NURSANTIPA /S/A

            Sidang istimewa (SI) MPR 2001 menyadarkan bangsa Indonesia bahwa proses polotik untuk memilih pemimpin nasional belum berjalan sebagaimana yang diinginkan. Suksesi damai yang diharapkan segenap anak bangsa belum bisa terwujud.
Pelengseran GUS dur lewat SI MPR tidak pelak lagi menjadi bagian catatan panjang suksesi kepemimpinan nasional yang selalu tidak mulus. Setelah Soekarno tersingkir karena peristiwa G-30-S/PKI dan Soeharto
jatuh akibat krisis ekonomi yang disertai kemarahan seluruh lapisan masyarakat.
Catatan buram kembali mewarnai pergantian Presiden RI ke-30, BJ Habibie memilih untuk tidak meneruskan percalonan dirinya kepanggung politik periode 1999-2004. Dan pada 2001, Gus Dus yang terpilih sebagai presiden pilihan anggota DPR RI hasil pemilu 1999 dilengserkan lewat SI MPR dan kemudian Wakil Presiden Megawati dintetapkan sebagai presiden.
Namun, ditengah hiruk pikuk pergeseran pucuk pimpinan tersebut, jejak-jejak demokrasi mulai tampak lebih jelas. DI SI MPR 2001  dilakukan pula pemilihan wakil presiden secara demokratis. Hamzah Has, Ketua Umum PPP, dipilih oleh anggota MPR untuk menduduki kursi wakil pfresiden.
Dalam hajatan pemilihan wakil presiden di SI MPR 2001, sebagaimana diketahui, Hamzah Haz, (bukanlah calon tunggal). Selain Hamzah Haz, ada pula tiga calon lain yakni Akbar Tanjung (Ketua Partai Golkar), SBY (purnawirawan jendral), dan Agum Gumelar (purnawirawan letnan jendral). Mereka disusul oleh anggota MPR.
Kemunculan para kandidat  pemimpinan nasional itu, khususnya SBY  dalam pencalon sebagai wakil presiden yang didukung oleh utusan golongan MPR dan disokong 100 anggota meskipun pada akhirnya kalah, telah melahirkan momentum baru. Sekelompok masyarakat yang bersimpati pada SBY merasa semakin peduli terhadap perkembangan politik.
Beberapa tokoh yang dipelopori kelompok cendekiawan pun mengadakan berbagai pertemuan. Satu hal yang menjadi concern mereka adalah masa depan kepemimpinan nasional. Mereka merasa perlu untuk terus mengusung SBY sebagai kandidat pemimpin nasional di masa depan.
Lewat berbagai pertemuan, para cendekiawan berharap bisa membangun sistem yang dapat memilih pemimpin secara lebih baik, sekaligus juga dapat menata masa depan bangsa dan mendapatkan pemimpin yang diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat kebangsaan dalam menegakkan demokrasi, kebebasan, keadilan HAM, serta harapan terhadap tuntutan pemimpin yang demokratis.[1]
            Sesungguhnya masyarakat dihadapkan pada pilihan yang sulit untuk mewujudkan tatanan baru yang menjadi tujuan utama gerakan reformasi. Pilihan itu terletak pada dua hal utama yang harus dilakukan. Pertama, mendahulukan sistem ketatanegaraan yang diharapkan dapat membuka peluang bagi kelahiran pemimpin bangsa yang ideal. Kedua, pilihan sebaliknya adalah memimpin pemimpin yang akan mampu memimpin bangsa Indonesia menata kembali kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Di tengah wacana dan pemikiran itu muncullah sosok SBY. Nama ini pada kemudian hari semakin hari semakin menarik simpati publik, sebagai bagian wacana pilitik dalam negeri dalam upaya mencari pupuk pimpinan nasional yang ideal. Realitas politik itu telah membangkitkan basis dan wahana perjuangan politik ke depan.
Sosok SBY pula yang kemudian ditangkap sebagian elemen masyarakat sebagai sinyal yang kuat. Inilah tokoh yang dianggap memenuhi impian masyarakat akan pemimpin ideal. Wacana mengusung SBY menjadi pucuk pimpinan nasional pun mulai bergulir.
Mereka yang punya keyakinan bahwa SBY merupakan calon pemimpin ideal kemudian melakukan berbagai pendekatan. Kebetulan pula, pada saat yang sama, SBY pribadi punya kepentingan yang sama. Yakni, menggagas sebuah wadah yang bisa menjadi kendaraan pilitik yang mampu mengusung dirinya dalam pertarungan kepemimpinan nasional pada kemudian hari.
Bagi SBY, mendirikan partai merupakan pemikiran lama. Gagasan dan ide perlunya sebuah partai politik itu didasari kenyataan bahwa banyak partai politik yang belum bisa memenuhi keinginan rakyat banyak. Hal ini terkait dengan realitas politik saat itu, dimana banyak partai yang dianggap tidak bisa memperjuangkan nasib rakyat.
Eksistensi partai politik yang relatif sudah cukup lama berkiprah dan sangat mapan tentu akan mengandalkan kadernya maju sebagai kandidat pemimpin nasional. Artimya, tidak mudah untuk memasukinya begitu saja. Ini membuktikan, siapa yang memiliki cita-cita di masa mendatang untuk mencalonkan diri sebagai persiden atau wakil persiden di Indonesia haruslah memiliki basis partai politik sendiri.
Dengan cara berpikir seperti itu, SBY pun aktif merumuskan berdirinya sebuah partai. Selain didorong oleh kenyataan bahwa di luar sana ada sejumlah orang yang menjadi penyokong kuat dirinya, tanpa partai maka tidak ada kesempatan orang meraih tampuk kekuasaan. "sebenarnya mudah saja bagi SBY masuk ke partai yang sudah ada. Tapi, banyak kendalanya. Kebanyakan partai yang ada masih mengandalkan kadernya sendiri," .
Namun, selalu ada pintu keluar untuk setiap masalah yang muncul. Membangun partai tidaklah harus ditangani sendiri. Yang penting ideologi yang hendak dibangun bisa diteruskan oleh orang lain. Oleh sebab itu, lewat sejumlah pembantu dekatnya, di antaranya Kurdi Mustofa, jaringan komunikasi dengan para pendukung pembentukan partai baru yang modern terus dibangun.
Gayung pun bersambut. Keinginan SBY membentuk partai di satu pihak dan niatan kuat kelompok pendukung di lain pihak dan niatan kuat kelompok pendukung di lain pihak bak ungkapan Jawa "tumbu oleh tutup" . dua kapentingan itu pun bersatu. Lalu terjadilah kasepakatan antara sejumlah tokoh dan SBY untuk mendirikan partai baru bernama Partai Demokrat. [2]
            Dengan ideology itu SBY memiliki harapan besar agar kaum beragama tetap mencintai bangsanya dan kalangan nasionalis juga taat beragama. Inilah tujuan jangka panjang dan partai ini harus memegang prinsipnya."dalam 10 hingga 15 tahun mendatang, partai democrat harus menjadi partai kadar yang terus disempurnakan," kata SBY. Semangat yang digelorakan sby mengilhami para pengurus partai untuk bekerja sungguh-sungguh. Proses sosialisasi partai democrat dilakukan tanpa henti. Meski langkah itu selalu mulus.
Agar kerja pengurus lebih lancar, segala cara sosialisasi dijalankan sebagaimana mestinya. Cara jitu yang kemudian yang diterapkan adalah dengan mengemukakan gagasan kepublik bahwa partai democrat adalah partai yang disiapkan sebagai" kendaraan politik". Sby pula yang dijagokan menjadi ketua umum partai democrat.
Kerja keras pengurus tidak sia-sia. Partai democrat dinyatakan lolos verifikasi oleh KPU. Keberhasilan ini membuat sby merasa bangga. Apalagi ketika partai democrat memperoleh nomor urut 9 dalam pemilu 2004.
Nama sby sebagai calon presiden dari partai democrat rupanya ampuh untuk berkompetisi. Untuk meyakinkan konstituen, para pengurus membawa VCD berisi pidato sby kebanyak tempat. Mangindaan, mantan gubernur Sulawesi utara yang kemudian yang menjadi sekjem partai democrat mengaku kepincut dengan visi misi partai democrat yang kofenrensif.[3]
            Pilihan kepengurusan partai diserahkan ke budisantoso bukanlah tanpa dasar. Sejak awal sby sudah melemparkan wacana bahwa kalau polotikus menjadi mentri, apalagi menjadi presiden, tidak tepat jika harus pula merangkap sebagai pengurus harian, apalagi ketua umum partai politik. Beban sebagai mentri dan presiden itu sangat berat. Jadi harus dipilih tetap sebagai pejabat Negara ataau pengurus partai politik. Mengingat tanggung jawab dia tidak sebatas dilingkup partai semata tapi juga bangsa dan Negara.
Namu demikian, sby terus member motivasi kepada seluruh penguru partai untuk bekerja keras, profesional, dan menjalankan praktek demokrasi secara benar dan jauh dari kekerasan. Tujuan akhirnya adalah bagaimana partai ini bisa memberikan kontribusi dan menelurkan calon pemimpin nasional yang mampu menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Lepas dari semua itu, sby memiliki pandangan bahwa penyelamatan Indonesia kedepan tidak hanya ditentukan oleh hasil suara partai-partai besar dalam pemilu 2004. Karena tidak tertutup kemungkinan datang dari kekuatan alternative yang memiliki konsep bagus.
Kekuatan alternative itu kini mulai tergambar dengan tampilnya partai democrat, yang dijuluki kalangan pers sebagai " bintang pemilu 2004", dan siap mengusung sby yang bepasangan dengan jusufkala dengan pemilihan presiden secara langsung pada 5 juli 2004.
Melejitnya partai democrat dalam 5 besar papan atas partai pemenang pemilu 2004 sulit dipisahkan dari popularitas sby. Hampir semua kalangan, termasuk para kader dan pengurus partai democrat sendiri meyakini, tanpa nama sby partai democrat sulit melambung ke papan atas.[4]

     

 Notes
[1] Akbar Faizal (2005). Partai Demokrat dan SBY. PT Gramedia Utama.  Jakarta. Hal11-30

Daftar pustaka
 Faizal akbar (2005). Partai Demokrat dan SBY. PT Gramedia Utama.  Jakarta. Hal11-30


Post a Comment

 
Top