FITRI YANI AMRINA / SI 3                        
 Riwayat Hidup Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangattaat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagiandari wilayah Sagi XXV.Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalahketurunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil RatuTajjul Alam di Sumatra Barat.Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalangbangsawan Lampagar.

Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil Cut Nyak Dhienmemperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama.Pendidikan ini selaindiberikan orang tuanya, juga para guru agama. Pengetahuan mengenai rumahtangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-halyang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya.Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Cut Nyak Dhien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.
Cut Nyak Dhien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amatdahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan.Parlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaanbenci yang mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.Cut Nyak Dhien dinikahkan oleh orang tuanya pada usia belia, yaitu tahun 1862dengan Teuku Ibrahim Lamnga putra dari uleebalang Lam Nga XIII.
Perayaan pernikahan dimeriahkan oleh kehadiran penyair terkenal Abdul Karim yangmembawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan perbuatan perbuatan heroik sehingga dapat menggugah semangat bagi yang mendengarkannya, khususnya dalam rangka melawan kafir (Snouck Hourgronje,1985: 107). Setelah dianggap mampu mengurus rumah tangga sendiri, pasangan tersebut pindah dari rumah orang tuanya.Selanjutnya kehidupan rumah tangganya berjalan baik dan harmonis. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.
Awal Mula Kepahlawanan Cut Nyak Dhien dalam Menghadapi Kolonial Belanda
Ketika perang Aceh meletus tahun 1873, suami Cut Nyak Dhien turut aktif di garisdepan sehingga merupakan tokoh peperangan di daerah VI Mukim. Karena ituTeuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya.Cut Nyak Dhienmengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan, bahkan menjadipendorong dan pembakar semangat juang suaminya. Untuk mengobati kerinduanpada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan.
Ketika sesekali suaminya pulang ke rumah, maka yang dibicarakan dan dilakukan Cut Nyak Dhien tak lain adalah hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda. Keterlibatan Cut Nyak Dhien dalam perang Aceh nampak sekali ketika terjadi pembakaran terhadap Mesjid Besar Aceh. Dengan amarah dan semangat yangmenyala-nyala berserulah ia, "Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh!Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Merekamenentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! NamaAllah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yangserupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yangserupa itu?Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?"(SzekelyLulofs, 1951:59).
Bertahun-tahun peperangan kian berkecamuk.Karena keunggulan Belanda dalamhal persenjataan dan adanya pengkhianatan satu per satu benteng pertahanan Acehberjatuhan, termasuk Kuta (benteng) Lampadang.Karena terdesak Cut Nyak Dhienbeserta keluarganya terpaksa mengungsi.Pada sebuah pertempuran di Sela GleeTarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur, yang konon karena penghianatan HabibAbdurrahman. meski kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Cut Nyak Dhien, tapi ini tak membuatnya murung dan mengurung diri.Sebaliknya, semangatjuangnya kian berkobar. Sebagai seorang janda yang masih muda dengan seoranganak, ia tetap ikut bergerilya melawan Belanda. Menurut orang yang dekatdengannya, Cut Nyak Dhien pernah bersumpah hanya akan menikah dengan orangyang turut membantunya melawan Belanda.
Kehadiran seorang figur seperti Teuku Umar yang juga adalah pemimpinperjuangan yang gagah berani, sangatlah berarti bagi rencana perjuangan Tjoet NjakDien.Meski masih saudara sepupu, dia baru bertemu dengan Teuku Umar saatupacara pemakaman suaminya.Karena sama-sama terikat dalam Sabilillah makapasangan ini kemudian menikah pada 1878.Perlawanan terhadap Belanda kian hebat.Beberapa wilayah yang sudah dikuasaiBelanda berhasil direbutnya.Dengan menikahi Cut Nyak Dhien mengakibatkanTeuku Umar kian mendapatkan dukungan.Meskipun telah mempunyai istrisebelumnya, Cut Nyak Dhien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar.
Perempuan inilah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya,mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaanburuknya.Selanjutnya Cut Nyak Dhien terpaksa meninggalkan Montesik, karena kepala Mukimmenyerah pada Belanda.Pada saat itulah Cut Nyak Dhien melahirkan putrinya yangdiberi namaTjoet Gambang yang kemudian dinikahkan dengan Teungku Di Buket,anak laki-laki Teungku Tjik Di Tiro (ulama dan pejuang Aceh, juga merupakan salahseorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia). Anak dan menantu Tjoet NjakDien ini pun gugur sebagai syuhada melawan Belanda.
Peristiwa menggegerkan yang dinamakan "Sandiwara Besar" terjadi ketika TeukuUmar melakukan sumpah setia pada Belanda. Ketika sudah mendapatkan berbagai fasilitas, Teuku Umar justru berbalik melawan Belanda.Kemarahan Belanda membuat Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar beserta para pengikutnya yang setiaterpaksa memasuki hutan rimba.Dari belantara inilah Teuku Umar memimpin perlawanan.Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Cut Nyak Dhien menerima berita duka ini. SepeninggalTeuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin langsung perlawanan.Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dhien mengordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda.
Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan.Lama-lama pasukan Cut Nyak Dhien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya.Usian yakian lanjut, kesehatannya kian menurun. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanansekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasandari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Cut Nyak Dhienmenjadi sangat marah. 'Pang Laot Ali tetap tak sampai hati melihat penderitaanpimpinannya. Akhirnya ia menghianatinya. Kepada Belanda ia melaporkan persembunyiannya dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Cut Nyak Dhien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin langsung perlawanan.Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dhien mengordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda.Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan.Lama-lama pasukan Cut Nyak Dhien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianyakian lanjut, kesehatannya kian menurun. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasan dari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Cut Nyak Dhien menjadi sangat marah. Pang Laot Ali tetap tak sampai hati melihat penderitaan pimpinannya.Akhirnya ia menghianatinya.Kepada Belanda ia melaporkan persembunyiannya dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.
Cut Nyak Dhien dalam Pengasingan
Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat keduabelah tangannya dengan sikap menentang.Dari mulutnya terucap kalimat, "Ya Allahya Tuhan inikah nasib perjuanganku?Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepadakafir".Cut Nyak Dhien marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Sedangkan kepada LetnanVan Vureen yang memimpin operasi penangkapan itu sikap menentang mujahidahini masih nampak dengan mencabut rencong hendak menikamnya.
Penempatan Cut Nyak Dhien di Kutaraja mengundang kedatangan para pengikutnya.Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Cut Nyak Dhien terpaksa dijatuhi hukuman pengasingan ke Pulau Jawa, yang berratimengingkari salah satu butir perjanjiannya dengan Pang Laot Ali.Perjuangan Cut Nyak Dhien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing,sehingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini.Zentgraaffmengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpinperlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.Aceh mengenal GrandesDames (wanita-wanita besar) yang memegang peraxvgnnan penting dalam berbagaisektor.Menjelang akhir hidupnya, di Sumedang, di daerah yang sabngat asing baginya, Cut Nyak Dhien masih juga berperang dalam pertempuran lain, yakni perlawananterhadap penjajahan kebodohan.
Perjuangan Cut Nyak Dhien taktik dan usaha
Ribuan tentara Belanda tewas dan jutaan uang dihabiskan demi mengejar Cut Nyak Dhien. Tokoh tokoh yang membantu perjuangan Cut Nyak Dhien diantaranya adalah Teuku Ali Baet menantunya yang memberikan uang dan senjata kepada rombongan. Ada pula Teuku Raja Nanta, adik Cut Nyak Dhien yang sempat berpisah dari rombongan karena kejaran Belanda, dan akhirnya syahid di pedalaman Meulaboh. Pada saat itu pula .terjadi perlawanan oleh Sultan Muhamammad Daud Syah dan Panglima Polim yang berjuang di daerah Pidie. Dalam perjuangan grilyanya, pendukung setia Cut Nyak Dhien selalu menjaga siang malam dan berpindah dari satu Dalam perjuangannya, Cut Nyak Dhien dibantu oleh para uleebalang, datuk-datuk, serta penyair-penyair tempat ke tempat yang lain untuk menghindari penggerebekan yang dilakukan Belanda yang tidak lain adalah imbas dari pelaporan para pengkhianat yang memberitahukan dimana posisi rombongan Cut Nyak Dhien.
Akibat kematian suaminya, Cut Nyak Dien memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 dan berisi laki-laki dan wanita karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh, selain itu, Cut Nyak Dien semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulitnya memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya, termasuk salah satu pasukannya bernama Pang Laot Ali yang melaporkan lokasi markas Cut Nyak Dien pada Belanda karena iba, selain itu, agar Belanda mau memberinya perawatan medis dan membawa Belanda ke markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu.
Ada 2 Kapten Belanda yang menjabat saat perjuangan Cut Nyak Dhien, yaitu Van Heutz dan Van Dalen.Selama Van Heutz memimpin penjajahan (1898-1904), rakyat Aceh menderita korban sebanyak 20.600 orang. Pada tanggal 8 februari 1904 Van Dalen melakukan perjalanan panjang selama 163 hari kepedalaman Aceh, ia disertai 10 brigade marsose. Tujuannya adalah untuk menumpas habis perlawanan Aceh yang masih aktif di tanah Gayo (Aceh tengah dan Aceh tenggara).
Karena pengejaran habis-habisan tersebut, ruang gerak rombongan Cut Nyak Dhien tedesak, baik dari segi material senjata, bahan makanan yang tersedia, mental berjuang yang semakin kendur, serta fisik yang mulai menurun dikarenakan berbagai faktor yang membuat Cut Nyak Dhien menjadi sakit-sakitan dan terkadang dipapah saat melakukan perpindahan dari satu gubuk ke gubug yang lain.
Kondisi ini membuat Pang Laot, salah seorang pengikut setia Cut Nyak Dhien mengusulkan kepada Cut Nyak Dhien untuk menghentikan perlawanan dan menjaga kesehatannya dalam perawatan Belanda, namun Cut Nyak Dhien meresponnya dengan kemarahan sambil mengeluarkan perkataan: "lebih baik aku mati di rimba daripada menyerah kepada kafir Kompeni".
Namun, dengan berat hati, Pang Laot akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda dan memberitahukan kepada Belanda di mana keberadaan Cut Nyak Dhien, dengan perundingan kepada Jendral Van Nuuren bahwa Cut Nyak Dhien akan dirawat sebagai seorang Pahlawan dan tidak akan dijauhkan dari masyarakat Aceh yang dicintainya. Perundingan ini disetujui oleh jendral Van Veltman Atas kesepakatan itu, pada tanggak 23 Oktober 1905, Van Veltman mengerahkan pasukannya sebanyak 6 brigade (120 bayonet) ke daerah Pameue. Terjadi perlawanan dari para pengikut Cut Nyak Dhien, namun jumlah serdadu yang sangat minim membuat pasukan Aceh yang dipimpin Panglima Habib Panjang kalah, dan sang Panglimai pun syahid ketika hendak menyelamatkan anak buahnya.
Cut Nyak Dhien dikejar sampai ke daerah Beutong, namun sekali lagi paukan Aceh berhasil melarikan diri dengan jumlah yang sangat sedikit untuk melindungi Cut Nyak Dhien. Pada tanggal 7 november 1905, seorang anak kecil kurir Cut Nyak Dhien berhasil ditangkap oleh pang Laot dan dimintai keterangannya tentang keberadaan Cut Nyak Dhien. Berita itu membuat jendral Van Veltmen langsung memerintahkan pasukannya untuk bergerak.Akhirnya pencarian pun berakhir, Cut Nyak Dhien ditemukan, namun Cut Gambang putri Cut Nyak Dhien berhasil melarikan diri dengan lukak di dadanya. Pada saat ditangkap, Cut Nyak Dhien tidak mampu menahan emosinya kepada Pang Laot, Cut Nyak Dhien melontarkan sumpah serapah baik kepada Pang Laot, maupun kepada Belanda yang pada saat itu memperlihatkan sikap hormat.
Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda sehingga Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian, dan Pang Karim, pasukannya berkata akan menjadi orang terakhir yang melindungi Dien sampai kematiannya. Akibat Cut Nyak Dhien memiliki penyakit rabun, ia tertangkap dan ia mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh, namun aksinya berhasil dihentikan oleh Belanda. Ia ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Ia dipindah ke Sumedang berdasarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907 : 12). Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan ia terus melanjutkan perlawanan yang sudah dilakukan ayah dan ibunya.
Setelah ia ditangkap, ia dibawa ke Banda Aceh dan dirawat disitu. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Belanda takut bahwa kehadirannya akan membuat semangat perlawanan, selain itu karena terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk, akhirnya Belanda kesal, jadi ia dibuang ke Sumedang, Jawa Barat.
Untuk beberapa saat, Cut Nyak Dhien diperlakukan sebagai seorang Pahlawan oleh Belanda, diberika fasilitas dan pelayanan yang baik. Namun rasa simpati dari rakyat tidak pernah hilang kepada Cut Nyak Dhie, membuat Cut Nyak Dhien sering dikunjungi oleh para masyarakat. Keadaan ini membuat Van Daalen selaku Gubernur Belanda merasa cemas dan mengusulkan untuk mengasingkan Cut Nyak Dhien ke Sumedang agar jauh dari rakyat Aceh.
Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja, selain itu, tahanan laki-laki juga mendemonstrasikan perhatian pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Sampai kematiannya, masyarakat Sumedang tidak tahu siapa Cut Nyak Dhien yang mereka sebut "Ibu Perbu" (Ratu). Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien yang tidak dapat bicara bahasanya merupakan sarjana Islam, sehingga ia disebut Ibu Perbu. Ia mengajar Al-Quran di Sumedang sampai kematiannya pada tanggal 8 November 1908. Saat Sumedang sudah beralih generasi dan gelar Ibu Perbu telah hilang pada tahun 1960-an, dari keterangan dari pemerintah Belanda, diketahui bahwa perempuan tersebut merupakan pahlawan dari Aceh yang diasingkan berdasarkan Surat Keputusan No 23 (Kolonial Verslag 1907 : 12).
Wafatnya Cut Nyak Dhien
Setelah ia dipindah ke Sumedang, pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Pada tahun 1960, orang lokal Sumedang yang mencari tahu kembali siapakah "Ibu Perbu", telah meninggal, namun, informasi datang dari surat resmi pemerintah Belanda pada "Nederland Indische", ditulis oleh Kolonial Verslag, bahwa "Ibu Perbu", pemimpin pemberontakan provinsi Aceh telah dibuang di Sumedang, Jawa Barat. Hanya terdapat satu tahanan politik wanita Aceh yang dikirim ke Sumedang, sehingga disadari bahwa Ibu Perbu adalah Cut Nyak Dhien, "Ratu Jihad" dan diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.
Menurut penjaga makam, makam Cut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh, Ali Hasan.Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan di Belanda.Masyarakat Aceh di Sumedang sering menggelar acara sarasehan, dan pada acara tersebut, peserta berziarah ke makam Cut Nyak Dhien dengan jarak sekitar dua kilometer. Menurut pengurus makam, kumpulan masyarakat Aceh di Bandung sering menggelar acara tahunan dan melakukan ziarah setelah hari pertama Lebaran, selain itu, orang Aceh dari Jakarta melakukan acara Haul setiap bulan November
Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987 dan dapat terlihat melalui monumen peringatan di dekat pintu masuk yang tertulis tentang peresmian makam yang ditandatangani Ibrahim Hasan, Gubernur Daerah Istimewa Aceh di Sumedang tanggal 7 Desember 1987. Makam Cut Nyak Dhien dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beson dengan luas 1.500 m2. Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat banyak batu nissan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama besar dari Sumedang yang pernah dibuang ke Ambon yang bernama H. Sanusi, dan juga keluarga H. Sanusi merupakan pemilik tanah kompleks makam Cut Nyak Dhien.
Pada batu nissan Cut Nyak Dhien, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surat At Taubah dan Al Fajar serta hikayat cerita Aceh.Gerakan Aceh Merdeka melakukan perlawanan di Aceh untuk merdeka dari Republik Indonesia sehingga mengurangi jumlah peziarah ke makam Cut Nyak Dhien, selain itu, daerah makam ini sepi akibat sering diawasi oleh aparat, bahkan tidak ada yang tahu letak makam Cut Nyak Dhien berada di Gunung Puyuh.Kini, makam ini mendapat biaya perawatan dari kotak amal di daerah makam karena pemerintah Sumedang tidak memberikan dana.

Sumber :
Soetrisno Eddy, 100 Pahlawan Nasional 1 dan Sejarah Perjuangan. Jakarta: Ladang Pustaka dan Inti Media. 2001
Muchtaruddin, Ibrahim, Cut Nyak Dhien. Jakarta: Balai Pustaka. 2001.
http://www.kapanlagi.com/clubbing/showthread.php?t=22593

Post a Comment

 
Top