Marlogam purba/SA
Orang-orang asli Australia dikenali sebagai orang Aborigin. Mereka yang telah tinggal di benua tersebut selama beratus-ratus tahun telah mengalami penghapusan paling besar di dalam sejarah karena kedatangan orang-orang dari Eropa di negara tersebut. Orang-orang eropa ini melakukan pembantaian terhadap orang Aborigin, sejak pertama kali mereka menginjakkan kakinya di tanah asli milik leluhur suku Aborigin itu. Selain karena mengikuti ajaran Tuhannya, kebiadaban orang eropa terhadap orang Aborigin di Australia juga karena mereka orang-orang eropa pembunuh itu berpedoman pada Teori Evolusi (Darwinisme), ciptaan seorang yang bernama Charles Darwin. Pandangan ideologi Darwinisme tentang orang-orang Aborigin telah membentuk teori liar yang telah menyiksa mereka.
Bangsa pribumi Australia, Aborigin ini telah dilihat sebagai satu spesies manusia yang tidak membangun oleh para pendukung teori evolusi dan telah dibunuh beramai-ramai. Pada tahun 1890 Wakil Presiden Royal Society di Tasmania, James Barnard, telah menulis: "proses pemusnahan ini adalah satu prinsip evolusi dan 'yang kuatlah, yang terus hidup' yang telah diterima umum". Oleh karena itu adalah tidak perlu untuk beranggapan bahwa "telah berlaku kecualian yang buruk" di dalam pembunuhan dan pencabulan terhadap orang-orang Aborigin Australia.
Hasil daripada pandangan rasialis, ganas, dan liar yang telah dipupuk oleh Darwin ini, satu operasi pembunuhan beramai ramai telah dijalankan untuk menghapuskan orang orang Aborigin. Kepala Aborigin telah dipaku di pintu pintu stasiun oleh orang orang eropa "tamu tak diundang itu". Roti beracun telah diberikan kepada keluarga keluarga Aborigin. Di kebanyakan kawasan kawasan Australia, kawasan penempatan Aborigin telah dihapuskan dengan cara yang ganas dalam masa 50 tahun.
Kebijakan-kebijakan yang ditujukan kepada orang-orang Aborigin ini tidak hanya terhenti dengan pembunuhan beramai-ramai. Banyak di antara mereka yang dijadikan sebagai hewan-hewan eksperimen. Institut Smithsonia di Washington D.C. telah menyimpan 15.000 jasad orang bangsa ini yang masih utuh. 10.000 orang Abogin Australia telah dihantar dengan kapal laut ke Museum British dengan tujuan untuk memastikan apakah mereka benar-benar adalah "mata rantai yang hilang" (missing link) di dalam perubahan dari monyet kepada manusia, sesuai teori Darwin.
Museum museum ini tidak hanya berminat dengan tulang tulang mereka, tetapi dalam masa yang sama mereka juga menyimpan otak kepunyaan orang orang Aborigin ini dan menjualnya dengan harga yang tinggi. Terdapat juga bukti yang menunjukkan bahwa orang orang Aborigin ini juga dibunuh untuk digunakan sebagai speimen. Fakta dibawah membuktikan keganasan ini. [1]
Memori sebelum mati dari Korah Wills, yang telah menjadi walikota Bowen, Queensland pada 1866, telah menceritakan bagaimana dia telah membunuh dan memenggal seorang penduduk asli pada tahun 1865 untuk mendapatkan spesimen sains. Edward Ramsay, pegawai kurator Australian Museum di Sydney sejak 20 tahun dari tahun 1874, juga ikut terlibat. Beliau telah menerbitkan sebuah risalah yang memasukkan Aborigin di bawah tajuk "hewan-hewan Australia". Ia juga memberikan panduan tidak hanya bagaimana hendak merompak kubur, tetapi juga bagaimana untuk mencabut peluru daripada daging "spesimen" yang telah dibunuh.
Seorang pendukung teori evolusi dari Jerman, Amalie Dietrich (digelar juga 'Angel of Black Death') telah datang ke Australia dan bertanya kepada pemilik-pemilik stasiun tentang Aborigin untuk dibunuh demi mendapatkan spesimen, selalunya kulit mereka dijadikan sebagai sarung pelapik dan rangka untuk majikan museumnya. Walaupun, pernah dihalau sekurang-kurangnya sekali, tetapi dalam masa yang singkat beliau telah kembali bersama spesimennya.
Seorang missionaris di New South Wales adalah saksi atas penyembelihan oleh polisi atas berlusin-lusin orang Aborigin, baik lelaki, perempuan dan anak-anak. Empat puluh lima kepala telah dididihkan dan 10 tengkorak yang sempurna telah dibungkus untuk dikirim ke luar negeri. Eksperimen ke atas orang-orang Aborigin ini terus berkelanjutan hingga abad ke-20. Di antara metode yang digunakan di dalam eksperimen ini ialah pemisahan secara paksa anak-anak Aborigin dari keluarga mereka. Cerita baru oleh Alan Thornhill, yang telah muncul di dalam edisi 28 April 1997 Philadelphia Daily News, telah menceritakan dengan panjang lebar tentang metode ini yang digunakan untuk menentang Aborigin.
Antara tahun 1910 sampai 1970-an, kira-kira 100.000 anak-anak Aborigin telah diambil daripada orang tua mereka. anak-anak Aborigin yang berkulit cerah itu akan diberikan kepada keluarga-keluarga kulit putih sebagai anak angkat. Kanak-kanak berkulit hitam pula menjadi yatim piatu.
Sehingga kini, kepedihannya amat dahsyat sehinggakan kebanyakan cerita-cerita telah dicetak secara diam-diam di dalam laporan akhir lembaga tersebut, "Bringing Them Home". Lembaga tersebut menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan ketika itu adalah bersamaan dengan pemusnahan bangsa seperti yang digambarkan oleh PBB. Pemerintah Australia telah menolak untuk mengikuti penyelidikan yang akan dilakukan dimana sebuah dewan telah dibentuk untuk menilai pembayaran ganti rugi untuk anak-anak Aborigin yang diculik.
Seperti yang kita lihat, layanan tidak berperikemanusiaan ini, pembunuhan beramai-ramai, keganasan, kebuasan, dan pemusnahan yang dilakukan telah dijusfikasikan oleh Alkitab, juga berpegang pada tesis Darwin tentang "pilihan langsung", "perjuangan untuk terus hidup", dan "'yang kuatlah, yang terus hidup'". Segala penyiksaan yang dialami oleh orang-orang asli Australia ini hanyalah sebagian kecil daripada malapetaka yang dibawakan oleh Inggris dan Darwinisme kepada dunia. Yang pasti, Inggris telah melakukan pembunuhan dan penekanan terhadap ribuan penduduk asli benua Australia, suku Aborigin dan suku Maori (New Zealand).
Diskriminasi terhadap penduduk asli yang jumlahnya sudah menyusut jauh tersebut masih terus berlangsung sampai saat ini. Ironis memang, "si empunya rumah" (penduduk asli) justru menjadi tamu di negerinya sendiri, dan kaum pendatang yang bengis-bengis itu justru telah menjadi "si tuan rumah". [2]
Di dalam buku beliau The Origin of Species Darwin melihat penduduk asli Australia dan negro sebagai makhluk mkhluk yang sama taraf dengan gorilla dan mengatakan bahwa bangsa bangsa ini akan lenyap. Sementara bagi bangsa bangsa lain yang dilihatnya sebagai "bermartabat rendah", dia menegaskan bahwa perlu untuk menyekat mereka supaya bangsa bangsa ini pupus. Oleh karena itu, laluan rasisme dan diskriminasi yang msaih wujud hingga hari ini, telah disahkan dan diterima oleh Darwin dengan cara ini.
Memang sungguh malang sekali nasib bangsa Aborigin. Mereka adalah bangsa asli pemilik sah benua Australia. Namun ketika orang-orang itu menerobos masuk Australia, bangsa Aborigin yang tidak memiliki senjata itu telah diperlakukan secara sangat tidak manusiawi. Di mata Inggris, Aborigin tidak lebih daripada hewan liar yang mesti diburu dan dibunuh. Tangan orang-orang Inggris benar-benar berlumuran darah ketika mencaplok Australia. Bangsa Aborigin terpaksa menerima proses "civilized" dan "cultured" yang diterapkan oleh penjajah Inggris. Captain Arthur Phillip memperhitungkan, kira-kira 1.500 bangsa Aborigin di sekitar Sydney di tahun 1788. Akan tetapi angka tersebut merosot tajam kepada kurang dari 200 orang yang hidup tahun 1830-an.
Carles Darwin yang berkelana ke Australia tahun 1836, masih sempat menyaksikan angka tragis itu. Kunjungan Charles Darwin kononnya membawa misi humanitarian untuk menyelamatkan dan memelihara keturunan Aborigin supaya tidak musnah, akan tetapi realitas yang terjadi adalah, mereka diburu oleh orang-orang Inggris seperti binatang buas. Mereka juga diperkosa, serta perkampungan mereka dibakar dan dihanguskan oleh orang-orang Inggris itu.
Beberapa tahun kemudian, bangsa Aborigin tersisa hanya beberapa orang saja lagi di jalan Sidney, hidup sebagai manusia yang hina di tanah airnya sendiri dan tidak memiliki lagi masa depan. Kenangan ini dilukiskan Darwin sbb: "Dimana saja-Orang Eropa telah menyakiti hati sepanjang masa, membunuh. Memburu orang Aborigin menjadi kebanggaan sebelum mati. Kita bisa menyaksikan dengan jelas merata tempat di Amerika, Polynisia, Cape dan Australia, ternyata sama hasilnya…" [3]
Sesudah mobilitas politik Inggris mapan, barulah pada pada tahun 1831, kepada bangsa Aborigin yang berdomisili di wilayah Tasmania, dipaksa menerima Hukum Perkawinan made-in British. Bagaimanapun bangsa Aborigin menolak, sebab mereka juga memiliki hukum perkawinan mengikut budaya dan kepercayaannya sendiri. Sebagai balasan kepada mereka yang menolak, mereka dikapalkan ke sebuah pulau di Bass Strait. Tragis sekali, dalam jangka masa satu tahun saja, jumlahnya kurang dari 50 orang lagi yang tinggal. "Theylast pure-blooded Tasmanian died in 1876″.
Diatas kejadian itu Charles Darwin ketika mengunjungi Tasmania berkata "Aku takut bahwa disana ada keraguan bahwa kereta kejahatan/iblis ini dan konsekuensinya dimulai didalam perlakuan buruk yang dilakukan oleh orang orang kita.
Di Maralinga, suatu negeri dimana bangsa Aborigin menetap di sana. Inggris telah melakukan ujian bom atom. Laporan daripada "Ujian ini pada umumnya telah memungkinkan sekali terjadinya pertambahan jumlah penderita penyakit cacar diantara orang Australia sendiri, kalangan Aborigin yang berdekatan dengan lokasi dan secara langsung ribuan dari pekerja dan orang sipil juga ikut merasakan akibat daripada ujian tersebut"
Begitulah arogansi dan keangkuhan penjajah Inggris ketika itu untuk melucuti bangsa Aborigin melalui metode 'civilized' dan 'cultured' yang dilaksanakan Inggris. Ketika kulit putih datang pertama kalinya pada tahun 1788, Sydney ibarat sebuah museum raksasa Aborigin berisi sekitar 10.000 batu ukiran dan beragam karya kesenian lainnya. Baru sebagian saja peninggalan itu digali dan ditemukan, yang lainnya menjadi korban vandalisme kulit putih. Belum lama ini, salah satu karya dihancurkan cuma karena tempat itu dijadikan lapangan golf. Dalam versi pemerintahan Australia kulit putih, orang orang Aborigin yang dikolonialisasi itu adalah rakyat yang bermusuhan dan tidak beradap. Akan tetapi, bagi Aborigin kedatangan penjajah putih itu mengawali sebuah invasi dan penghancuran yang tak habis habisnya bagi kebudayaan mereka. .
Jadi tak bisa dipungkiti lagi, ribuan orang Aborigin telah dibunuh secara kejam oleh orang-orang eropa tersebut, atau mati karena berbagai penyakit menular. Sebagian diculik, lalu dibawa ke Inggris untuk dihukum mati. Lebih mengerikan lagi, di dalam masyarakat mereka hanya digolongkan bersama binatang dan tumbuhan, dan baru memperoleh kewarganegaraan tahun 1967. Sebagian lagi wajib mengenakan "kalung anjing" sebagai tanda pengenal.
Australia juga menerapkan Undang-Undang Kesejahteraan Nasional (National Welfare Act), yang mengesahkan pemerintah memisahkan anak Aborigin dari orang tuanya. Akibat UU tersebut, dari tahun 1910 sampai 1970, sedikitnya 100.000 anak Aborigin yang pada umumnya berasal dari ayah atau kakek berkulit putih, terpisah dari orang tuanya. Anak Aborigin itu ditempatkan di panti asuhan yang disubsidi pemerintah. Biasanya, yang berkulit sedikit terang diadopsi keluarga kulit putih Australia. Mereka yang berkulit gelap biasanya akan menghabiskan masa kanak-kanak mereka di panti asuhan dengan sedikit atau tanpa pendidikan memadai. Pemerintah Australia menganggap kebijakan itu sebagai kebijakan kemanusiaan untuk mengangkat harkat bangsa Aborigin. Dalam kenyataannya, kebijakan itu mengeliminasi jumlah orang Aborigin, yang berada di Australia sejak 60.000 tahun silam.
Yang diharapkan oleh orang-orang Inggris ini adalah, keturunan asli Aborigin akan meninggalkan habitat mereka, kemudian musnah karena meninggal akibat penyakit atau tingkat kelahiran rendah. Rencana ini hampir berhasil. Populasi Aborigin di Australia terus menyusut dari sekitar 60.000 jiwa pada tahun 1870-an menjadi tinggal 20.000 jiwa pada dasawarsa 1930-an. Diskriminasi terhadap bangsa Aborigin itu sampai kini masih terus berlangsung. Agaknya, bagi orang-orang Australia, daripada harus mengakui kesalahan sendiri, mereka lebih suka menjadi "ksatria kulit putih" bagi orang Timtim, sepupu dekat bangsa Aborigin. Kini mereka juga ingin menjadi pahlawan kesiangan "SEAKAN-AKAN mereka tidak berlumuran darah orang Aborigin yang mereka bantai" kepada orang-orang Papua (Irian) di Indonesia. [4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] Siboro, Drs, J. 1989. Sejarah Australia, Bandung. Penerbit Tarsito.
[2] http://Galang-Patria.blogspot.com/2011/06/Sejarah-AustraliaSelatan.Html
[3] Drs, Santoso & Dra, Anik andayani. Sejarah Australia dan Oceania. Surabaya : UNIPRESS IKIP Surabaya.
[4] http://id.Wikipedia.org/wiki/Tasmania

Post a Comment

 
Top