ASRIATUL RAHMA/S/B

Orde Baru yang muncul sebagai koreksi total terhadap Orde Lama ternyata hanya dalam wacana. Pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan Orde Lama, berbagai penyimpangan tetap terjadi. Krisis ekonomi yang berkepanjangan bermuara pada tumbangnya pemerintah Orde Baru dan lahirnya Orde Reformasi. Lahirnya Orde Reformasi di indonesia di tandai dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden Republik indonesia pada tanggal  21 Mei 1998[1].

1.      Krisis Politik
            Setahun sebelum pemilu 1997, kehidupan politik indonesia mulai panas. Di tengah ketegangan politik, persoalan lain yang dihadapi oleh bangsa indonesia adalah krisis moneter. Akibat krisis moneter, kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Soeharto semakin berkurang.
Salah satu penyebab mundurnya Soeharto adalah melemahnya dukungan politik terhadapnya. Melemahnya dukungan politik itu terlihat dari pernyatan politik kosgoro (salah satu organisasi di bawah Golkar) yang meminta Soeharto mundur dari jabatannya. Pernyataan Kosgoro pada tanggal 16 Mei 1998 tersebut diikuti pernyataan ketua Umum Golkar, Harmoko yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua MPR/DPR Republik Indonesia yang memita Soeharto untuk mundur.
2.      Krisis Ekonomi
Selama pemerintah Orde Baru, pembangunan nasiona l indonesia terlihat sangat berhasil. Pendapatan perkapita masyarakat indonesia pada tahun 1960-1970 sekitar US$ 70. Sedangkan pada tahun 1997 telah mencapai UU$ 1.185. Peningkatan itu merupakan pertumbuhan yang luar biasa. Pertumbuhan yang di capai hanya semu belaka karena berasal dari utang luar negeri.
Keroposnya perekonomian indonesia semakin parah karena tindakan para konglomerat yang menyalah gunakan possisi mereka sebagai pelaku pembangunan ekonomi. Mereka mengeruk banyak utang tanpa ada kontrol dari pemerintah dan masyarakat. Semua itu terjadi dengan leluasa karena berkembangnya budaya kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) yang luar biasa.
Pada pertengahan tahun 1997, perekonomian negara-negara Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Malaysia, dan Thailan tergoncang karena secara tiba-tiba nilai tukar dolar Amerika Serikat melonjak. Ribuan perusahaan bangkrut dan jutaan orang menganggur. Meskipun banyak faktor yang menyebabkan krisis moneter ini, namun salah satu sebab utamanya adalah para spekulen valuta asing yang telah memborong dolar, lalu menjualnya dengan harga  tinggi sehinggamata uang negara ASEAN terpuruk[2].
3.      Krisis Sosial
Kesenjangan ekonomi menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial di tengah masyarakat. Gerakan moral dalam aksi damai menuntut reformasi mulai di tunggangi berbagai kepentingan invidu dan kelompok. Aksi penjarahan dan pembakaran terjadi dimana-mana. Aksi kerusuhan dan penjarahan puncaknya terjadi pada tunggal 13-14 Mei 1998 di Jakarta dan Surakarta. Dalam kerusuhan di dua kota tersebut lebih dari seribu orang tewas.
  1. Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru
  1. Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000.
  2. Sukses transmigrasi.
  3. Sukses KB.
  4. Sukses memerangi buta huruf.
  5. Sukses swasembada pangan.
  6. Pengangguran minimum.
  7. Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
  8. Sukses Gerakan Wajib Belajar.
  9. Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh.
  10. Sukses keamanan dalam negeri.
  11. Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia.
  12. Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri.
  1. kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru
  1. Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme.
  2. Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pem-bangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan dae-rah sebagian besar disedot ke pusat.
  3. Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua.
  4. Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya.
  5. Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin).
  6. Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan.
  7. Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel.
  8. Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius" (petrus).
  9. Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya).
  1. Kronologi Jatuhnya Kekuasaan Orde Baru
  1. 22 Januari 1998 : Rupiah Melemah terhadap dollar AS. Nilai mata uang rupiah menenbus angka Rp17.000,00. Per dollar[3].
  2. 2 Februari 1998 : Presiden Soeharto mengangkat Wiranto sebagai panglima ABRI.
  3. 10 Maret 1998 : Seoharto kembali terpilih sebagai presiden yang ketujuh kali, di dampingi wakil presiden B.J Habibie.
  4. 4 Mei 1998 : Harga bahan bakar minyak naik hingga 71% yang diikuti dengan kenaikan tarif transfortasi.
  5. 9 Mei 1998 : Presiden Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk menghadiri pertemuan negara-negara berkembang.
  6. 12 Mei 1998 : Tragedi Trisakti, 4 orang mahasiswa Trisakti tewas.
  7. 13 Mei 1998 : Kerusuhan massa terjadi di Jakarta dan Solo, Soeharto memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
  8. 14 Mei 1998 : Demonstrasi bertambah besar hampir diselurh kota-kota besar di Indonesia.
  9. 18 Mei 1998 : Ketua MPR/DPR, ketua umum Harmoko mengeluarkan pernyataan agar Soeharto mundur dari jabatannya, mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR.
  10. 19 Mei 1998 : Presiden Soeharto berbicara di depan TVRI ia menyatakan tidak akan mengundrukan diri tetapi akan merombak cabinet dan membentuk Komite Reformasi.
  11. 20 Mei 1998 : Amien Ras membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas karena di jaga ketat.
  12. 21 Mei 1998 : Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pukul 19.00 WIB, wakil presiden B.J Habibie menjadi presiden yang baru.

Notes:
[1] Husken (ed). 1997. Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial: Indonesia di Bawah Orde Baru. Jakarta: LP3NI. Halaman 35.
[2] Pattiradjawane, Rene L. 1999. Trisakti Mendobrak Tirani Orde Baru. Jakarta: Grasindo. Halaman 72.
[3] Taufik Abdullah. Krisis masa kini dan Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003. Halaman 15.

DAFTAR PUSTAKA

-        Husken (ed). 1997. Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial: Indonesia di Bawah Orde Baru. Jakarta: LP3NI.
-        Pattiradjawane, Rene L. 1999. Trisakti Mendobrak Tirani Orde Baru. Jakarta: Grasindo.
-        Taufik Abdullah. Krisis masa kini dan Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.


Post a Comment

 
Top