu kerja paksa bagi penduduk untuk membuat jalan raya Anyer Panarukan
5) Menjual tanah-tanah Negara kepada pihak swasta atau partikelir  (landelijk Stelsel)
Dalam bidang pemerintahan :
1)      Pulau jawa di bagi menjadi Sembilan karisedenan
2)      Para bupati dijadikan pegawai pemerintah  Belanda
3)      Perbaikan gaji pegawai dan memberantas korupsi
4)      Pendirian badan-badan pengadilan
Berakhir pemerintahan deandles,  Daendels sebenarnya seorang liberal, tetapi setelah tiba di Indonesia berubah menjadi seorang diktator yang bertindak kejam dan sewenang-wenang. Akibatnya, pemerintahannya banyak menimbulkan kritik, baik dari dalam maupun dari luar negeri, akhirnya Daendels dipanggil pulang ke Negeri Belanda.
Kemudian Louis Napoleon kemudian mengangkat Jan Willem Janssens, yang sebenar nya janssens ternyata tidak mampu menahan serangan Inggris dan ia sebenarnya memiliki reputasi yang payah dalam peperangan, dan pernah di kalahkan inggris di tanjung harapan pada 1806. Yang ketika itu, ia hanya dapat bertahan selama satu bulan.[5]
Pada bulan agustus 1811, sebuah armada inggris mendaratkan pasukan di Batavia. Janssens mundur ke semarang untuk bergabung dengan Legiun Mangkunegara dan prajurit Surakarta serta Yogyakarta. Namun akibat pembangkangan yang dilakukan oleh anak buah nya, akhirnya pada tanggal 18 september. Janssens menyerah kepada pihak inggris di Kalituntang Salatiga. Ia pun menandatangani penyerahan kekuasaan itu di daerah Tuntang Salatiga. Oleh karena itu, perjanjian itu dikenal dengan nama Kapitulasi Tuntang (18 September 1811). Isi pokoknya ialah seluruh Pulau Jawa menjadi milik Inggris. Sejak saat itu, Indonesia menjadi jajahan Inggris. Dan pemerintahan Prancis di Indonesia pun berakhir yang kemudian di lanjutkan oleh Inggris.
Daftar Pustaka :
[1] S uwito, triyono. 2009 Sejarah sekolah menengah atas jilid 2 kelas XI. Jakarta : pusat perbukuan, departemen Pendidikan nasional.
[2] taruasena M. Sejarah SMA/MA program IPS jilid 2. Jakarta : department Pendidikan nasional,2009.
[3] www.cour sehero.com/file/8360063/PENJAJAHAN-PRANCIS-DI-INDONESIA
[4] edririsanti.blogspot.com/2012/09/penjajahan-perancis-ke-indonesia
[5] arnipurnamawati.wordpress.com/2011/12/29/indonesia-pernah-dijajah-prancis

Post a Comment

 
Top