KIKI AMALIA/ SI 3

Bangsa Belanda datang ke Indonesia pertama kali pada tahun 1596. Rombongan bangsa Belanda dipimpin oleh Cornelius de Houtman dan Pieter Keyzer ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara. Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelius de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan
perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacobvan Neck, van Heemskreck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelius de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten.
Tujuan kedatangan Belanda ke Indonesia adalah untuk berdagang rempah-rempah. setelah berhasil menemukan daerah penghasil rempah-rempah dan keuntungan yang besar, Belanda berusaha untuk mengadakan monopoli perdagangan rempah-rempah dan menjajah.
Pada tanggal 7 Desember 1941, tentara Jepang secara mendadak mengadakan serangan terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour, Hawai. Lima jam setelah peristiwa itu, pemerintah Hindia Belanda mengumumkan perang kepada Jepang. Invasi Jepang ke Asia Tenggara mula-mula ditunjukan ke Hongkong. Meskipun Inggris mengadakan perlawanan, namun tidak berlangsung lama. Pada tanggal 25 Desember 1941, Hongkong resmi diduduki oleh Jepang. Penyerbuan selanjutnya ditunjukan terhadap Malaysia yang merupakan pusat pertahanan Inggris yang vital. Inggris mempertahankan Malaysia secara mati-matian, tetapi akhirnya berhasil dilumpuhkan pada bulan Februari 1942. Serangan berikutnya dilancarkan ke wilayah Burma. Akhirnya, Jepang berhasil menguasai Burma pada bulan Mei 1942.
Daerah yang menjadi serangan berikutnya adalah Filipina. Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jenderal Masaharu Homma mendapat perlawanan yang hebat dari tentara Amerika Serikat di bawah komandan Jenderal Douglas Mac Arthur. Namun, lambat laun, pertempuran pun tidak seimbang, maka Presiden Rooselvelt memerintahkan Mac Arthur mengundurkan diri ke Australia. Sebelum meninggalkan Filipina, Mac Arthur berucap, "I shall return" (saya akan kembali). [1]
Guna mengantisipasi serangan Jepang, negara-negara sekutu di Asia Tenggara membentuk komando gabungan dengan nama Abdacom (American, British, Dutch, Australian, Command). Komandan tertingginya dijabat oleh Marsekal Sir Archibald Wavell (Inggris). Komandan angkatan laut adalah Laksamana Thomas C. Harth (Amerika). Komandan angkatan darat adalah Letnan Jenderal Hein Ter Poorten (Belanda). Dan, komandan angkatan udara adalah Marsekal Richard EC. Pierce (Australia).
Markas besar Abdacom berada di Lembang (Jawa Barat), sedangkan markas besar Angkatan Lautnya di Surabaya. Untuk pertahanan di luar, sekutu membagi daerah perairan Asia Tenggara atas 3 bagian yaitu:
1.                  Wilayah barat, dimulai dari Laut Cina Selatan, Laut Hindia, dan Singapura, merupakan tanggung jawab Inggris.
2.                  Wilayah perairan Makassar terus ke timur menjadi tanggung jawab Amerika dan Australia.
3.                  Sedangkan, Laut Jawa menjadi tanggung jawab Belanda.

Abdacom memiliki sejumlah kelemahan, yakni:
1.                  Jumlah tentaranya tidak memadai dibandingkan dengan jumlah tentara Jepang.
2.                  Mereka tidak pernah mengadakan latihan bersama. Sistem perang maupun sistem komandonya masing-masing berbeda. Sebaliknya, pihak Jepang memiliki tentara dalam jumlah besar. Mereka di bawah satu komando terlatih dan memiliki semangat bushido yang tinggi.
Dalam serangannya terhadap Sekutu di Laut Cina Selatan, kapal Inggris Prince of Wales dan Repulse berhasil ditenggelamkan oleh 50 pengebom berani mati Jepang. Akhirnya, setelah peristiwa itu, Abdacom berantakan. Komandan tertinggi, yaitu Sir Archibald Wavell, akhirnya terpaksa meninggal Indonesia karena sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dan menyingkir ke India untuk mempertahankan India.
Dalam serangannya ke Indonesia, tentara Jepang memperoleh kemajuan yang sangat cepat. Secara gemilang, Jepang menduduki Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942, Palembang pada tanggal 14 Januari, Manado pada tanggal 17 Januari, Balikpapan pada tanggal 22 Januari, Pontianak pada tanggal 22 Februari, dan Bali pada tanggal 26 Februari 1942. [2]
Dalam upaya merebut Pulau Jawa, Jepang membentuk Operasi Gurita. Gurita Barat dimulai dari Indo-Cina melalui Kalimantan Utara dengan sasaran Pulau Jawa. Sedangkan, Gurita Timur dimulai dari Filipina melalui selat Makassar menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Operasi Gurita Barat tidak mengalami kesulitan mendarat di Eretan (Indramayu) dari Banten. Sedangkan, Gurita Timur harus menghadapi Sekutu dalam pertempuran laut dekat Balikpapan (Kalimantan Timur). Juga, di Laut Jawa (The Battle of the java Sea), terutama di perairan antara Bawean, Tuban, dan Laut Rembang berlangsung pertempuran selama 7 jam pada tanggal 27 Februari 1942.
Kemudian dalam rangka usaha menyerbu Kota Bandung, pada tanggal 1 Maret, Jepang telah mendaratkan satu datasemen yang dipimpin oleh Kolonel Toshinori Shoji dengan kekuatan 5.000 orang di Eretan, sebelah barat Cirebon. Pada hari yang sama, Kolonel Shoji telah berhasil menduduki Subang. Momentum itu mereka manfaatkan dengan terus menerobos ke lapangan terbang Kalijati Subang, hanya 40 km dari Bandung. Setelah pertempuran singkat tapi hebat, pasukan-pasukan Jepang merebut lapangan tersebut.
Keesokan harinya, tentara Hindia Belanda berusaha merebut lapangan terbang di Subang kembali, namun ternyata mereka tidak berhasil. Serangan balasan kedua atas Subang dicoba pada tanggal 3 Maret 1942. Dan, sekali lagi, tentara Hindia Belanda dipukul mundur. Pada tanggal 4 Maret 1942, untuk terakhir kalinya, tentara Hindia Belanda mengadakan serangan lagi dalam usaha untuk merebut Kalijati, namun mengalami kegagalan dengan menderita ratusan korban.
Pada tanggal 5 Maret 1942, tentara Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bnadung dari arah utara. Mula-mula, pertahanan Ciater digempur, sehingga Tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikan kota tersebut sebagai pertahanan yang terakhir. Tetapi, tempat ini pun tak berhasil di pertahankan sehingga pada tanggal 7 Maret 1942 petang hari dikuasai oleh tentara Jepang.
Operasi kilat Detasemen Shoji itu telah mengakibatkan kritisnya posisi tentara KNIL dalam pertempuran di Jawa Barat. Sehingga, kapitulasi pasukan-pasukan yang dikonsentrasikan di sekitar Bandung dalam beberapa hari dapat menjadi kemungkinan yang serius. Pada tanggal 6 Maret 1942, keluarlah perintah dari panglima KNIL, Letnan Jenderal Ter Poorten kepada panglima di Jawa Barat, Mayor Jenderal J.J. Pesman tentang tidak dibolehkannya nengadakan pertempuran di Bandung. Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer berpendapat bahwa Bandung saat itu telah penuh sesak dengan penduduk sipil, wanita, dan anak-anak sehingga perlu dicegah pertempuran-pertempuran di kota itu.
Tak lama sesudah berhasil didudukiya posisi tentara KNIL di Lembang, maka pada tanggal 7 Maret 1942, pada petang harinya, pasukan-pasukan Belanda di sekitar Bandung meminta penyerahan lokal. Kolonel Shoji menyampaikan usul penyerahan lokal dari pihak Belanda kepada Jenderal Imamura. Tetapi, tuntutannya adalah penyerahan total daripada semua pasukan Serikat di Jawa (dan bagian Indonesia lainnya). [3]
Jika pihak Belanda tidak mengindahkan ultimatum Jepang, maka kota Bandung akan dibom dari udara. Jenderal Imamura pun mengajukan tuntutan lainnya, yakni agar Gubernur Jenderal Belanda turut dalam perundingan di Kalijati yang diadakan selambat-lambatnya pada hari berikutnya. Jika tuntutan itu dilanggar, pengeboman atas kota Bandung dari udara akan segera dilakukan. Akhirnya, pihak Belanda memenuhi tuntutan jepang. Keesokan harinya, baik Gubernur Jenderal Tjarda van Starkeknborgh Stachouwer maupun Panglima Tentara Hindia Belanda serta beberapa pejabat tinggi militer dan seorang penerjemah berangkat ke Kalijati, Subang. Di sana, mereka kemudian berhadapan dengan Letnan Jenderal Imamura yang datang dari Batavia (Jakarta). Hasil pertemuan antara kedua belah pihak adalah kapitulasi tanpa syarat Angkatan perang Hindia Belanda kepada Jepang.
Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab runtuhnya Hindia Belanda di antaranya sebagai berikut.
1.                  Perundingan yang Gagal
Sebelum serbuan Jepang, pada bulan Februari 1940, Duta Besar Jepang di Den Haag mengajukan sebuah tuntutan kepada pihak Belanda. Permintaan itu meliputi perdagangan Jepang dan Hindia Belanda. Permintaan itu meliputi perdagangan Jepang dan Hindia Belanda harus ditingkatkan. Selain itu, Jepang menghendaki minyak mentah dan bauksit lebih banyak lagi. Warga dan perusahaan Jepang yang diperbolehkan bergerak di daerah jajahan itu dan pers Hindia Belanda harus dilarang untuk  menerbitkan yang "Bersemangat Anti Jepang".
Pemerintah Belanda yang berada di pengungsian London menjawab tuntutan Jepang pada awal bulan Juni 1940. Pemerintah jajahan dapat memasak lebih banyak bausit, walau tidak sebanyak yang diminta oleh Jepang, tidak tidak menjanjikan penambahan pengiriman minyak bumi. Sebab, pemerintah Jepang belum membuat kesepakatan dengan perusahaan eksplorasi tembang sebelumnya. Tuntutan Jepang lainnya ditolak. Namun, Jepang tidak menyerah. Perundingan itu berlangsung selama berbulan-bulan. Hindia Belanda berada di pihak yang sangat lemah karena negeri induk sedang dalam kedudukan musuh dan tidak ada jaminan yang pasti dapat memberikan bantuan apabila keadaan yang tidak diharapkan terjadi. Juga, bantuan Inggris dan Amerika tidak dapat dipastikan.
Perundingan itu menimbulkan kecemasan Amerika. Sebab, apabila tuntutan itu terjadi dipenuhi, maka kekuataan Jepang akan bertambah dan niat ekspansinya akan semakin jelas terwujud. Namun, kecemasan itu tidak terbukti karena Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda Van Starkenborgh menolak seluruh tuntutan Jepang tersebut. Namun, Jepang menanggapi keputusan tersebut dengan menyatakan perang. [4]
2.                  Perang Hindia Belanda dan Jepang
Sasaran utama serbuan Jepang di Hindia Belanda adalah pengeboran minyak di Tarakan, Blaikpapan, dan Palembang. Gerakan maju itu dimungkinkan setelah pertahanan Hindia Belanda di utara Pulau Sulawesi berhasil dilumpuhkan oada tanggal 26 Desember 1941. Kehancuran instansi pengeboran minyak di Tarakan menjadi masalah besar bagi Jepang. Untuk memastikan agar tindakan itu tidak terjadi, dua orang perwira belanda dikirim ke Balikpapan dengan pesan peringatan bahwa seluruh prajurit dan kalangan sipil akan dibunuh jika Jepang tidak memperoleh instansi pertambangan di kota itu dalam keadaan utuh. Sasaran selanjutnya adalah Palembang, sumber minyak mentah yang dihasilkan setengah produksi seluruh Hindia Belanda. Jepang berusaha mencegah sabotase dengan cara melancarkan serangan mendadak pasukan komando.

Itulah dua faktor utama yang penyebab jatuhnya Hindia Belanda. Dengan jatuhnya Hindia Belanda, maka kemenangan Kekaisaran Jepang semakin sempurna. Rintangan Malaya telah dihancurkan, dan pintu gerbang menuju Samudra Hindia telha terbuka. Armada sekutu di Asia Pasifik telah dihancurkan. Dalam waktu tiga bulan saja, Jepang telah menaklukkan Asia Tenggara dan menguasai sumber daya alam yang begitu kaya di daerah selatan. Mereka terjun karena peperangan yang pada akhirnya membawa bencana bagi bangsa Jepang sendiri.
Bagi Belanda, kekalahan yang dideritanya membuat mereka kehilangan wilayah jajahan yang paling besar dan menguntungkan. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila dalam pemeo orang Belanda masa itu terkenal ucapan, "Indie verloren, ramspoed gerboren" yang berarti Hindia Belanda hilang, bencana pun datang, diubah menjadi kalimat lain sebagai berikut, "Indie verloren, Indonesia gerboren" atau Hindia Belanda hilang, Indonesia pun lahir.  Hal ini baru terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945, dan kemerdekaan Indonesia diproklamasikan yaitu setelah tiga setengah tahun pendudukan militer Jepang yang brutal. Dengan demikian, berakhirlah masa penjajahan dalam sejarah bangsa Indonesia. [5]

Note:
[4]        Sudirman, Adi. 2014. Sejarah Lengkap Indonesia; Dari Era Klasik hingga Terkini.
Jogjakarta: Diva Press
[5]        Oktorino, Nino. 2013. Konflik Bersejarah; Runtuhnya Hindia Belanda.
Jakarta: Elex Media Komputindo

Post a Comment

 
Top