PUTRI MUSTIKA/S/A
BIOGRAFI MEGAWATI
Soekarno memiliki seorang anak yang bernama Megawati Soekarno Putri  dalam profil dan biografi Megawati di tulis beliau lahir pada tahun 1947 tanggal 23 januari. Sebagai seorang anak dari mantan presiden, tentu membuat dia menjadi orang yang memiliki wibawa yang sangat tinggi.Akan tetapi, wanita ini tidak bisa menamatkan pendidikan tinggi hingga usai.Hal tersebut di karenakan, ada beberapa masalah yang membuatnya tidak bisa menyelesaikan pendidikan tingginya.
Dalam perjalanan politik seorang megawati ada banyak sekali masalah yang pernah dia hadapi.Semua masalah tersebut akhirnya selesai sejak tahun 1999 ketika dia memutuskan untuk membentuk PDI-P.sebuah catatan  dalam profil dan biografi megawati menyebutkan jika partai yang dia bentuk memang akan digunakan untuk menampung aspirasi rakyat hal tertsebut dikarenakan megawati merasa dalam pemerintahan orde baru aspirasi rakyat tidak didukung. Selain itu, patai yang dia pimpin menang dalam pemilu. Namun demikian, beliau tidak berhasil menjadi presiden karena kalah pada saat pemilhan dewan rakyat karena kalah, megawati pun hanya menjadi wakil presiden.[1]
Karier politik
Jejak politik sang ayah berpengaruh kuat pada diri Megawati Soekarno Putri. Karena sejak mahasiswa, saat kuliah di fakultas Universitas Pajajaran, iya pun selalu aktif di gerakan mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).Tahun 1986 dia mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat.Karier politiknya terbilang meleset.Megawati hanya butuh waktu satu tahun menjadi anggota DPR-RI dalam kongres luar biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya tahun 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum PDI.Namun pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Megawati sebagai ketua umum PDI.Megawati pun di dongkel dalam kongres PDI di M edan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai ketua umum PDI.
Megawati tadak menerima pendongkelan dirinya dan tidak mengakui kengres Medan.Dia masih merasa sebagai ketua umum PDI yang sah.Kantor dan perlengkapan pun masih dikuasai pihak Megawati.Pihak megawati tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor DPP-PDI. Namun, soerjadi ya ng didukung pemerintah memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP-PDI yang terletak di jalan Diponegoro.
Ancaman Soerjadi kemudian menjadi kenayataan. Tanggal 27 juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP-PDI dari pendukung megawati aksi penyerangan yang menyebabkan puluhan pendukung Megawati meninggal itu, berbuntut pada kerusuhan masal di Jakarta yang di kenal dengan nama pperistawa 27 juli kerusuhan itu pula yang membuat bebera[pa aktivis men dekam di , makin mantap mengibarkan perlawanan. Dia memilih jalur hukum, walaupun kemudian kandas di pengadilan.Megawati tetap tidak berhenti.Tak pelak, PDI terpisah menjadi PDI dibawah Soerjadi dan PDI pimpinan Megawati.Pemerintah mengakui Soerjadi sebagai ketua umum yang sah.Namun, masa PDI lerbih berpihak pada Megawati.Keberpihakan masa PDI pada Megawati semakin terlihat pada pemilu 1997.Perolehan suara PDI dibawah Soerjadi merosot tajam.Sebagian masa Megawati berpihak ke partai Persatuan Pembangunan, yang kemudian melahirkan istilah "Mega Bintang".Namun waktu juga yang berpihak kepada Megawati Soekarno Putri.Dia tidak harus menunggu 5 tahun untuk menggantikan posisi presiden Abdur Rahman Wahid, setelah sidang umum 1999 menggagalakannya menjadi presiden.Sidang istimewa MPR, senin (23/7/2001), telah menaikkan statusnya menjadi presiden, setelah presiden Abdur Rahman Wahid di cabut mandatnya oleh MPR-RI.  Masa pemerintahanMegawati ditandai semakin menguiatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam pemerintahanya lah, pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan roses demokratisasi di Indonesia dia mengalami kekalahan (40%-60%) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan harus menyerahkan tonggak ke presidenan kepada Susilo Bambang Yudoyono mantan mentri coordinator pada masa pemerintahanya.
Perjalanan karier
Anggota Gerakan Nasional Indonesia (Bandung); (1965)
Anggota DPR-RI (1993)
Ketua DPC PDI Jakarta Pusat , anggota  Fraksi PDI  DPR-RI (1987-1997)
Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya ( 1993- sekarang)
PDI yang di pimpinnya berganti nama menjadi perjuangan pada 1999-sekarang
Wakil presiden republic di Indonesia (Oktober 1999-23 juli 2001)
Presiden republic indonesia ke-5 (23 juli 2001-2004)
Perjalanan pendidikan
SD perguruan Cikini Jakarta (1954-1959)
SLTP Perguruan Cikini Jakarta (1963-1962)
SLTA Perguruan Cikini Jakarta (1963-1965)
Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (1965-1967);tidak selesai
Fakultas Fisikologi Universitas Indonesia Jakarta (1970-1972); tadak selesai.[2]
Masukanya Megawati kekancah ppolitik, berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke dunia politik.Trauma politik keluarga itu di tabraknya.Megawati tampil menjadi primadona kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicaraternyata memang berhasil.Suara untuk PDI naik.Dan beliau pun terpilih untuk menjadi anggota DPR/MPR.Pada tahun itu pula Megawati terpilih sebagai ketua DPC PDI Jakarta Pusat.Tetapi, kehadiran Megawati di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa.Tampaknya, Megawati tahu bahwa beliau di bawah tekanan.Selain memang sikapnya pendiam, beliau pun memilih unntuk tidak menonjol mengigat kondisi politik saat itu.Maka beliau memilih lebih banyak melakukan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut. Lobi politiknya, yang silent operation,  itu saecara langsung atau tidak langsung, telah memunculkan terbinya bintang mega dalam dunia politik. Pada tahun 1993 dia terpilih menjadi ketua umum DPP PDI.Hal ini sangat mengagetkan pemerintah pada saat itu. Proses naiknya Mega ini merupakan cerita menarik pula. Ketika itu, kongres PDI di medan berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono mengantikan Soerjadi. Lantas, di lanjutkan dengan menyelenggarakan kongres luar biasa di Surabaya. Pada kongres ini, nama Mega muncul dan secara telak mengungguli Budi Hardjono, kandidat yang di dukung oleh pemerintah itu. Mega terpilih sebagai ketua umum PDI. Kemudian status mega sebagai ketua umum PDI dikuatkan lagi oleh musyawarah nasional PDI  di Jakarta.[3]
MEGAWATI, DEMOKRASI, DAN MERITORAKSI
Variabel politik berikutnya yang menentukan laju Megawati dalam meraih kursi kepresidenankembali, juga terletak pada usahanya dalam meyakinkan kepada masyarakat bahwa demokrasi harus dibangun para democrat dengan berbasiskan semangat meritokrasi (prestasi, moralitas dan integrates).Meritokrasi di dalam negeri yang ingin mewujudkan kebebasan berdemokrasi tidak hanya membutuhkan para democrat, sebagai mana kata-kata populer dari W Arthur Lewis dalam Politics in WestAfrica (1964) itu. Seorang propesor asal korea selatan, Yan Ho-Min malah mensyaratkan hal yang lebih spesifik lagi. Katanya untuk menciptakan dan memilihara kebebasan masyarakat yang demokratis, "Harus memilikipemimpin yang mampu memahami persoalan , tahu cara melakukannya". Demokrasi tetap mensyaratkan adanya dukungan personal dalam mengemban amanat kedaulatan rakyat.
Rektrumen Politik Tidak Selektif
tujuan agar upaya menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kubangan krisis bisa tercapai. Persoalan yang disebutkan terakhir inilah yang telah terabaikan dari hasil pemilu 1999 lalu.Shingga, meski sebuah partai polotik berhasil menguasai perolehan suara terbesar, tetapi sosok-sosok yang mewakili partai di parlemen menjadi tidak relawan untuk bisa menjadi penutan. Sebagai partai yang memerintah dalam kurun waktu 1999-2004, seyogyanyalah PDI perjuangan mempelopori pola rekrutmen politisi yang bakal dudukdi parlemen secara selektif berdasarkan indicator meritokrasi.karena demokrasi harus terbangun dengan kepercayaan yang tinngi dari rakyat terhadap mereka yang mewakilkannya di parleman. Rakyat harus yakin dengan wakilnya, bahwa mereka itu memiliki integritas, intelektualitas dan kredibilitas dalam mewujudkan visi kebangsaan dan kenegarawanan melalui beban tugas dan fungsinya sebagai pejabat politik.
Kekecewaan Megawati Kepada Politisi Partainya
Dalam sistem pemilihan langsung oleh rakyat (populer vote) terhadap figur-figur calon presiden dan calon wakil rakyat dari partaipolitik yang akan mengisi kursi di parlemen (DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/ kota),maka popularitas Megawati sangat tergantung pada tata cara PDI Perjuangan dalam proses seleksi dan rekrutmen kadernya yang bakal mengisi lembaga legislatif itu. Karenanya tidak ada pilihan bagi PDI Perjuangan untuk bersifat selektif di dalam memilih kader-kader  partai yang akan ditepatkandi parlemen, sehingga tidak mengulangi kembali pola-pola yang prnah terjadi pada pemilu 1999 lalu. Pada waktu itu, secara tersirat Megawatisendiri mengakui bahwa dirinya dirinya didorong dari bawah agar menekan daftar calon yang di ajukan kepadanya, tampa sempat menyeleksi kapasitas dan integritas mereka. Pengakuan Megawati itu sebenarnya tidaklah mengejutkan, karena prilaku yang mengecewakan dari kader partai yang duduk di perlemen sudah bukan rahasia lagi.Pengakuan Megawati itu setidaknya pula merupakan isyarat bahwa ada keinginan kuat dari dirinya sendiri untuk membangun meritokrasi yang dimulai dari tubuh partai, sehingga wakil rakyat dari PDI Perjuangan betul-betul mencerminkan visi, nilai dan ideology mereka.
Memperbaiki Kebijakan Seleksi Caleg
Implementasi dari keinginan Megawati dalam mewujudkan dalam meritokrasi di kalangan internal partainnya, ditunjukkan dengan usaha memperbaiki kebijakan menyangkut mekanisme dan persyaratan  seleksi calon anggota legilatif ( Caleg ) dari PDI Perjuangan. Hal itu tampaknya terjelmah di dalam kebijakan DPP PDI Perjuangan dengan menerbitkan surat keputusan  (SK) Nomor 267/DPP/KPTS/VI/2003 tentang wewenanng , tata cara Penjaringan, penyaringan dan penetapan Calon Anggota DPRD Kabupaten / Kota, DPRD Propinsi dan DPR-RI dari PDI Perjuangan pada Pemilu 2004. Terlepas apakah terbitnya kebijakan ini dilatari keinginan Megawati sendiri atau bukan,tetapi setidaknya dalam kebijakan ini, PDI Perjuangan mempersyaratkan setiap calon anggota legislative dari partai itu semakin ketat. Setiap caleg PDI Perjuangan setidaknya harus memenuhi 14 syarat. Jika disimak dengan seksama, kebijakan DPP-PDI Perjuangan ini boleh jadi merupakan tindak lanjut dari keinginan Megawati untuk mengkoreksi pola penjaringan dan penyaringan calon anggota legislative dari partai tersebut sebagaimana yang terjadi pada tahun 1999. Dengan kebijakan ini tentu diharapkan citra PDI Perjuangan menjadi lebih baik dengan mengemilinir kemungkinan munculnya calon legislative dari partai yang memiliki latar belakang tidak jelas.Bahkan, untuk menindak lanjutkan kebijakan ini ada juga gagasan untuk melakukan uji publik terhadap setiap calon legislative dari partai yang menjadi mesin politik Megawati ini, layaknya mekanisme di dalam pensahan pemilihan gubernur, bupati dan walikota. [4]
KESIMPULAN
Megawati beliau lahir pada tahun 1947 tanggal 23 januari. Sebagai seorang anak dari mantan presiden, , wanita ini tidak bisa menamatkan pendidikan tinggi hingga usai.Hal tersebut di karenakan, ada beberapa masalah yang membuatnya tidak bisa menyelesaikan pendidikan tingginya.dia pernah bekerja sebagai wartawan ekonomi dan politik di media massa nasional, pekerja telefisi dan dosen tidak tetap pda perguruaan tinggi dijakarta dan senior writer pada rumah produksi audio-visual. Pernah pula bertugas sebagai  tim asisten direksi TVRI untuk persiapan alihstatus yayasan TVRI menjadi PT Persero.
Notes
[1].http://www.profilpedia.com/2014/05/profil-dan-biografi-megawati-
soekarnoputri.html
[2]. http://id.wikipedia.org/wiki/Megawati_Soekarnoputri
 [3]. http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/01/biografi-megawati-soekarno-putri.html
[4]. Gautama,sidarta.2004.Megawati soekarnoputri.Jakarta:Rineka cipta (hal 83-94)
Daftar pustaka
Gautama,sidarta.2004.Megawati soekarnoputri.Jakarta:Rineka cipta (hal 83-94)
http://id.wikipedia.org/wiki/Megawati_Soekarnoputri
http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/01/biografi-megawati-soekarno-putri.html
http://www.profilpedia.com/2014/05/profil-dan-biografi-megawati-soekarnoputri.html

Post a Comment

 
Top