Yosdalifa Katrin/SI3

Di zaman dahulu kala jua dijadikan Allah ta'ala doa orang Raja Islam yang amat besar dalam dunia ini seorang nabi Allah Sulaiman, seorang Raja Iskandar juga . . .;maka, pada zaman kita sekarang inipun, ada jua dijadikan Allah ta'ala dua orang Raja yang amat besar dalam alam dunia ini, maka yang dari pada pihak magrib, kitalah Raja yang besar, dan daripada pihak masyrik itu, Seri Sultan Perkasa Alam Raja yang besar.
Diatas merupakan hikayat aceh yang ditulis oleh Beaulieu. Agar lengkap gambaran perkembangan
Aceh, sudah sepatutnya kita perhatikan pribadi Sultan yang namanya dikenang dalam zaman keemasan aceh. Fakror yang menyebabkan keberhasilan aceh sudah pasti beraneka ragam dan rumit. Tidak bias dianggap dari keberhasilan dari satu orang saja, tapi juga ada peranan yang dipegang oleh Iskandar Agung.
Keluarga dan Masa Kecil Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan Raja yaitu dari Darul Kamal, sedangkan dari pihak lelurur ayah adalah keturunan dari Raja Minangkabau di Pariaman, dan juga sang ayah Sultan Iskandar Muda masih memiliki hubungan darah dengan Aceh. Salah satu leluhurnya yaitu Puteri dari Mahkota Alam yang kemudian dipersunting oleh Raja Pariaman.
Dahulunya Darul-Kamal dan Mahkota Alam merupakan dua tempat pemukiman bertetangga yang dipisah oleh sungai dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Darussalam. Iskandar Muda mewakili dua cabang itu, pada dasarnya ia berhak menuntut tahta. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, nama lainnya adalah Paduka Syah Alam merpakan anak dari pihak Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh yang ke-10 yaitu putra dari Sultan Firman Syah, sedangkan Sultan Firman Syah merupakan anak atau cucu (menurut Djajadiningrat) Sultah Inayat Syah, Raja Darul Kamal


Nama Iskandar Muda
Dalam pembahasn ini, timbul persoalan yang rumit. Apakah nama Iskandar Muda itu yang selalu diberikan kepadanya oleh tradisi dan oleh sejarah. Tidak ada satupun naskah sebelum wafatnya Sultan, baik yang berasal dari Aceh maupun Eropa yang menyebut nama itu. Dalam Hikayat Aceh nama pangeran muda itu hanya disebut dengan nama-nama Pancagah, Johan Alam, Perkasa Alam, sedangkan nama Iskandar tidak terdapat didalamnya. Hal ini sebenarnya tidak memuktikan apa-apa karna naskah itu berhenti jauh sebelum raja itu naik tahta. Ada alasan lain yang dikemukakan dalam sepucuk surat kepada James I dari Inggris yaitu pada 1024 H (1613 M) pangeran itu menamakan dirinya Sri Sultan Perkasa Alam Juhan berdaulat yang bergelar Makuta Alam dan gelar Makuta Alam itu ternyata hanya terdapat dalam kata persembahan sebuah karya Syam ud-Din dari pasai. Cukuplah hal itu untuk menyatakan bahwa Iskandar Muda hanyalah gelar anumerta? Ada tanda-tandanya yang dapat menimbulkan pendapat yang   berlawanan.
Kronik yang diterjemahkan oleh Dulaurier mengatakan bahwa sang pangeran diberi nama Iskandar Muda pada hari penobatannya. Maka kerajaan Mahataja Darma (di) Wangsa Tun pangkatnya bergelar Iskandar Muda pada hari itu juga. Selain naskah ini yang juga disebut oleh Teuku Iskandar meskipun berlawanan dengan pendapatnya. Pada folio 49a dalam Adat Aceh dikatakan pada tahun 1015 H atau 1606/7 M (pada tahun penobatannya) paduka Sri Sultan Iskandar Muda Johan berdaulat itu memerintahkan diadakannya kompilasi tarakataatau perintah-perintah raja.
Pada folio 113b naskah yang sama dikatakan bahwa pada tahun 1045 atau   1635/6 (tahun pemerintahannya yang terakhir) Paduka Sri Sultan Iskandar Muda Johan berdaulat dengan mengeluarkan apa yang dinamakan  dengan maklumat monopoli. Perlu ditambahkan bahwa Djajadiningrat menyebut adanya sebuah mas yang bertuliskan nama Iskandar Muda.
Berbagai nama dan gelar yang dimilikinya menunjukkan kemasyurannya, baik didalam Aceh maupun luar Aceh, termasuk diluar, sejak masa itu hingga kini. Didalam negeri Aceh tidak seorang putra Aceh yang tidak yang tidak mengenal nama ini pada masa itu, dari dahulu hingga sekarang sampai ke pelosok orang mengenal siapa Iskandar Muda.

Kekuasaan Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda berkuasa mulai pada tahun 1606-1636, lalu segera melakukan ekspedisi angkatan laut, yang kemudian mendapat kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia. Selama 30 tahun kekuasaannya membawa kerajaan Aceh Darussalam kepada kejayaan, telah menjadi kerajaan Islam kelima terbesar di Dunia. Seluruh  wilayah semenanjung Melayu telah disatukan dibawah kekuasaannya dan secara ekonomi kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki hubungan diplomasi perdagangan internasional.
Telah diadakan penelitian tentang " fungsi raja dalam berbagai kerajaan Melayu", yang pertama yang perlu ditekankan adalah bahwa mengenai kekuasaan dan batas-batasnya sudah sejak abad XVII merupakan pokok pemikiran sebagaimana yang digemakan oleh beberapa naskah Melayu. Iskandar dan para penasehatnya yang dekat telah membahas tentang cara terbaik untuk membina rakyat, tidak hanya sekedar hak-hak Sultan, tapi bagaimana dengan kewajiban-kewajibannya, mereka laksanakan penuh dengan rasa tanggungjawab tentang apa yang telah menjadi tugas mereka , kebanggannya tidak kalah dengan dar kebanggan Louis XIV dan pengiringnya di Perancis.
Menurut adat Aceh, asas-asas pokok berjumlah 10
1.      Tahta yang bertumpu pada kekuasaan.
2.      Ketegasan dalam memerintah.
3.      Kesabaran apabila sedang murka.
4.      Mengangkat yang lemah.
5.      Merendahkan yang besar kuasanya.
6.      Menghormati yang hina.
7.      Merendahkan yang sombong.
8.      Mematikan yang hidup, dan mengidupkan yang mati ( sudah tentu pembatasan yang janggal  untuk apa yang kita namakna dengan hak hidup dan mati.
9.      Keikhlasan sewaktu mendengarkan ada seseorang yang menghadap.
10.  Kemasyuran dalam keadilan, yang tersiar sampai keluar negeri.

Sebuah program pemerintahan yang cukup baik ini secara bijaksana melunakkan kekuasaan berkat budi yang mulia. Yang disertai dengan dilukiskan dalam beberapa bab Mahkota Raja-raja.
            Dari banyak segi Sultan Aceh memang tetap raja Melayu gaya lama. Dirinya sendirilah yang paling penting, sama pentingnya dengan kemauannya, dan orang tidak dapat menghadapnya sebelum dapat menerima kerisnya. Dan alat-alat kerajaan yang selalu mengikutinya kemana-mana. Pada hari-hari tententu biasanya sang raja tidak bias dikunjungi dan melihatkan dirinya kepada penduduk dan melintasi ibu kotanya dengan kemewahan besar dan menerima pegawainya dan menyuguhkan kepada mereka sisa-sisa makanan dari meja makannya. Berziarahpun sangat jarang dilakukannya. Itulah ciri khas suatu kadaulatan yang telah terdapat jauh-jauh hari di Asia Tengggara yang juga terdapat di Indonesia.
            Telah dikatakan bahwa perjanjian pertama Belanda-Aceh yang memberikan hak kepada Belanda untuk membangun benteng di Aceh, perjanjian itu ditanndatangani pada 17 Januari 1607. Perjanjian ini juga berkenaan dengan keinginan Belanda untuk mengajak Aceh menjadi sekutu untuk melawan Portugis, namun, setelah Iskadar Muda naik tahta perjanjian itu di anulirnya.
            Semenjak Sultan Iskandar Muda naik tahta banyak perubahan-perubahan besar yang terencana berlaku dengan cepat, yaitu yang jelas tampak adalah kemajuan suatu Negara bergantung dengan kemajuan ekonominya. Dia menyimpulkan bahwa produk-produk hasil bumi Nusantara sangat diincar dan menjadi rebutan bangsa-bangsa Eropa. Dan juga dia juga mengetahui bahwa letak Aceh diujung pulau Sumatera yang menguntungkan merupakan  suatu karunia yang sangat berharga.
            Disamping itu, segi-segi kelemahan Aceh juga terbayang dimatanya. Lalu lintas selat malaka tidak tergenggam sepenuhnya di tangan kerajaan pribumi sendiri, lalu lintas itu juga tidak dikuasai dan dikoordinasi dalam suatu kebijakan, tidak ada artinya bagi daya tahan dan perkrmbangan kerajaan. Lebih lagi berhubunga  dengan terkenlnya kepulauan ini di di dunia barat. Mereka datang dari tempat yang jauh sekali, bertarung jiwa, mengarungi lautan, dan juga ombak-ombak yang tinggi yang mereka hadapi. Tentu tanpa mendapat imbalan laba yang sesuai mereka tidak akan melakukan pertarungan yang berbahaaya itu. Setiap kali menghadapi bahaya persaingan antara sesame mereka, mereka pun saling bunuh-menbunuh. Ini merupakan dorongan nafsu mereka untuk menguasai apa saja yang bisa didapat. Meraka dari negeri mereka tidak datang sendiri-sendir melainka dengan rombongan, dengan kapal perang yang lengkap dengan senjata-senjata dengan modal yang besar. Mereka juga membawa barang-barang yang langka , mewah yang mahal untuk menarik hati raja-raja yang memerintah. Lebih dari pada itu, mereka siap pula membantu raja yang masih kecil untuk bias menjadi besar, raja yang telah dan ingin kembali, raja-raja yang terkurung, dsb.
            Suasana abad XVII mendorong orang untuk berfilsafat murah," siapa kuat mengambang, siapa lemah tenggelam ". Masa itu sudah tiga bangsa agresor yang muncul di perairan Indonesia, yaitu Portugis, Belanda, dan Inggris. Beberapa tahun kemudian muncul pula bangsa asing yang keempat yaitu Prancis, jika bangsa-bangsa ini tidak dihadapi dengan keseriusan, keberanian dan juga kekuatan maka tidak mungkin negeri ini bisa bertahan, bahkan akan dihabisi oleh orang-orang Eropa.
            Dikarenakan hal tersebut, terlihat bahwa cara Iskandar Muda Memimpin mengandung program perluasan wilayah yaitu sebagai berikut:
1.      Menguasai seluruh negeri dan pelabuhan disekitar selat Malaka, dan menetapkan jaminannya wibawa atas negeri-negeri itu sehingga tidak terpengaruh politik devide et impera oleh penjajah barat. Usaha yang dilakukan ini dengan cara mufakat, dan jika jalan ini tidak berhasil, maka dengan jalan drastis.
2.      Mengalahkan Johor, supaya tidak dapat lagi ditunggangi oleh Portugis dan Belanda.
3.      Mengalahkan negeri-negeri sebelah timur Malaya, dan mencapai kemenangan dari musuh yaitu Pahang, Patani, dan lain-lain.
4.      Mengalahkan Portugis dan menakhlukkan Malaka.
5.      Menaikkan harga penjualan hasil bumi untuk ekspor, dengan jalan memusatkan pelabukan samudra di Aceh .

Sejak Iskandar Muda naik tahta kekuasaan atas wilayah aceh sendiri di sebelah timur sampai ke Tamiang, dan disusun kembali dan didaerah barat, terutama diluar Aceh yang sudah dikuasai seperti Natal, Tiku, Pariaman, Salida dan Indrapura. Kembali di percayakan kepada pembesar-pembesar yang cukup berwibawa untuk mengatur  cukai-cukai dan pendapatan kerajaan.
Dari tahun 1606 Belanda lebih memusatkan perhatiannya ke tempat-tempat lain diluar Aceh. Setelah kekalahan Portugis (De Castro), baik Belanda maupun Inggris menjadi sadar bahwa Aceh tidak mudah begitu saja untuk dipukul mundur. Belanda membuat siasat khusus pula. Dia mendahulukan perhatian ke tempat lain, terutama ke Malaka, disamping pulau Jawa, Maluku, dan lain-lain. Semangat belanda memukul portugis sangat terkesan memuncak, dalam perhitungannya dan kekuatan Portugis di Malaka jauh menyusut, Belanda ingin menguasai Malaka untuk dirinya sendiri. Setelah direbut, maka kerajaan Melayu menyusut, dan akan mudah bagi Belanda untuk menhadapi Aceh. Itulah sekilas kedudukan dan ambisi  bangsa Eropa untuk menguasai dan menduduki tanah Aceh.
Daftar Pustaka
Lombard Denys, 1986, Kerajaan Aceh (Sultan Iskandar Muda 1607-1636). Balai Pustaka,
Kartodirjo Sartono, 1999,  Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Said Mohammad, 2007, Aceh Sepanjang Abad. Harian Waspada Medan, Medan.


Post a Comment

 
Top