SYAFITRI ARIYANI/SV/B

            Pelaksanaan pelita III di Riau dibawah pimpinan Gubernur Riau ke lima yakni Mayjen TNI Purn.H. Imam Munandar. Ia menggantikan Gubernur Riau H.R Subrantas yang meninggal akibat penyakit kangker hati/ liver pada tahun 1980. Imam Munandar sebelumnya pernah menjabat Pelaksana Harian Operasi Halilintar guna memberantas penyelundupanyang berkedudukan di Tanjung Pinang. Ia terkenal sebagai sosok atasan yang besuara lantang dalam menegur  dan bersikap tegas meskipun dimuka publik.{1}
            Walaupun terkesan kooperatif dan eklusif, ia tetap punya andil dalam pembagunan budaya melayu berupa pembangunan gapura benuansa melayu dan selembayung yang menghiasi gedung-gedung pemrintahan. Dibidang pendidikan tinggi, Imam Munandar mempelopori berdirinya Universitas Lancang Kuning (UNILAK) yang dikelola dan didanai oleh pemerintah Riau untuk mengenyam pendidikan tinggi secara lebih luas walaupun proses ini menharuskan gubernur tangan langsung untuk penyelesaian izin operasionalnya kepihak Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.
            Walaupun pada akhir jabatan pertama Imam Munandar mendapat protes dari ahli-ahli politik, namun sebelumya ia memperoleh gelar Adat dari Siak, yakni Datuk Sri Lela Bijuangsa. Sementara di Rantau Kuantan di anugrahi Gelar Datuk Bandaro Lelo Budi yakni suatu gelar Datuk( Orang Godang Lima Koto di Tengah). Imam Munandar juga berjasa dalam pembangunan perkebunan Kelapa Sawit sehingga sejak itu di Riau terkenal motto, "dibawah minyak di atas minyak", sedikit banyak perkebunan kelapa sawit ini telah ikut mengubah perekonomian Riau.{2}
            Setelah Imam Munandar meninggal dunia kemudian Gubernur Riau dijabta oleh H. Baharuddin Yusuf sebagai pelaksa tugas (Plt).Selanjutnya mentri dalam nengri menunjuk Drs. Atar Sibero yang waktu itu menjabar sebagai Dirjen POUD Depdagri sebagai Carateker yang bertugas memproses pemilihan Gubernur Riau defenitif masa jabatan 1988-1993.
            Pelaksana pelita III di Riau bertolak dari hasil yang dicapai dari hasil Pelita sebelumnya. Landasan pelaksana adalah Trilogi Pembanguna yaitu:
1.      Pemertaan pemebangunan dari hasil-hasil yang menuju pada terciptanya keadilan bagi seluruh rakyat.
2.      Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
3.      Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
Berdasarkan landasan diatas tersebut, maka ditetapkanlah tujuan Pelita III, yaitu:
1.      Meningkatkan taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang makin merata dan adil.
2.      Meletakkan landasan yang kuat untuk tahap pembangunan berikutnya.
Adapun sektor-sektor yang dilaksakan dalam Pelita III antara lain:
a.       Pertanian dan Pengairan
Sector pertanian dan pengairan memang kedudukan utama pada Pelita III, sector ini diusahakan meningkatkan produksi pangan, bahan ekspor, dan tersedianya bahan baku untuk industri. Sektor pertanian telah memberikan sumbangan kepada pendapatan regional yaitu sebanyak 22,38% menurut harga konstan tahun 1975. Tujuan sektor pertanian adalah meningkatkan produksi, meratakan penyebaran hasil produksi, dan memperluas kesempatan kerja. Usaha-usaha yang telah dilakukan ditekenkan kepada intensifikasi, ekstentifikaksi, diversifikasi dan rehabilitas degan pendekatan " Trimatra Pembangunan Pertanian" yaitu keterpaduan pembinaan usaha tani, pengembangan komiditi, dan wilayah pertaniannya.{3}
Perluasan areal pertanian secara keseluruhan dari 7.700 Ha tahun 1979 menjadi 15.500 Ha pada tahun 1983. Produksi padi ditingkatkan 339.956 ton tahun 1978 menjadi 589.419 tahun 1983 sebanyak 33.210 ton. Dalam pembangunan pengairan dilakukan langakah-langkah seperti memperluas areal tanah dana penyedian irigasi, membuka areal persawahn baru, mengurangi akibat-akibat banjir dan mumuskan Pola Rencana Induk Pengembangan Sumber Air.
b.      Peternakan dan Perikanan
Populasi ternak pada Pelita III meliputi Sapi, 18.900 ekor, Kerbau 42.200 ekor, Kambing/ Domba 100.000, Babi 51.300, Ayam Kampung 2.127.000, Itik 250.000 dan Ayam Ras 226.000 ekor. Sementara produksi perikanan mencapai 160. 647 ton atau mengalami peningkatan sebesar 21.395 ton dibandingkan periode sebelumnya.
c.       Pekebunan
Produksi perkebunan berupa peremajaan karet rakyat 8.300 Ha, kelapa rakyat, 4.380 Ha, cengkeh sebanyak 459.500 batang, coklat 100 Ha, jambu mente 2.000 Ha, dan proyek NES II seluas 3.900 Ha. Pembangunan kehutanan ditempuh langkah- langkah perluasan kesempatan kerja, pembinaan para pengusaha kehutanan, peningkatan hasil devisa, peningkatan dan pengembangan cara pengurusan dan pengusahaan hutan guna menunjang mata pencaharian penduduk.
d.      Industri, Pertambangan dan Energi
Industri di kembangkan untuk pembentukan sumber pendapatan regional dari 5,77% tahun 1974 menjadi 6,50% pada tahun 1983. Rata-rata perkembangan industri menurut jenisnya 2.808 buah pada tahun 1979 dan menjadi 3.123 buah tahun 1983.Sektor pertamabangan dan energi mempunyai peranan cukup besar.Produksi minyak bumi mencapai 70% dari produksi Indonesia. Jenis tambang-tambang lainnya ialah timah, bauksit emas dan batu granit. Langkah-langkah yang ditempuh ialah peningkatan eksploitasi dengan tetp memperthatikan lingkungan hidup.Selain itu dilakukan inventarisasi dan penelitian untuk potensi eksploitasi sumber pertambangan dan sumber geologi dengan inventarisasi dan penelitian seluruh daerah Riau, termasuk di kabupaten Kampar dan Indragiri Hulu.
Program Pengembangan Energi dan Listrik meliputi rehabiltasi dan perluasan jaringan di Pekanbaru, Tanjung Pinang, Dumai, Bangkinang, Bagan Siapi-api, Bengkalis, Rengat, Tembilahan, dan Taluk Kuantan. Kelistrikan desa didaearah-daerah Pasir Pangarain, Peranap,Simandolak, Pulau Kijang, Enok, Daik, Tanjung Batu, Selat Panjang, Penyengat, Siak Sri Indrapura, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Uban, Belakang Pandang, Baserah, dan Senggarang. Inventarisasi dan pengembanagan penelitian potensi perlistrikan mikro hidro dilakukan untuk Pasir Pangaraian, Lubuk Ambacang dan Rengat.Daya terpasang selama pelita III 35.112 KW dan efektif sebanyak 26.930 KW.
Pembangunan PLTA Koto Panjang telah berlangsung dari September 1979-2000. Sebelum adanaya gagasan pihak PLN merencanakan pembangunan Dam skla kecil di Tanjung Pauh dalam rangka memanfaatkan potensi Batang Mahat anak sungai Kampar Kanan. Pembanguna PLTA Koto Panjang ini diawali dengan survey oleh TEPSCO (Tokyo Electric Power Service Co. Ltd), sebuah perusahaan konsultan Jepang yang mengirim tim pencarian proyek ke Sumatara. Dari hasil survey yang dilakukan, TEPSCO mengusulkan pembnagunan waduk dengan skala besar, yakni pertemuan antara Kampar Kanan dengan Matang Mahat dengan lokasi Dam sitenya di Daerah Koto Panjang.{4}
e.       Perhubungan dan Pariwisata
Pembanguna Perhubungan dan Pariwisata meliputi enam sub sektor, yaitu:
1.      Prasarana jalan
Prasarana jalan Arteri dan Kolektor denagn kondisi mantap 640 Km, dan tidak mantap 1.445,5 Km. sedangkan jaln Kabupaten atau jalan lokal sepanjang 3. 031,5 Km kondisinya tidak mantap dan kritis. Selama pelita III telah dilakukan perpanjangan jalan dan jembtan masing- masing 3.220 Km untuk jalan dan 5.237 Km untuk jembatan yang tersebar di lima daerah Tingkat II.
Peningkatan jalan dari kondisi kritis menjadi tidak mantap dan dari kondisi tidak mantap menjadi mantap sepanjang 658 Km. penggantian jembatan dilaksanakan sepanjang 2.115 M. pembangunan jembatan baru menggantikan rakit penyebrangan dilaksanakan pula sebanyak lima buah yaitu Jurusan Dumai, Rakit Gadang, Teluk Kuantan, Dalu-dalu, Pasir Pangaraian, Ujung Batu dan Pasir Pangaraian-Sumatara Utara.
2.      Perhubungan Darat
Selama pelita III jumlah kendaraan bermotor meningkat 24% per tahun.Angaka mutlaknya meningkat dari 29.054 unit menjadi 78.847 unit.kendaraan bermotor tersebut terdiri atas bus, mobil barang, mobil penumpang dan sepeda motor.
3.      Perhubungan Laut
Jumlah armada pelayaran rakayat yang terdapat dan beroperasi di wilayah Riau sebanyak 158 unit dengan ukuran 7.411 BRT.Sedangkan armada perairan lokal sebanyak 346 unit denagn ukuran 29.739 BRT. Selain itu terdapat armada pelayaran khusus industri, lepas pantai, nusantara, samudra dan pelayaran khusus umum untuk dalam dan luar negri . Perkembangan yang dicapai selama pelita III juga mencakup perusahaan ekspedisi  muatan kapal laut 26 buah EMKL umum 11 buah, EMKL pelayaran dan perdagangan 9 buanumpangh, kegiatan laut dan bongkar muat  barang-barang serta penumpang selama pelita III berjumlah 47 juta ton M3 dalam negeri dan sekitar 145 juta ton M3 luar negeri. Penumpang sebanyak 35,5 juta orang.
4.      Perhubungan Udara
Sampai dengan pelita III di daerah Riau terdapat 10 buah pelabuhan udara, yaitu:
a.       Pelabuhan simpang tiga Pekanbaru mampu didarati sampai pesawat F-28.
b.      Pelabuhan udara Japura, Rengat, dan Kijang, Tanjung Pinang mampu didarati sampai F-27.
c.       Pelabuhan udara Pinang Kampai Dumai mampu didarati pesawat F-27 dan F-28.
d.      Pelabuahn udara Dabo Pulau Singkep mampu di darati pesawat HS- 748.
e.       Pelabuhan Hang Nadim Pulau Batam mampu didarati pesawat DC-9.
f.       Pelabuhan udara Sungai Pakning mampu didarati pesawat S Kypen.
g.      Pelabuhan udara Ranai di Pulau Natuna dan Pasir Pangaraian mampu didarati oleh pesawat Hercules.
h.      Pelabuhan udara Sei Basti di Tanjung Balai Karimun mampu didarati oleh pesawat Twin Otter.
Perusahaan- perusahaan penerbangan yang beroperasi di Riau adalah GIA, MNA, Saulawah, Pelita Air Service, Caltex, PM AC, dan lain- lain. Pada pelita III ini terjadi peningkatan tajam jumlah penumpang, barang, bagasi, dan pos, baik yang datang (bongkar) maupun yang berangkat (muat).Yang datang meningkat sekitar 25% dan yang datang meningkat sekitar 23%.Barang dan bagasi yang di bongkar masing- masing meningkat sebesar 35% barang dan 21% bagasi.Sedangkan yang muat masing- masing 27% barang dan 22% bagasi.
5.      Pos dan Telekomunikasi
Masa pelita III ini dibangun 3 buah kantor pos dan giro, kantor tambahan 1 buah, dan kantor pembantu 18 buah. Sampai dengan akhir pelita III terdapat 47 kecamatan (62%) yang telah memiliki kantor pos dan giro tambahan di seluruh Riau. Peningkatan jumlah pengiriman pos / pos kilat yang dibongkar sebanyak 21% dan yang di muat sebesar 23%.
Telah di pasang jaringan outomat/ telepon di Pekanbaru sebanyak 3.000 sambungan, Tanjung Pinang 1.000 sambungan, dan Dumai 600 sambungan. Juga membangun jarak jauh (SLJJ) telah dapat di fungsikan di Kota Rengat, Tembilahan, Tanjung Pinang, dan Batam. Demikian radio amatir dan radio antar penduduk telah m,engalami perkembangan yang pesat sesuai dengan kemajuan teknologi dan kemampuan anggota masyarakat. Disamping itu terdapat pula telekomunikasi untuk kepentingan perusahaan seperti PT.CPI, Pertamina, dan Otorita Batam.
6.      Pariwisata
Selama peliata III kinjungan wisatawan ke Riau rata-rata sebanyak 30% pertahun.Dari jumlah tersebut sebanyak 12. 890 (42,90%) berkunjung ke Tanjung Pinang dari Singapura dan Malaysia. Jenis potensi pariwisata yang dapat dikembangkan antara lain wisata budaya seperti komplek Candi Muara Takus, Istana Siak, Istana Gunung Sahilan, Mesjid Raya dan Museum Pekanbaru serta objek-objek sejarah dan purbakala di Pulau Bintan dan Penyengat. Wisata alam dan buatan terdiri dari pantai Nongsa di Batam, Pantai Trikora di kepulawan Riau, Pantai Utara dip ULAU Rupat, Air Terjun Alahan Tapa dan Perbukitan Muara Mahat, Taman dan Bendungan Stanum, Bendungan Tampan 1 dan Tampan 2 di Rumbai.
7.      Agama
Sesuai dengan apa yang di amanatkan GBHN, Maka pembanguna di bidang Agama ditujukkan untuk mewujudkan manusiadan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mampu menciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia maupun dalam hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya. Dalam upaya mencapai tujuan diatas oleh pemerintah Kota Madya Pekanbaru di tetapkan berbagai kebijaksanaan dan sasaran yang dijabarkan dalam berbagai program dan kegiatan yang mungkin dapat dilaksanakan.{5}
Program peningkatan sarana dan prasaran kehidupan beragama dilaksanakan melalui berbagai proyek dan kegiatan seperti membangun tempat peribadatan, pembangunan Balai nikah, dan siding pengadilan agama dan penagdaan kitap suci.Proyek ini dilaksanakan baik melalui bantuan APBN, APBD, Maupun swadaya masyarakat.
8.      Pendidikan
Dalam rangka mewujudkan salah satu peran dan fungsi sebagai pusat pendidikan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Pekanbaru terutama ditujukan untuk memenuhi tuntuhan kebutuhan masyarakat terhadap prasarana dan sarana pendidikan di berbagai jenjang pendidikan.Dengan demikian diharapkan tujuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam GBHN secara bertahap dapat diwujudkan.
9.      Kesehatan
Tujuan pembangunan bidang kesahatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal bagi salah satu unsure kesehatan umum dari tujuan pembangunan nasional.Salah satu usaha mencapai tujuan tersebut adalah melaksanakan upaya pembangunan di bidang kesehatan.Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan sangat ditentukan dari kemampuan menyediakan prasarana dan sarana kesehatan serta prilaku hidup sehat dari masyarakat itu sendiri.
Berbagai upaya dan kebijaksanaan dari pemerintah Pekanbaru telah dilakukan untuk menyediakan prasarana dan sarana kesehatan.Kenyataan menunjukkan dari tahun ketahun jumlahnya terus mengalami peningkatan.
10.  Bela Negara
Dalam rangka pembinaan atau meningkatkan kesadaran masyarakat dalam upaya membela Negara sesuai dengan pasal 30 ayat 1 UUD 1945, telah dilaksanakan berbagai kursus dan latihan di bidang kehansipan seperti latsar/ ratih hansip, linmas, wanra, karma, suskalak b, susukalak a, dan susukapin. Sampai tahun 1988, kekuatan pertahanan sipil telah di bina dalam bentuk berbagai macam kegiatan antara lain latsar 5.626 orang, linmas 988 orang, wanra 164 orang, karma 280 orang, suskalak b 256 orang, suskalak a 75 orang, suskapin 5 orang. dan paced 4 orang.
Notes:
{1}. Suwardi, dkk.Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002. Hlm: 97.
{2}. Suwardi, dkk.Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002. Hlm: 99.
{3}. Suwardi, dkk.Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002. Hlm: 100-101.
{4}. Suwardi, dkk.Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002. Hlm: 103.
{5}. Suwardi, Wan Ghalib, Isjoni, Zulkarnaen.Dari Kebatinan Senapelan ke Bandaraya Pekanbaru. " Menelisik Jejak Sejarah Pekanbaru 1784-2005. Hlm: 169.
DAFTAR PUSTAKA
{1}. Suwardi, dkk. Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002. 2004. Unri Press. Pekanbaru
{2}. Suwardi, Wan Ghalib, Isjoni, Zulkarnaen. Dari Kebatinan Senapelan ke Bandaraya Pekanbaru. " Menenlisik Jejak Sejarah Pekanbaru 1784-2005. 2006. Alfa Riau. Pekanbaru.

Post a Comment

 
Top